» Info Teknologi » Batang Pisang, Kompos Organik Penutrisi Tanaman yang Ramah Lingkungan
08 Okt 2019

Siapa yang tidak mengenal pohon pisang? Pohon yang sudah tidak asing ini merupakan satu dari beberapa tanaman yang dikenal memiliki berjuta manfaat. Mulai dari bonggol, batang, buah, dan daunnya bisa dipergunakan untuk kebutuhan manusia.

Tahun 2015, Direktorat Hortikultura (Ditjen Horti) mencatat bahwa ternyata pisang adalah salah satu komoditas buah unggulan di Indonesia yang potensi produksinya mencapai mencapai 34,65% dari total produksi buah di Indonesia, dengan luas panen 100.600 Ha. Sebanyak 100,6 juta pohon pisang ditebang setiap tahunnya. Selain semua manfaat tersebut, jika semua bagian dari pohon pisang ini dapat dimanfaatkan sebaik mungkin, tentu menjadi nilai tambah tersendiri.

Dari pohon pisang, dihasilkan buah yang kaya akan vitamin. Daunnya sering dipergunakan sebagai bungkus makanan, sedang jantung pisang dapat dijadikan sayuran dan obat herbal alami. Lalu bagaimana dengan batang pohon pisang?

Ternyata batang pohong pisang yang sering kali terbuang percuma, bahkan menjadi limbah organik, dengan pengolahan yang mudah dan murah, dapat diubah menjadi kompos. Belum banyak petani yang mengetahui bahwa batang pohon pisang ini dapat digunakan sebagai penyubur tanah karena banyak mengandung unsur hara yang dibutuhkan tanaman.

Kandungan batang pisang yang utama adalah nitrogen, yang berperan penting dalam  pembentukan vegetatif bagian tanaman baik akar, batang, dan daun. Tanaman yang kekurangan nitrogen akan mengalami tanda-tanda daun kuning dan gugur. Dalam batang pohon pisang juga terdapat kandungan yang dapat digunakan sebagai perangsang fotosintesis untuk penghijauan daun dan membentuk persenyawaan organik serta merangsang mikroorganisme dalam tanah.

Proses pembuatan kompos dari batang pisang tergolong mudah dengan bahan serta alat yang dapat ditemui disekitar kita. Hanya membutuhkan kemauan dan tenaga untuk mengolahnya.

Bila ingin menghasilkan kompos dengan baik, batang pisang harus dicincang terlebih dahulu. Batang pisang memiliki struktur seperti pelepah yang mudah diambil satu demi satu dengan menggunakan pisau.

Semakin kecil ukuran batang pisang, akan semakin mempercepat proses pengomposan. Selain itu, lapisan yang dipotong lebih kecil akan memudahkan pencampuran dengan bahan kompos lainnya. Hasil cacahan tersebut kemudian dianginkan hingga agak kering.

Kualitas kompos akan lebih baik bila dicampur dengan bahan lain sehingga memperkaya komponen kompos yang akan dihasilkan. Bahan yang dicampurkan tersebut tentu dengan melihat ketersediaan bahan lainnya.

Semua limbah pertanian bisa dimanfaatkan menjadi bahan tambahan selain batang pohon pisang. Bahan-bahan tersebut seperti pupuk kandang, serbuk gergaji, dan arang sekam.

Bahan yang sudah tercampur rata dimasukkan ke dalam bak pengomposan selama 1-1,5 bulan dengan pengadukan seminggu sekali. Secara sederhana, bak pengomposan bisa dibuat dengan memanfaatkan lahan berbentuk lubang di sekitar lahan kebun pisang. Lubang tersebut selanjutnya ditutup dengan menggunakan penutup terpal plastik.

Setelah proses pengomposan berakhir, akan terlihat perubahan warna dan kontur dari percampuran batang pisang tadi. Setelah itu, kompos siap diaplikasikan pada tanaman.

Kompos dari batang pisang ini sangat bermanfaat dan harganya relatif terjangkau, bahkan dapat dibuat sendiri oleh petani. Selain menyuburkan tanaman, kompos dari batang pisang ini juga dapat memperbaiki struktur tanah dan ramah lingkungan.