» Info Teknologi » Bukti Kesuksesan Perjalanan Panjang NASA 29
23 Agu 2019

Jagung merupakan salah satu komoditas pangan utama di Indonesia. Ketika kebutuhan jagung terus meningkat, tak ayal lagi pemerintah musti mengupayakan beragam cara untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) merespon hal tersebut dengan menciptakan jagung hibrida tongkol ganda dengan kemampuan produksi dua kali lipat dari jagung biasa.

Tidak kurang dari 15 tahun waktu yang diperlukan untuk menciptakan calon varietas unggul jagung hibrida bertongkol ganda yang tahan banting. Beberapa tahun terakhir, jagung hibrida tersebut telah dikenal luas dengan sebutan Nakula Sadewa (NASA) 29, yang merupakan nama dari Presiden Joko Widodo pada acara Hari Pangan Sedunia tahun 2016. NASA 29 memiliki umur panen 100 hari, dengan potensi hasil mencapai 13,5 ton/ha. Selain potensi hasil yang tinggi, jagung ini memiliki ketahanan terhadap penyakit bulai, karat, dan hawar.

Tidak hanya berperan dalam menciptakan varietas unggul, Balitbangtan melalui Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) yang tersebar di 33 Provinsi seluruh Indonesia turut melakukan diseminasi dan pendampingan teknologi inovasi terkait NASA 29. Kesuksesan NASA 29 tercatat mulai dari Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, hingga NTT.

Agustus 2018, Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Sigi merayakan panen raya jagung varietas NASA 29. Pihak pemda berterima kasih dan mengapresiasi Kementerian Pertanian (Kementan) yang telah mendukung pembangunan pertanian di Kabupaten Sigi melalui program Upaya Khusus Padi Jagung Kedelei (Upsus Pajale). Pembangunan pertanian di Sigi menjadi prioritas karena sektor pertanian merupakan andalan dan mata pencaharian sebagian besar masyarakat

Petani di Sigi mengemukakan bahwa varietas NASA 29 mempunyai tongkol ganda sekitar 80 persen dari populasinya dan persentase ini meningkat seiring dengan ketinggian lahan. Produktivitas NASA 29 di Sigi sekitar 11 ton/hektar. Kepala BPTP Balitbangtan Sulteng Andi Baso mengemukakan siap mendukung pengembangan Jagung di Kabupaten Sigi dalam hal pendampingan dan penyediaan benih sumber.

Februari 2019, NASA 29 digadang-gadang makin berkibar di Kaltim, dengan pendampingan BPTP Balitbangtan Kaltim dalam penerapan teknologi Poktan. Setelah sukses dikembangkan di Kabupaten Berau dan Taman Teknologi Pertanian (TTP) Kutai Kartanegara (Kukar), NASA 29 juga sukses dikembangkan di lahan bekas tambang batubara.

Ini menunjukkan bahwa varietas ini sangat prospektif dikembangkan untuk mendukung ketersediaan benih dan program revolusi jagung di Kaltim serta mempercepat Luas Tambah Tanam (LTT) di Kukar. Hal itu terbukti saat panen bersama yang dilakukan di demplot Desa Bangun Rejo, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kukar seluas 1,5 hektar dengan produktivitas mencapai 3,5 ton/hektar.

Dalam upaya mendukung swasembada pangan melalui Upsus Pajale, BPTP Balitbangtan Kaltim telah mengembangkan perbenihan jagung NASA 29 di Desa Bangun Rejo, Tenggarong Seberang, Kutai Kartanegara. Bupati Kukar, Edi Damansyah, mengharapkan pendampingan tersebut diperluas sebagai dukungan dan stimulator bagi kabupaten kukar secara keseluruhan.

Dikabarkan dari NTT pada Juli 2019, tiga Poktan dengan anggota berjumlah total 65 orang berhasil menerapkan teknologi NASA 29 di Desa Alas Selatan, Kecamatan Kobalina Timur, Kabupaten Malaka. Poktan yang merupakan petani binaan BPTP Balitbangtan NTT tersebut  menerapkan teknologi NASA 29 di lahan seluas 20 hektar dengan tata tanam Double Track.

Pertumbuhan NASA 29 di NTT dinilai optimal walaupun terdapat beberapa hambatan alam, seperti terjadinya kondisi anomali yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, kelembaban tanah yang relatif rendah, serta curah hujan yang minim. Kelebihan lain tata tanam double track yang dilakukan di NTT adalah penerapan Model Turiman (tumpangsari tanaman) dengan tanaman kacang hijau dan kacang tanah.