» Info Teknologi » Bekatul Suber Bahan Pangan Fungsional
07 Agu 2020

Masih banyak yang menganggap bahwa bekatul sama dengan dedak, sehingga mengkonsumsi bekatul sama dengan mengkonsumsi dedak. Secara kasat mata pun keduanya hampir sama, sehingga sulit dibedakan.

Apabila dilihat dari teksturnya bekatul tentunya lebih halus, karena bekatul sendiri merupakan hasil proses penyosohan kedua. Sedangkan dedak hasil proses penyosohan pertama, sehingga teksturnya lebih kasar karena masih terdapat serat maupun kulit padinya.

Menurut Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan (Puslitbangtan) Dr. Priatna Sasmita, bekatul dan dedak hampir sama, namun beberapa tahun terakhir bekatul menjadi perhatian sebagai pangan fungsional. Berdasarkan hasil penelitian, bekatul mengandung sejumlah senyawa fenolik, serta kaya akan serat pangan, vitamin, serta mineral

“Keduanya sama-sama berasal dari limbah penggilingan padi hasil proses penyosohan, namun yang membedakan adalah Bekatul dapat dikonsumsi dan dijadikan pangan fungsional yang bermanfaat bagi kesehatan seperti antikanker, antihipokolesterolemik, dan antiaterogenik,” kata Priatna.

Lebih lanjut Priatna juga mengatakan bahwa dalam pemanfaatan hasil samping penggilingan padi ini masih sangat terbatas. Bahkan, dibeberapa penggilingan padi bekatul dibiarkan terbuang sehingga mencemari lingkungan sekitar terutama disaat panen raya.

“Bekatul memiliki potensi yang besar dan mempunyai nilai guna dan ekonomi yang baik apabila dapat ditangani dengan benar dan bisa berdampak positif meningkatkan nilai tambah pada sistem bioindustri pertanian di pedesaan,” ujarnya. (Uje)

Informasi lebih lanjut: Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan