» Info Teknologi » Mesin Grafting Semi Otomatis
20 Okt 2020

Kebutuhan bibit berkualitas khususnya pada tanaman tahunan seperti kakao dan tanaman buah menjadi faktor penting penentu keberhasilan usaha pertanian. Salah satu cara untuk menyediakan benih yang berkualitas adalah dengan metode sambung pucuk (grafting).

Perbanyakan benih dengan metode grafting sudah lama dikenal dan digunakan petani untuk memperbaiki sifat tanaman. Pada prinsipnya, grafting adalah menggabungkan dua bagian tanaman (organ dan jaringannya) yang masih hidup sedemikian rupa sehingga keduanya dapat bergabung menjadi satu tanaman yang utuh yang memiliki sifat kombinasi antara dua organ atau jaringan yang digabungkan tersebut.

Salah satu kendala yang dihadapi petani dalam pengembangan tanaman pohon, baik komoditas perkebunan maupun hortikultura adalah penyediaan benih unggul bermutu secara cepat dalam jumlah besar. Di Indonesia, metode Grafting masih dilakukan secara manual dan jumlah petani yang mampu melakukan grafting semakin terbatas.

Tenaga kerja grafting secara konvensional menggunakan pisau atau gunting grafting, sehingga mutu benih yang dihasilkan bervariasi tergantung dari keterampilan petani/tenaga grafting-nya. Dengan terbatasnya tenaga kerja maka kapasitas hasil benih juga rendah, sebab satu hari per orang hanya bisa mendapatkan 75 tanaman hasil sambung pucuk, seperti pada tanaman kakao.

Untuk mempermudah proses grafting, Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BBP Mektan), salah satu unit di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Pertanian (Balitbangtan), telah membuat  mesin grafting semi otomatis. Dengan mesin grafting semi otomatis ini, petani hanya perlu menyalakan mesin dan menyiapkan tanaman yang akan di sambung pucuk, dan petani akan mendapatkan benih dengan cepat dan kualitas yang seragam.

Menurut Kepala BBP Mektan Dr. Agung Prabowo, hadirnya mesin ini juga dilatarbelakangi prosentase keberhasilan tumbuh dari hasil Grafting manual yang masih di bawah 90 persen. Padahal, bibit hasil Grafting ini bisa menghasilkan keuntungan yang menggiurkan. Misalnya untuk bibit Kakao hasil Grafting adalah Rp 5-10 ribu per batang. Begitu pula bibit Grafting buah buahan seperti jeruk, rambutan dan lainnya, bisa mencapai harga di atas Rp 25 ribu.

Karena itu, BBP Mektan menciptakan mesin Grafting, guna mempermudah dan menghasilkan bibit yang berkualitas. "Dibandingkan dengan tenaga manual mesin ini bisa menghasilkan kapasitas lebih besar mencapai 10-15 kali lipat," ujarnya.

Dr. Astu Unadi, Perekayasa Balitbangtan yang menciptakan mesin ini menambahkan bahwa prosentase keberhasilan tumbuh dari bibit hasil mesin Grafting tersebut bisa lebih dari 95 persen, meskipun yang mengoperasikannya tidak ahli Grafting. Mesin Grafting ini juga bisa digunakan oleh segala jenis tanaman tahunan seperti kakao dan buah buahan. "Bisa diatur, mau besar, mau tinggi, mau kecil sudah disesuaikan mesinnya," tuturnya.

Mesin grafting semi otomatis ini berfungsi untuk memotong batang atas dan batang bawah, mengikat sambungan antara batang bawah dengan batang atas dengan alat pengikat. Dengan gerakan maju dan mundur pisau potong batang yang akan disambung  menggunakan sistem pneumatik yaitu double pneumatik silinder dengan linear guide dan gerakan penjepit batang yang akan disambung menggunakan jari-jari penjepit (gripper) sistem pneumatik.  Untuk mengikat sambungan antara batang bawah dan batang atas menggunakan motor listrik.

Dalam pengoperasiannya, sangat sederhana sehingga tenaga Grafting yang dibutuhkan tidak perlu profesional. Hanya perlu dilatih sebentar saja, sudah langsung bisa menggunakan mesin Grafting ini. Sedangkan kecepatannya grafting hanya membutuhkan waktu cukup 30 detik saja untuk 1 bibit.

Sasaran utama dari mesin Grafting ini adalah petani pengusaha benih/bibit atau kelompok (korporasi) petani dengan kapasitas minimal 1000 batang bibit. Satu mesin ini bisa menghasilkan benih/bibit untuk kapasitas 1 hektar dalam 1 hari saja. (Wira)

Informasi lebih lanjut: Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian