» Info Teknologi » Mekanisasi untuk Tingkatkan Produksi Jagung
09 Okt 2019

Kementerian Pertanian berupaya mengembangkan produksi jagung pada lahan yang luas dengan membentuk korporasi petani, dimana petani berperan sebagai pelaku bisnis. Untuk menghemat tenaga, waktu, dan biaya maka penggunaan mekanisasi mutlak diperlukan, mulai dari persiapan lahan dan pengolahan lahan. Misalnya, menggunakan traktor (TR4) atau hand traktor (TR2), yang hanya butuh waktu 6 jam per hektar untuk menyiapkan lahan. 

Peneliti bidang Agronomi Balai Penelitian Lahan Rawa (Balittra) Mawardi mengatakan, penyiapan lahan dilakukan dengan pengolahan tanah sebanyak dua kali. Pengolahan pertama bertujuan meratakan tanah, membongkar gulma yang masih tumbuh dan menghancurkan sisa-sisa tanaman. Ada baiknya pentraktoran bekas-bekas serasah hasil panen disemprot dengan trichoderma (EM4) agar hancur sempurna.

“Pengolahan tanah ke dua dilakukan setelah pemberian pupuk kandang dan kapur, agar tercampur merata. Pengolahan tanah kedua juga bertujuan untuk meratakan tanah agar memudahkan tanam, dengan menggunakan alat tanam,” tambah Mawardi saat Bimbingan Teknologi (Bimtek) Persiapan dan Percepatan Tanam Upsus Pajale akhir September lalu.

Selain pengolahan tanah secara mekanisasi, penanaman juga dapat dilakukan dengan bantuan alat tanam untuk menghemat dan mempercepat waktu tanam sehingga selisih umur tanaman tidak jauh beda. Penanaman dengan alat tanam jenis Herculis berbahan metal hanya membutuhkan 1- 2 hari per hektar, dan cukup satu orang tenaga kerja saja yang melakukan. 

Alat tanam bisa dilengkapi pula dengan pemupukan sekaligus. Alat ini akan melobangi tanah, menanam benih jagung, dan menutup kembali setelah lobang terisi benih jagung. 

Jarak tanamnya pun bisa diatur mulai 10 cm, 15 cm, 25 cm, 35 dan 45 cm sesuai kebutuhan yang diinginkan. Mengatur sistem tanam bisa dilakukan dengan mengatur jarak dan awal tanam, misalnya dengan double row system dan zig-zag. Penggunaan alat mekanisasi dalam sistem tanam ini memerlukan jarak tanam yang sesuai sehingga perlu perancangan dan memperhatikan penggunakan alat mekanisasi selanjutnya.

Misal, jika membumbun menggunakan cultivator, maka jarak lorong harus 75 cm. Atau jika nantinya panen dengan menggunakan alat panen tongkol, maka harus memilih sistem tanam tunggal atau zig-zag dengan jarak tanam antar baris tidak melebihi 12 cm. 

Mekanisasi pada kegiatan pembumbunan dilakukan dengan memanfaatkan alat mesin yang disebut multivator. Pembumbunan diperlukan agar tanaman jagung tumbuh lebih kuat, tidak mudah rubuh, dan merangsang akar kedua (second root) dan ketiga tumbuh lebih cepat sehingga penyerapan unsur hara bisa maksimal.

Dengan multivator, pembumbunan dapat selesai dalam 1-2 hari oleh satu orang tenaga kerja pada lahan 1 hektar, sehingga sangat menghemat waktu dan biaya.  

"Bandingkan dengan pembumbunan secara manual yang memakan waktu 5-6 hari dengan 10 orang tenaga kerja," ujar Mawardi.

Kebutuhan air untuk tanaman jagung pada musim kemarau harus terpenuhi agar tidak layu dan produksi tetap tinggi. Hal ini bisa disiasati dengan menggunakan big gun, yang semburan airnya berbentuk hujan dengan jangkauan sampai 20 m. Putaran airnya bisa diatur 360 derajat atau 180 derajat atau 45 derajat, sehingga air bisa tersebar secara merata sesuai kebutuhan. 

Sumber air dari sungai atau danau dapat dialirkan ke bak penampung menggunakan tenaga surya atau pompa hidran sehingga menghemat biaya dan secara otomatis mengalir secara kontinyu. 

Pemakaian alat mekanisasi juga dapat dimanfaatkan untuk kegiatan panen jagung. Alat panen tongkol jagung memiliki beberapa keunggulan diantaranya mudah dan cepat, serta bisa dioperasikan oleh 1 orang tenaga kerja. Jika buah masih basah bisa di jemur kembali sebelum dipipil sehingga kerusakan dapat dihindari.

"Alat panen jagung digunakan pada saat batang tanam masih basah atau hidup sehingga dapat dipotong dan dihancurkan sempurna. Kelebihan lainnya, setelah selesai panen lahan akan terlihat bersih dan rapi, siap untuk di olah kembali," jelas Mawardi.

Sumber : Balai Penelitian Lahan Rawa