» Info Teknologi » Biopori untuk Perbaiki Lahan dan Konservasi Air di Kawasan Kemiri Sunan
01 Des 2020

Biopori adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan lubang resapan. Lubang resapan biopori adalah lubang silindris yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah sebagai metode resapan air yang ditujukan untuk mengatasi genangan air dengan cara meningkatkan daya resap air pada tanah.

Peningkatan daya resap air pada tanah dilakukan dengan membuat lubang pada tanah dan menimbunnya dengan sampah organik untuk menghasilkan kompos. Sampah organik yang ditimbunkan pada lubang ini kemudian dapat menghidupi fauna dan flora tanah seperti cacing, hewan kecil di dalam tanah, bahkan juga akar tumbuhan.

Biopori dapat memperbaiki lingkungan, yaitu memperluas bidang penyerapan air, sebagai penanganan limbah organik, dan meningkatkan kesehatan tanah. Biopori mampu meningkatkan daya penyerapan tanah terhadap air sehingga mengurangi resiko penggenangan pada musim penghujan. Air yang masuk ke lubang biopori akan disimpan dan dapat menjaga kelembaban tanah terutama di musim kemarau.

Biopori juga dapat mengubah sampah organik menjadi kompos. Pengomposan sampah organik mengurangi aktivitas pembakaran sampah yang dapat meningkatkan kandungan gas rumah kaca di atmosfer. Keberadaan biopori dapat meningkatkan aktivitas organisme dan mikroorganisme tanah sehingga meningkatkan kesehatan tanah dan perakaran tumbuhan di sekitarnya.

Pembuatan lubang biopori dilakukan dengan cara meletakkan tabung pada dua sisi pohon dengan jarak dari pangkal pohon selebar kanopi. Hasil penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) menunjukkan kedalaman biopori 50 cm memberikan pertumbuhan tanaman kemiri sunan terbaik dibandingkan yang lebih dangkal atau tanpa biopori. Biopori juga dapat memperbaiki sifat kimia tanah terutama peningkatan kandungan C-organik, N dan KTK (Kapasitas Tukar Kation).

Penambahan cacing tanah Lumbricus rubellus pada serasah daun kemiri sunan dapat mempercepat proses pengomposan dua kali dibanding hanya serasah daun, karena serasah daun langsung dikonsumsi oleh cacing tanah dan menghasilkan kotoran yang umum disebut Kascing dalam bentuk kompos yang lebih mudah tersedia bagi tanaman. Meskipun daun kemiri sunan bersifat toksik, ternyata cacing tanah mampu beradaptasi dalam mengkonsumsi serasah daun sebagai sumber pakannya.

Biopori dengan kedalaman tabung 50 cm dapat menampung serasah kering sebanyak 1,025 kg dengan kadar air 9,5%, sedangkan 1 pohon kemiri sunan dapat menghasilkan serasah daun 75 kg per tahun. Serasah dapat terus ditambahkan secara periodik ke dalam lubang biopori untuk mengisi ruang tabung yang telah kosong karena telah terdokomposisi.

Pembuatan biopori akan menambah nutrisi tanah yang berasal dari kompos, serta peningkatan aktivitas mikoorganisme penambat hara dari tanah dan udara, sehingga akan mengurangi penggunaan pupuk kimiawi, dan menghemat biaya usahatani dan ramah lingkungan. Dengan menghemat biaya usahatani, margin keuntungan yang diperoleh petani atau pekebun akan meningkat dan menjamin budidaya kemiri sunan yang berkelanjutan. (Bur)

Informasi lebih lanjut: Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Lampiran