» Info Teknologi » Drone Penebar Benih Padi Dan Penebar Pupuk Granul
13 Peb 2020

Drone adalah pesawat tanpa awak yang dikendalikan dari jarak jauh dengan menggunakan komputer atau remote cotrol, yang bisa digunakan untuk membawa muatan. Penggunaan drone khususnya untuk pertanian saat ini sangat dibutuhkan karena dianggap lebih efektif dan efisien, sangat baik untuk menghemat waktu, tenaga dan biaya. Selain pengembangan drone sprayer Baadan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui unit kerja Balai Besar pengembangan Mekanisasi Pertanian (BBP Mektan) juga telah mengembangkan drone untuk sebar benih padi dan penebar pupuk granule.

Drone penebar benih untuk tanam sebar benih padi ini adalah modifikasi dari drone penyemprot pestisida. Modifikasi dilakukan dengan cara mengganti penampung benih padi (hopper) dan memasang mengatur pengeluaran benih padi (seed metering devices). Drone ini mempunyai kapasitas muat sekitar 15 kg benih padi, kecepatan tanam 2-3 km/jam dengan ketinggian 1,5-2 m dari permukaan tanah, lebar kerja 4 meter, kapasitas kerja 0,8-1 ha/jam (1,00-1,25 jam/ha). Jumlah benih rata-rata 144 butir/m2, sementara dari perhitungan, kecepatan padi yang ditebar dari drone adalah 6,3 m/det (21,6 km/jam).

Mengoperasikan drone penebar benih padi ini terbilang sederhana. Operator hanya memasukan data program ke remote control. Tangki benih padi atau hopper diisi terlebih dahulu. Dari Kapasitas 15 kg tangki harus diisi 80% bagian saja atau 12 kg dengan bukaan sebesar 70%. Hal ini bertujuan untuk menghindari keluarnya benih padi terhambat akibat mampat atau tersumbat.

Drone bergerak mengikuti titik batas operasional sesuai arahan sistem pemosisi global (GPS), selanjutnya drone akan kembali ke posisi awal ketika indikator baterai menunjukkan sisa baterai 20%. Artinya baterai harus diganti dengan yang terisi penuh, drone pun kembali menuju titik terakhir persebaran benih.

Benih untuk penggunaan drone tidak boleh sembarangan, benih harus dalam kondisi bersih dari debu dan akan lebih baik benih padi dalam kondisi terlapisi (coated seed). Lahan yang akan ditanami juga harus dalam keadaan siap tanam. Artinya bila pertanaman di lakukan di lahan kering, irigasi swah sudah harus tersedia terlebih dahulu. Perlu ditegaskan pula bahwa, irigasi tidak sama dengan penggenangan. Penggenangan lahan sangat dihindari karena dapat menyebabkan lahan berbeda tinggi. Dampaknya benih terkumpul di bagian yang lebih rendah. Olah tanah sawah atau pembajakan juga wajib dilakukan agar benih memiliki media tanam yang baik.

Pertimbangan kondisi cuaca tidak boleh luput sebelum mengaplikasikan drone penebar benih. Pasalnya drone belum dapat dioperasikan dalam kondisi hujan dan berangin kencang. Kecepatan angin yang berlebih sangat berpengaruh terhadap kestabilan terbang drone dan ketepatan penebaran benih padi di sawah.

Drone untuk penebar pupuk granuler, sama dengan drone penebar benih padi, adalah hasil modifikasi drone penyemprot pestisida menjadi drone sebagai penebar pupuk granuler. Modifikasi dilakukan dengan cara mengganti penampung benih padi (hopper) dan memasang serta mengatur pengeluaran pupuk granuler (fertilizer metering devices). Drone penebar pupuk granuler ini dirancang dengan kapasitas muat 15 kg pupuk granuler (tergantung jenis pupuk), kecepatan tanam 2-3 km/jam dengan ketinggian 1,5-2,0 m dari permukaan tanah, lebar kerja 4 meter, kapasitas kerja 0,8-1 ha/jam (1,00-1,25 jam/ha).

Dengan penerapan teknologi ini akan lebih efisien dalam bertani. Jika dihitung akan ada efisiensi harga hingga 40%. Karena, dalam 1 ha pemupukan dengan pemakaian drone hanya membutuhkan biaya Rp1,4 juta. Sedangkan cara konvensional membutuhkan dana hingga lebih dari Rp2 juta.

Untuk diketahui, drone penebar benih padi ini mampu menanam sepuluh kali lebih cepat dibanding manusia. Selain itu, biaya yang dikeluarkan juga lebih hemat hingga setengahnya jika menggunakan drone. (Wira)