» Info Teknologi » Balitbangtan Bangun Kemandirian Benih Tanaman Pangan
20 Mar 2020

Petani dan pertanian sudah pasti tidak terlepas dari yang namanya benih, karena benih merupakan salah satu input dasar dalam kegiatan produksi pertanian. Selain itu, benih juga dapat dijadikan sebagai tolok ukur tingkat kesejahteraan petani.

Petani yang menggunakan benih bermutu, tentunya akan lebih sejahtera dari pada petani yang biasa menggunakan benih asalan. Sebab, dengan menggunakan benih bermutu hasil panen yang diperoleh akan meningkat, dengan potensi provitas yang lebih baik.

Saat ini, ketersediaan benih bermutu/bersertifikat sepenuhnya belum menjangkau keseluruhan areal tanam pada waktu yang tepat di Indonesia. Selain itu, benih VUB (varietas unggul baru) yang dilepas oleh lembaga Riset maupun Perguruan Tinggi, yang menjadi harapan bagi petani tentunya ketersediaannya masih langka di pasar, kios dan toko tani.

Demikian halnya dengan varietas lama dan masih mendominasi pasaran jumlahnya juga dirasakan belum mencukupi. Akibatnya petani selalu menggunakan benih hasil produksi sendiri atau dari petani lain yang kurang dapat dijamin mutunya.

Untuk antisipasi kelangkaan benih tersebut Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan (Puslitbangtan) mendapat tugas  melaksanakan Sekolah Lapang Kedaulatan Pangan Terintegrasi Desa Mandiri Benih (SL-DMB). Model kegiatan tersebut dibuat untuk mengantisipasi kelangkaan benih tanaman pangan seperti padi, jagung dan kedelai yang sering terjadi.  Model SL-DMB dirancang untuk membina petani menjadi lebih mandiri dalam memproduksi benih.

Prof. Dr. I Nyoman Widiarta, Peneliti dari Balitbangtan, menyampaikan bahwa SL-DMB telah disiapkan oleh Balitbangtan melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan (Puslitbangtan) sejak tahun 2015. Hal itu untuk mengantisipasi kelangkaan benih dan kemandirian petani dalam memproduksi benih yang bermutu.

“Model Desa Mandiri Benih telah dikembangkan dibeberapa provinsi, hingga saat ini ada 48 unit Desa Mandiri Benih padi di 13 provinsi, 15 unit Desa Mandiri Benih jagung di 6 provinsi  dan 25 Desa Mandiri Benih kedelai di 10 provinsi,” ujar Nyoman.

Kegiatan SL-DMB dilaksanakan melalui jaringan UPBS Balai Penelitian dan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP), selanjutnya petani didampingi untuk praktek langsung dalam memproduksi benih. Sampai saat ini kelompok Desa Mandiri Benih telah diklasifikasikan menjadi pemula, madya, dan mandiri berkelanjutan. Lebih lanjut Nyoman berharap petani terus mengembangkannya dengan menerapkan rencana bisnis dan membangun korporasi dan kemitraan untuk sertifikasi serta pemasaran.

Hasil kegiatan Desa Mandiri Benih yang telah dilaksanakan sejak tahun 2016-2019 menyediakan benih VUB padi Inpari 30, 32, 33, 36, 42, 43, jagung hibrida varietas Bima 20 URI dan kedelai varietas Devon 1, 2, Demas, Dega, Dena, Detap. Benih bersertifikat yang diproduksi dalam satu musim sesuai rencana bisnis rata-rata untuk padi 25.723 kg, jagung 9.149 kg dan kedelai 11.471 kg. Adapun mitra yang turut menyalurkan benih hasil SL-DMB ini adalah Kelompok Tani, Koperasi, Dinas dan Swasta. (Uje)

Informasi lebih lanjut: Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan