» Info Teknologi » Budidaya Salak dan Pisang, Satu Lahan Dua Keuntungan
09 Jul 2020

Sejak tahun 2019, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) telah mengembangkan budidaya Salak Sari Intan dan Pisang Kepok di Kebun Balai Benih Induk (BBI) Provinsi Kepri.  Dalam setahun, pohon pisang kepok dapat dipanen 2-3 kali.  Petani yang melakukan model budidaya tersebut diharapkan bisa mengambil keuntungan dari panen  pisang kepok sebelum salak mulai berbuah.

Seperti telah diketahui, tanaman salak adalah tanaman yang tidak tahan terhadap sinar matahari. Tanaman ini tumbuh dengan baik jika mendapat 50-70% sinar matahari. Beberapa tanaman yang dapat dijadikan pelingdung adalah tanaman berkayu seperti durian, manga, dan lamtoro.

Kepala BPTP Kepri Dr. Ir. Sugeng Widodo. MP menjelaskan alasan BPTP Balitbangtan Kepri menggunakan pisang kapok sebagai tanaman pelindung salak karena kemudahan dalam budidaya, serta daunnya yang lebar sehingga bisa dijadikan tanaman naungan yang baik.

Selain itu, pisang kapok dan salak berbeda family sehingga baik bagi pengendalian hama dan penyakit untuk tanaman salak. Lebih lanjut, jika tanaman salak sudah besar dan tidak butuh naungan, tanaman pisang kepok juga sangat mudah dimusnahkan.

Berikut teknik budidaya Pisang Kepok sebagai naungan salak yang dikembangkan BPTP Balitbangtan Kepri.

  • Pengolahan tanah dilakukan dengan pembersihan dari rumput dan sisa akar tanaman. Kemudian dibuat lubang tanam berukuran 50 x 50 x 50 cm. Lapisan atas tanah (top soil) dipisahkan dari lapisan bagian bawah tanah (sub soil). Lapisan atas akan digunakan untuk menutup lubang tanam saat menanam pisang.
  • Jarak tanam pisang yang digunakan adalah 6 x 2,5 m, sedangkan jarak tanam salak sari intan 3 x 2,5 m. Penanaman pisang diselingi dua jalur tanaman salak (1:2). Setiap lubang tanam diberi pupuk dasar berupa pupuk kandang 10 kg dan kapur  kg.sebagai tanaman pelindung, pisang kepok ditanam 3 bulan lebih cepat sebelum tanaman salak.
  • Pemilihan bibit pisang kepok yang digunakan memiliki tinggi 1-1,5 m dan  diambil dari induk pisang kepok yang sehat, bebas hama penyakit, produksinya tinggi, dan memiliki kualitas buah bagus. Anakan yang dipilih adalah tanaman pisang kepok yang memilki daun muda (daun yang masih menggulung). Jika ada bibit yang memiliki daun yang sudah mekar, daun tersebut harus dibuang untuk mengurangi penguapan.
  • Penanaman pisang kepok sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari saat musim hujan. Saat penanaman pisang, bonggol pisang harus tertutup tanah. Apabila diperlukan, lubang tanam kembali diperbesar tergantung besar kecilnya bonggol bibit pisang. Setelah itu, lubang tanam dipadatkan dengan menggunakan top soil bekas galian lubang tanam. Bibit yang sudah ditanam juga diberi ajir sebagai penopang agar tanaman tidak roboh.
  •  Perawatan tanaman pisang dengan memangkas daun yang telah menguning dan kering. Tanaman pisang juga harus dibersihkan dari tanaman pengganggu. Pemupukan dilakukan dengan POC setiap bulan dan NPK setiap 3 bulan. Selain itu, tanaman pisang memerlukan pengairan yang rutin.
  • Pisang kepok mulai berbunga saat berusia 10 bulan setelah tanam dan jantung pisang sudah berukuran 25 cm. Buah pisang dapat dibungkus dengan plastik untuk menghindari hama dan penyakit. Setelah 90-100 hari ( sekitar 3 bulan), pisang dapat di panen.  Ciri-ciri pisang yang bisa dipanen adalah warna kulit buah hijau muda, ukuran buah yang sudah maksimal, serta daun tanaman sudah mulai mengering.

Selain mudah budidayanya, Peneliti BPTP Balitbangtan Kepri juga mengungkapkan pisang kepok adalah buah dengan nilai ekonomi cukup tinggi. Dari segi harga, pisang kepok relatif lebih mahal dibandingkan jenis pisang lainnya. Dari sisi pengolahan, pisang kepok mempunyai citarasa yang enak dan dapat dijadikan sebagai bahan baku utama berbagai macam makanan. (EPA)

Informasi lebih lanjut: BPTP Balitbangtan Kepulauan Riau