» Info Teknologi » Inpari 36 Lanrang, Tekan Kehilangan Hasil di Kabupaten Sigi
30 Nov 2020

Sudah dua musim petani di Kecamatan Kulawi Selatan, Kabupaten Sigi menanam padi menggunakan varietas Inpari 36 Lanrang. Hasilnya cukup memuaskan di musim kedua ini, bahkan lebih tinggi dari musim pertama sejak menggunakan varietas tahan tungro.

Sebelumnya, Kecamatan Kulawi Selatan merupakan wilayah endemis tungro yang selalu memberikan dampak kerugian ketika panen. Para petani banyak yang harus kehilangan hasil hingga 80% bahkan gagal panen akibat serangan penyakit tungro tersebut.

Panen padi musim kedua ini dimulai sejak Senin (23/11/2020). Petani rata-rata petani mendapatkan hasil 8,5 t/ha meningkat 0,7 t/ha dari musim pertama pada Maret 2020. Mayoritas pertanaman padi di kecamatan ini tumbuh dengan baik dan tidak ada lagi pertanaman padi yang terserang penyakit tungro.

Menurut Alfonso, PPL di Kecamatan Kulawi Selatan, sejak menerima bantuan benih pada akhir tahun 2019 dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian melalui Loka Penelitian Penyakit Tungro sudah tidak tampak lagi pertanaman padi di Kecamatan Kulawi Selatan yang terserang penyakit tungro.

“Sejak panen perdana pada bulan Maret 2020 banyak petani yang tertarik untuk tanam varietas Inpari 36 Lanrang. Selain hasilnya tinggi, varietas tersebut juga benar-benar tahan terhadap tungro,” katanya.

Di tempat terpisah Kepala Loka Penelitian Penyakit Tungro Dr. Fausiah T. Ladja juga menyampaikan agar varietas yang pernah diberikannya terus dikembangkan ke wilayah-wilayah endemis tungro lainnya di Kabupaten Sigi.

“Semakin banyak yang menggunakan varietas tersebut, saya optimis Kabupaten Sigi akan zero tungro dan tidak lagi menjadi wilayah yang endemis,” pungkasnya

Selanjutnya, Kepala Balitbangtan Dr. Fadjry Djufry di tempat terpisah juga menyampaikan bahwa Teknologi Taro (tahan tungro) sangat ampuh untuk menekan penyebaran penyakit tungro. Buah karya inovasi Balitbangtan ini sudah banyak diaplikasikan di wilayah-wilayah endemis tungro.

“Petani di wilayah endemis harus mengaplikasikan teknologi Taro, selain dapat menekan kehilangan hasil, teknologi Taro juga meningkatkan hasil dan petani semakin tidak lagi merugi selama tanam padi,” jelasnya.

Sebagai informasi, Teknologi Taro adalah teknologi budi daya padi yang menekankan penggunaan varietas padi yang tahan tungro. Varietas dianjurkan pada teknologi Taro adalah varietas Inpari 36 Lanrang dan Inpari 37 Lanrang. Sesuai deskripsinya kedua varietas tersebut tahan tungro varian 073. (Uje)

Informasi lebih lanjut: Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan