» Info Teknologi » Molases Tebu Bantu Atasi Kelangkaan Alkohol
10 Apr 2020

Wabah virus corona (Covid19) sebabkan meningkatnya kebutuhan akan alkohol khususnya etanol, baik untuk kebutuhan sterilisasi maupun sanitasi. Salah satu alkohol yang biasa digunakan yaitu bioetanol. Bahan baku untuk pembuatan bioetanol adalah sumber gula, sumber pati dan sumber serat (lignoselulosa).

Molases tebu merupakan produk samping dari industri gula yang dapat dijadikan sebagai salah satu sumber gula. Ketersediaan molases tebu  yang berlimpah berpeluang untuk mendatangkan keuntungan pada biokonversi menjadi etanol. Molases ini memiliki kadar gula yang sangat tinggi, yaitu lebih dari 50%.

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) telah menemukan cara membuat bioethanol dari molases tebut. Prosesnya cukup sederhana dan mudah diaplikasikan, seperti diungkap Kepala Balai Besar Litbang Pasca Panen Pertanian (BB Pasca Panen) Dr. Prayudi Syamsuri. “Pembuatan bioetanol dari molases hanya perlu melewati dua tahap, yakni fermentasi dan destilasi karena molases merupakan jenis bahan gula,” ungkap Prayudi.

Mikroorganisme yang digunakan untuk fermentasi bioetanol ini adalah Saccharomyces cerevisiae. Spesies ini akan memecah bahan berkarbohidrat menjadi etanol dan karbondioksida. Penggunaan Saccharomyces cerevisiae untuk proses fermentasi memerlukan pengkondisian kadar gula awal.

Kadar gula sampel yang akan difermentasi tidak boleh melebihi 20% karena dapat menghambat aktivitas khamir dan tidak sempurnanya produksi bioetanol. Kadar gula yang terlalu tinggi mengakibatkan waktu fermentasi lebih lama dan terdapat kemungkinan tidak seluruh gula diubah menjadi alcohol.

Cara membuatnya, molases tebu dengan nilai total padatan terlarut (TPT) sekitar 70-71 0Brix diencerkan dengan penambahan aquades yang bertujuan untuk menurunkan TPT dalam molases menjadi 15 0Brix. Kemudian,  pH molases yang sudah diencerkan diatur pada pH 5 dengan penambahan NaOH dengan tujuan untuk mengoptimalkan pertumbuhan dari Saccharomyces cerevisiae dari penambahan fermipan. Fermentasi dilakukan pada suhu ruang selama 24, 48 atau 72 jam setelah ditambahkan urea dan ragi. Setelah itu dilakukan destilasi selama 3-4 jam.

Balitbangtan sudah dapat menghasilkan bioetanol dari molases tebu dengan hasil rendemen bioetanol yang tinggi yaitu sekitar 40-45% dengan kadar alkohol diatas 90% dengan 1 kali proses destilasi. Penggunaan molases tebu sebagai pengganti alkohol sudah diaplikasikan juga oleh BB Pasca Panen untuk memproduksi hand sanitizer dan disinfektan. Teknologi tersebut sangat membantu dalam menyediakan ketersediaan etanol yang saat ini mengalami kelangkaan. (EGA)

Informasi lebih lanjut: Balai Besar Litbang Pasca Panen Pertanian