» Info Teknologi » Budesari Kedelai Jagung Tingkatkan Pendapatan Petani
09 Des 2019

Pembangunan pertanian memiliki sasaran utama meningkatkan ketahanan pangan dan kesejahteraan petani, diantaranya dengan peningkatan produksi jagung dan kedelai nasional. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) telah mengembangan berbagai cara dan teknologi untuk mewujudkan hal tersebut. Salah satunya dengan budidaya tumpangsari antara jagung dan kedelai.

Dalam lima tahun ke belakang, penanaman jagung oleh petani cukup baik dan produksinya terus meningkat. Cara tanam jagung yang diterapkan petani umumnya monokultur dengan jarak tanam 80 cm x 40 cm, dua tanaman per lubang, atau 80 cm x 20 cm satu tanaman/lubang dengan populasi sekitar 62.500 tanaman/ha.

Dengan cara tanam tersebut, produktivitas tanaman jagung petani berkisar antara 5,5 hingga 8,5 t/ha biji kering dengan perolehan keuntungan antara Rp13.900.000,- hingga Rp24.500.000,00 per hektar.

Budesari atau budi daya tumpangsari dapat meningkatkan produksi dan pendapatan dengan menanam jagung tumpangsari dengan kedelai. Petani bisa mendapatkan hasil jagung 4,8 – 8,2 t/ha dan kedelai 0,8 – 1,3 t/ha, dengan keuntungan meningkatkan menjadi 16,4 – 25,5 juta rupiah/ha. Rentang produktivitas jagung dan kedelai tersebut cukup besar karena bergantung pada jenis varietas jagung dan kedelai yang digunakan.

Penataan tanaman jagung yakni tanam baris ganda (40 x 20) cm x 200 cm satu tanaman/lubang (populasi tetap sekitar 62.500 tanaman/ha). Di antara lorong baris ganda tanaman jagung masih dapat ditanami lima baris kedelai dengan jarak tanam 30 cm x 15 cm atau populasi tanaman kedelai mencapai sekitar 62% dari monokultur.

Semakin subur tanaman jagung yang ditumpangsarikan, hasil kedelai semakin rendah karena efek naungan. Pada tingkat naungan jagung 40–60%, varietas kedelai Dega 1 atau Argomulyo (umur pendek) mampu tumbuh dan memberikan hasil lebih baik dibanding varietas yang berumur lebih panjang.

Beberapa keuntungan yang diperoleh dari Budesari ini antara lain (1) Produktivitas lahan meningkat, karena dalam musim tanam yang sama dapat dilakukan panen lebih dari satu kali, (2) Hemat biaya pengolahan tanah dan perawatan tanaman, (3) Menekan resiko kerugian akibat gagal panen, (4) Mendapatkan keuntungan lebih tinggi, karena setiap tanaman memiliki nilai jual yang berbeda.

Sumber : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Informasi lebih lanjut : Budesari