» Info Teknologi » Efisiensi Pupuk Hingga 70% dengan Teknologi Minakodal
15 Mei 2020

Di tengah pandemi Covid-19, berbagai aktivitas sektor pertanian di pelosok negeri tetap bergerak. Petani tetap bekerja dari lahan mereka, mulai dari olah lahan, tanam, hingga panen. Ini menjadi salah satu bukti nyata dalam upaya memenuhi kebutuhan pangan penduduk Indonesia. Seperti yang dilakukan petani di Kampung Parit Bugis, Desa Bintan Buyu, Kecamatan Teluk Bintan, Kabupaten Bintan.

Didampingi oleh penyuluh dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Provinsi Kepaulauan Riau (Kepri), beberapa petani menebar ikan nila merah di lahan salah satu anggota kelompok tani Hidup Bersama bulan April lalu. Petani yang tergabung dalam kelompok tani Hidup Bersama ini mendapat pendampingan dari BPTP Balitbangtan Kepri untuk mengubah strategi pertanian yang selama ini mereka lakukan.

Sebelumnya mereka hanya melakukan pertanian monokultur. Diversifikasi pertanian yang diintroduksikan ini dikenal dengan teknologi mina padi kolam dalam (minakodal). Model Teknologi Minakodal ini merupakan terobosan baru usaha pertanian yang sedang diterapkan BPTP Balitbangtan Kepri. Pengembangan tahap pertama dilakukan di Kampung Parit Bugis Desa Bintan Buyu (0,15 Ha) dan pengembangan tahap kedua dilakukan di Kampung Poyotomo Desa Sri Bintan (0,50 Ha).

Teknologi baru ini ternyata menarik minat pemerintah daerah setempat. Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Kesehatan Hewan (DKPPKH) Provinsi Kepri dan Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bintan, bersama masing-masing stafnya mengunjungi demplot Teknologi Minakodal di Desa Bintan Buyu (27/04/2020).

Dalam kunjungan tersebut, Kepala BPTP Balitbangtan Kepri Dr. Ir. Sugeng Widodo, MP., menjelaskan bahwa Teknologi Minakodal yang diterapkan bertujuan untuk optimalisasi lahan pertanian di Bintan yang jumlahnya terbatas. Teknologi ini menggunakan VUB Padi Inpara 6 dan komponen teknologi jajar legowo 2:1 sehingga semua tanaman optimal mendapatkan sinar matahari.

Pemupukan yang dilakukan adalah pemupukan kimia 1/2 rekomendasi lahan sawah, pemupukan organik takaran 2,50-3,0 Ton/Ha, serta penambahan dolomit 1 Ton/Ha. Selain itu, digunakan terpal pada pinggiran galengan serta ditutup dengan tanah untuk menjaga keawetan terpal yang digunakan.

Ikan nila merah yang ditebar berukuran 7-9 cm, sebanyak 4 ekor per meter persegi lahan. Pemeliharaan ikan dilakukan selama umur tanaman padi, lebih kurang 80 hari.

“Keuntungan dari Minakodal dapat mengurangi penggunaan pupuk hingga 70 persen. Ini karena kotoran ikan dapat menjadi pupuk tanaman. Kotoran ikan bisa jadi pupuk alami dan tidak merusak tanah. Pola Minakodal dapat meningkatkan produksi 20-30% sehingga diharapkan dapat mendukung ketahanan pangan di Provinsi Kepri,” kata Sugeng.

Keuntungan lainnya dikemukakan penyuluh dari BPTP Balitbangtan Kepri, bahwa Minakodal merupakan salah satu sistem budidaya ikan di sawah yang memiliki banyak keuntungan baik dari segi pakan dan pupuk. Ikan dapat mencari banyak pakan alami atau hama yang berada di sawah sehingga mampu menekan biaya pakan.

Pengembangan teknologi tersebut mendapat dukungan penuh oleh Dinas DKPPKH Provinsi Kepri. “Dengan adanya Teknologi Minakodal seperti ini semoga juga dapat meningkatkan produktivitas padi sampai diatas 4,5 Ton/Ha sehingga dapat meningkatkan ekonomi petani,” jelas Izhar.

Hal senada juga disampaikan Kepala Dinas DKPP Kabupaten Bintan. “Dengan Minapadi nilai tambah lahan sawah secara ekonomi  akan nyata didapatkan,” terang Khairul.

Beberapa penyuluh pemerintah daerah yang hadir dalam kunjungan tersebut mengaku tertarik dengan Teknologi Minakodal yang dirintis BPTP Balitbangtan Kepri sejak awal tahun 2020. “Terima kasih BPTP Kepri telah memberikan pembelajaran dan edukasi kepada kami sebagai penyuluh. Semoga ini nanti berhasil dan memberikan nilai tambah bagi petani, sehingga mudah untuk kami tularkan kepada petani lain karena sudah ada contohnya”, ungkap Syahrinaldi, S.P., selaku kordinator penyuluh Kecamatan Teluk Bintan.

Sugeng juga menambahkan terdapat beberapa prasyarat yang harus diperhatikan dalam penentuan lokasi percontohan Teknologi Minakodal. Diantaranya adalah pertimbangan aksesbilitas, agroekosistem lahan sawah, pengembangan komoditas unggulan daerah, potensi sumberdaya alam, ketersediaan sumberdaya manusia, titik ungkit inovasi, dan kondisi kelembagaan ekonomi petani.

Ke depan, pengawalan teknologi ini akan terus dilakukan agar pemeliharaan tanaman padi dan budidaya ikan dapat dilakukan dengan baik sehingga didapatkan hasil optimal. Dengan begitu, kesejahteraan petani akan meningkat karena memperoleh dua hasil sekaligus dalam satu musim tanam, panen padi dan ikan. (EPA)

Sumber/Informasi lebih lanjut: BPTP Balitbangtan Kepulauan Riau