» Info Teknologi » Balitbangtan Kembangkan Berbagai Inovasi Teknologi untuk Budidaya Kenaf
16 Jul 2020

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) memiliki berbagai inovasi teknologi untuk mengembangkan tanaman Kenaf (Hibiscus cannabinus  L). Tanaman tersebut merupakan salah satu tanaman penghasil serat selain rosela dan yute. Serat tanaman Kenaf biasa digunakan untuk bahan pembuat karung goni, karpet, tali, geotekstil, dan kerajinan tangan.

Kepala Balitbangtan Dr. Fadjry Djufry melalui sambungan telepon menyampaikan, secara ekonomi, agribisnis tanaman kenaf memiliki prospek yang sangat bagus karena hampir semua bagian kenaf dapat digunakan untuk bahan baku berbagai industri.

“Untuk itu kenaf yang merupakan salah satu varietas andalan penghasil serat di Indonesia ini, berpotensi memiliki nilai ekspor yang cukup tinggi,” terang Fadjry.

Lebih lanjut Fadjry menjelaskan Balitbangtan melalui Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas) yang berada di Malang, Jawa Timur telah lama melakukan penelitian dan pengembangan tanaman kenaf. “Banyak teknologi terkait kenaf yang telah dihasilkan Balittas, antara lain berupa varietas unggul, pemupukan, dan sistem tanam,” jelasnya.

Peneliti Balitbangtan Marjani menjelaskan saat ini penghasil utama kenaf bersama jute dan rosela adalah India. Sementara perkembangan budidaya kenaf di Indonesa semakin menurun. Luas areal lima tahun terakhir tinggal 500-1000 hektare (ha). Hal tersebut utamanya karena lahan untuk kenaf harus berkompetisi dengan tanaman pangan.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Balitbangtan melalui Balittas mengarahkan teknologi pengembangan kenaf di lahan-lahan sub optimal, seperti lahan kering, lahan PMK, lahan gambut, lahan pasang surut, dan lahan banjir.

“Saat ini Balitas sudah memiliki teknologi yang dapat diterapkan di lahan-lahan marjinal. Diharapkan di lahan marjinal yang mungkin komoditas lain tidak produktif, budidaya kenaf bisa maju untuk meningkatkan pendapatan petani,” ungkap Marjani.

Balittas hingga saat ini telah menghasilkan banyak varietas unggul kenaf. Dari sekian banyak plasma nuftah, Balittas telah melakukan evaluasi plasma nuftah yang bisa beradaptasi terhadap cekaman biotik dan abiotik di lahan marjinal. Dari hasil evaluasi, seperti dijelaskan Marjani, telah dihasilkan varietas kenaf yang tahan kering, tahan genangan, tahan banjir, dan lain-lain.

Terdapat beberapa varietas unggul kenaf antara lain KR 9, KR 11, KR 12, KR 14, KR 15, Kenafindo 1 dan Kenafindo 2. Varietas Kenafindo 1 yang dirilis pada 2017 memiliki umur dalam (Basic Vegetative Phase/BVP = 75 hari) dengan potensi hasil serat 4,5-5 ton/ha dan  produksi biji 700-800 kg/ha. Varietas Kenafindo 1 sesuai untuk lahan sawah, lahan banjir, dan lahan kering.

Varietas Kenafindo 2 yang dirilis pada 2017 memiliki umur dalam (BVP= 70 hari) dengan potensi hasil serat 4,5-5 ton/ha dan produksi biji 800-1000 kg/ha. Kenafindo 2 sesuai untuk lahan irigasi, lahan kering, dan lahan banjir. 

Sementara varietas KR 15 yang dirilis pada 2017 memiliki umur dalam (BVP 80 hari), dengan potensi hasil serat 4,5-5 ton/ha dan produksi biji 800-900 kg/ha. KR 15 sesuai untuk lahan masam, lahan irigasi, lahan kering dan lahan banjir. Varietas ini telah dilisensi oleh PT Global Agrotek Nusantara.

Selain varietas, Marjani memaparkan bahwa Balittas juga memiliki teknologi pemupukan yang dosisnya disesuaikan untuk lahan bonorowo, lahan irigasi, lahan kering, lahan rawa lebak dan lahan PMK. Teknik pemupukannya yaitu pupuk P2O2 dan K2O diberikan sebagai pupuk dasar. Selanjutnya 1/3 bagian pupuk N diberikan pada umur 10 hari setelah tanam (Hst), 2/3 pupuk N diberikan pada umur 30-35 Hst.

Balittas juga mengembangkan teknologi tumpangsari jagung/kenaf untuk meningkatkan pendapatan petani. Kenaf ditanam diantara dua baris jagung setelah pembumbunan jagung pada umur 15-20 Hst.

Informasi lebih lanjut: Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat