» Info Teknologi » Beras Analog, Harapan dan Tantangan Bagi Ketahanan Pangan Indonesia
15 Agu 2019

Beras masih merupakan primadona yang dikonsumsi di Indonesia. Berbagai penelitian menyebutkan bahwa 95-98% dari jumlah penduduk Indonesia mengkonsumsi beras sebagai bahan makanan pokok. Padahal, Indonesia kaya akan sumber karbohidrat lain yang tidak kalah lezat dan kaya manfaat. Walaupun pemerintah telah cukup lama menggaungkan program diversifikasi pangan, namun kebutuhan masyarakat terhadap beras tetap tidak tergantikan.

Terdapat beberapa alasan mengapa program diversifikasi berjalan tidak sesuai harapan. Diantaranya karena citarasa nasi yang dianggap enak meskipun tanpa lauk, mudah dalam pengolahannya, dan yang terpenting ketersediaan produk dan harga yang cukup stabil.

Salah satu hasil penelitian terkait diversifikasi pangan adalah beras analog. Beras analog adalah beras yang diolah dari bahan non-padi yang memiliki kandungan karbohidrat hampir sama atau lebih dari beras. Dihasilkan dari bahan baku selain padi, seperti singkong, sagu, jagung, dan umbi-umbian.

Walaupun sampai saat ini masih sulit untuk meyakinkan masyarakat untuk beralih mengonsumsi beras analog untuk kebutuhan sehari-hari, namun beras analog ini memiliki potensi besar untuk mengurangi ketergantungan konsumsi terhadap beras. Dilihat dari segi kesehatan, beras ini sangat cocok untuk penderita diabetes karena memiliki kandungan indeks glikemik yang umumnya lebih rendah dibandingkan beras dari padi.

Untuk mendukung program diversifikasi pangan tersebut, BPTP Balitbangtan papua ikut serta dalam koordinasi pengembangan beras analog mix antara sagu, buah merah, dan daun kelor. Sagu yang merupakan makanan pokok masyarakat Papua dapat dikembangkan menjadi beras analog, dengan cara dibentuk seperti butiran beras dan bila dimasak akan menyerupai nasi. Inovasi teknologi Beras Analog Mix ini merupakan buah karya inovasi Mahasiwa Universitas Cendrawasih yang telah menjuarai Lomba Parade Cinta Tanah Air (PCTA) olahan pangan lokal Papua tahun 2018 silam.

Koordinasi tersebut diselenggarakan di Universitas Cendrawasih, dengan dihadiri oleh Kolonel (Laut) Muhaimin dari Kemenhan RI, Kapala BPTP Balitbangtan Papua. Dr. Ir. Muhammad Thamrin, M.Si, Kepala  Balai Karantina Pertanian Kelas I Jayapura drh. Muhlis Natsir, M.Kes, perwakilan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Papua, Balitbangda Prov. Papua, dan Rektor Uncen Dr. Ir. Apolo Safanpo,ST,MT.

Menurut Muhaimin, inovasi teknologi beras analog mix antara sagu, buah merah, dan daun kelor merupakan inovasi yang sangat baik dan bermanfaat sebagai sumbangan bahan pangan untuk masyarakat. Diharapkan beras analog ini dapat berkembang lebih luas lagi di Papua karena semua bahan baku berasal dari bahan-bahan lokal.

 “Sagu memiliki kandungan amilopektin sekitar 75% sehingga sangat baik untuk penderita diabetes. Buah merah mengandung antioksidan, karoten, betakaroten, tokoferol, di samping beberapa zat lain yang meningkatkan daya tahan tubuh, seperti asam oleat, asam linoleat, asam linolenat, dekanoat, omega 3 dan omega 9, yang semuanya merupakan senyawa aktif penangkal terbentuknya radikal bebas dalam tubuh. Sedangkan daun kelor kering bubuk per 100 gram mengandung 205 kalori energi; 27,1 gram protein; 2,3 gram lemak; 38,2 gram karbohidrat; dan 19,2 gram serat.” Kata Drs. I Made Budi M.S. sebagai ahli gizi dan dosen FMIPA Universitas Cendrawasih memberikan penjelasan tentang bahan baku campuran beras analog.

Dr. Muhammad Thamrin menyampaikan bahwa Balitbangtan melalui BPTP di daerah sangat mendukung program pangan alternatif di setiap daerah. BPTP Papua saat ini sedang melakukan pengkajian budidaya dan sosial ekonomi sagu rakyat di Jayapura. Harapannya, masyarakat dapat kembali mengandalkan sagu sebagai konsumsi pangan dan sumber penghasilan ekonomi keluarga melalui olahan pangan lokal.

Pada koordinasi tersebut diharapkan kedepannya tidak hanya sagu yang diolah untuk pangan alternatif namun pada komoditas lainnya seperti Gembili dan Ubi jalar. Diskusi sore itupun diakhiri dengan kesepakatan untuk lebih dahulu mendaftarkan paten beras analog tersebut ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM RI.