» Info Teknologi » Inpari 36 Lanrang Solusi Endemik Tungro di Sulbar
11 Sep 2019

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) mendapat laporan dari tenaga Fungsional Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) dari Balai Proteksi Mamuju terkait adanya serangan tungro pada musim tanam April-September 2018 seluas 68 ha di Sulawesi Barat. Musim tanam berikutnya Oktober - Maret kembali terjadi kerusakan akibat tungro seluas 50 ha.

Berbekal informasi tersebut, Balitbangtan melalui tim dari Loka Penelitian Penyakit Tungro (Lolittungro) membuat demplot untuk mengintroduksi teknologi Biotaro, yaitu cara budidaya padi tahan tungro kepada petani setempat.

Komponen teknologi yang diperkenalkan adalah varietas tahan tungro Inpari 36 Lanrang, sistem tanam jajar legowo 2:1, penanaman tanaman berbunga seperti refugia di pematang, dan penggunaan biopestisida dari ekstrak sambiloto ditambah dengan metharizium.

Performa pertanaman Inpari 36 Lanrang di lahan demplot sangat baik, yang ditandai dengan penampakan daun bendera yang masih tegak dan berwarna hijau, rata-rata jumlah anakan 21 batang per rumpun, dan saat ini kondisi malai dalam proses pemasakan.

Melihat penampilan tanaman padi ini, respon petani sangat positif dan menyukai performa Inpari 36 Lanrang, sehingga menyampaikan permohonan secara lisan agar VUB dimaksud dapat dikembangkan lebih lanjut di Sulawesi Barat.

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan (Puslitbangtan) Haris Syahbuddin saat meninjau Desa Beru-Beru Kecamatan Kalukku, Kabupaten Mamuju, mendapati respon petani yang begitu mengapresiasi varietas Inpari 36 Lanrang.

Lolittungro diharapkan oleh para petani untuk segera membuat model pengembangan Inpari 36 Lanrang di seluruh wilayah endemik tungro yang ada di Provinsi Sulawesi Barat.