» Info Teknologi » Inovasi Benih TSS Bawang Merah Mulai Dikembangkan di Bengkulu
03 Des 2019

Selama dua hari (15-16/11/2019), Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Bengkulu mendampingi Kepala Sub Direktorat (Kasubdit) Bawang dan Sayuran Umbi, Direktorat Sayuran dan Tanaman Obat, Direktorat Jenderal Hortikultura, Ir. Dessi Rahmaniar, MSi, melakukan monitoring dan evaluasi lapang progres pelaksanaan kegiatan pengembangan bawang merah menggunakan benih asal umbi dan asal biji (True Shallot Seed/TSS). Kegiatan tersebut dilakukan bersama Dinas Pertanian Kabupaten Kepahiang dan Rejang Lebong.

Kementerian Pertanian tahun 2019 ini mengembangkan komoditas bawang merah seluas 25 ha di Kabupaten Kepahiang dan 25 ha di Kabupaten Rejang Lebong. Kedua daerah tersebut memang merupakan wilayah pengembangan komoditas bawang merah di Provinsi Bengkulu. Dari total luas tersebut, pengembangan bawang merah menggunakan benih asal umbi seluas 40 ha dan TSS seluas 10 ha.

“Kendala yang dihadapi dalam pengembangan bawang merah asal TSS adalah musim kemarau yang berkepanjangan baik di Kabupaten Kepahiang maupun Rejang Lebong”, ungkap Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kepahiang. Hal tersebut diamini oleh Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Rejang Lebong.

Pengembangan bawang merah asal TSS di Kabupaten Kepahiang bekerja sama dengan beberapa kelompok tani (poktan). Salah satunya adalah Poktan Serumpun Jaya di Desa Imigrasi Permu, Kecamatan Kepahiang, yang sebagian besar beranggotakan petani milenial. Menurut beberapa petani milenial tersebut, pengembangan dengan benih TSS ini memberikan hasil yang cukup baik.

Ketua Poktan, Robi Ishar mengungkapkan bahwa anggota poktannya baru kali ini menanam bawang merah, dan baru kali ini juga menanam bawang merah berasal dari biji TSS. Petani biasanya menanam cabai, tomat dan sayuran lainnya.

"Mereka belajar menanam bawang merah asal TSS ini sesuai dengan petunjuk teknis yang diberikan. Benih TSS disemai sampai umur 45 hari dan selanjutnya pindah tanam ke bedengan. Saat ini, tanaman bawang merah asal TSS yang mereka tanam sudah berumur 2 bulan," ungkap Robi. Saat kunjungan lapang tampak tanaman sudah berumbi pecah dua dan tiga. 

Tak jauh beda dengan Kepahiang, pengembangan bawang merah asal TSS di Kabupaten Rejang Lebong yang dilakukan oleh Poktan Karya Mandiri, di Desa Empat Suku Menanti, Kecamatan Sindang Dataran, saat ini telah berumur sekitar satu minggu. Perkembangan fisik yang tampak terlihat cukup baik. 

Dari hasil kunjungan lapang ini, Kepala BPTP Balitbangtan Bengkulu, Dr. Yudi Sastro, S.P, MP, menyatakan siap mendampingi pemerintah daerah dan petani dalam hal inovasi teknologi budidaya bawang merah asal TSS ini. Yudi optimis karena Badan Litbang Pertanian telah menghasilkan teknologi budidaya produksi lipat ganda (proliga) bawang merah yang memiliki beberapa komponen teknologi, antara lain penggunaan benih asal TSS, jarak tanam rapat, dosis pemupukan dan teknik pemupukan yang tepat, pengendalian hama dan penyakit terpadu.

"Pengalaman budidaya bawang merah di Provinsi Sumatera Barat dengan penerapan paket lengkap teknologi proliga bawang merah dapat menghasilkan umbi bawang merah sebesar 36 ton/ha. Semoga petani di Kabupaten Kepahiang dan Rejang Lebong dapat memperoleh hasil yang serupa", harap Yudi.

Sumber: BPTP Bengkulu