» Info Teknologi » Pengembangan Tanaman Pakan Ternak di Lahan Bekas Tambang Timah
02 Des 2019

Pengembangan ternak ruminansia dipengaruhi oleh ketersediaan hijauan pakan. Alokasi lahan untuk produksi hijauan biasanya pada lahan marjinal. Lahan bekas tambang merupakan salah satu alternative sumberdaya lahan  yang dapat digunakan untuk budidaya Tanaman Pakan Ternak(TPT) .

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui Balai Penelitian Ternak (Balitnak) melakukan penelitian mengenai pengembangan tanaman pakan ternak di lahan bekas tambang timah. Lokasi penelitian adalah lahan bekas tambang timah di Bukit Kijang, Bangka Tengah.

Kondisi lahan bekas tambang timah (tekstur dominan pasir, kapasitas memegang air (water holding capacity) rendah. Tanah cepat kering dan tanaman mudah mengalami kekeringan. Kondisi tanah pada lahan bekas tambang memiliki tingkat kesuburan yang sangat rendah,  tidak stabil, aktivtas mikroba tanah  rendah, struktur tidak stabil dan sangat miskin bahan organik. Oleh karena itu pengelolaan lahan bekas tambang timah untuk  menjadi area yang lebih produktif memerlukan strategi.

Petani-peternak di wilayah lahan bekas tambang biasanya menggunakan rumput liar, limbah pertanian, sebagai sumber pakan ternaknya.  Lahan bekas tambang timah yang relatif luas, memberikan peluang untuk mengembangkan TPT sebagai sumber hijauan pakan, penutup tanah, pengontrol erosi, sumber bahan organik, biomasa energi, dan agen fitoremediasi.

Untuk budidaya Tanaman Pakan Ternak di Lahan Bekas Tambang Timah pertama harus membuat lubang tanam ukuran 20 x 20 cm, kedalaman 20 – 25 cm. kemudian masukkan pupuk kandang kedalam lubang, 24 t/ha (2 kg/lubang),  pupuk KCl dan TSP masing masing 100 kg/ha (5 gram/lubang), dan urea 200 kg/ha (10 gram/lubang).

Bahan tanam (rumput stek, anakan, sobekan rumpun) dapat ditanam langsung di lapang. Untuk bahan tanam stek pilih batang yang tidak terlalu muda dan potong 2 – 3 buku. Posisi tanam 30 – 40o  dengan 1 – 2 buku masuk kedalam tanah.

Untuk bahan tanaman anakan, tiap lubang digunakan 2 – 3 anakan. Jarak tanam antar lubang sekitar 0,5 x 0,5 m. Setelah ditanam perlu dilakukan penyiraman. Jika menanam Leguminosa, ditanam dengan biji dan disemaikan di polybag 2 bulan.

Setelah penanaman, gulma harus dibersihkan secara rutin. Pemanenan awal pada  umur 3 bulan dan Interval panen 60 hari dengan tinggi potong  10 – 15 cm. Pengamatan meliputi produksi dan kualitas hijauan serta kandungan logam

Produksi hijauan pakan di lahan bekas tambang timah, daya dukung untuk ternak sapi adalah 6,3 – 13,6 ST/th/ha. Kualitas hijauan di lahan tambang timah protein kasar rumput 6,0 - 10,19%,leguminosa 18,4 -29,0% Kecernaan bahan kering rumput 73,56% dan Leguminosa 82,14%.

Jenis pakan ternak yang adaptif pada lahan bekas tambang timah adalah Arachis pintoi (Kacang Pinto), Clitoria ternate (Kembang Telang), Stylosanthes guiyannensi (Stilo), Pennisetum purpureum cv Taiwan, Pennisetum purpureum cv  Mott (Rumput Gajah) dan Indigofera Zollengeriana