» Info Teknologi » Balitbangtan Dorong Potensi Pengembangan Ubi Kayu di Kabupaten Sukabumi
18 Jan 2021

Kabupaten Sukabumi salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Barat yang memiliki lahan pertanian yang cukup luas dan subur. Sehingga berbagai komoditas yang dihasilkan banyak digunakan sebagai penyangga kebutuhan pokok bagi warga Ibukota. Salah satunya adalah ubi kayu yang menjadi komoditas unggulan. Sentranya pun tersebar di beberapa wilayah diantaranya adalah Kecamatan Jampang Tengah, Warung Kiara, Bantar Gadung, dan Cihambar, serta kecamatan lainnya yang luasannya tidak signifikan.

Berdasarkan informasi dari Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, total luas lahan pertanaman ubi kayu di Kabupaten Sukabumi mencapai 7.000 ha dengan produktivitas sekitar 25 t/ha. Sehingga setiap tahunnya Kabupaten Sukabumi adalah penyumbang 10% produksi ubi kayu di Jawa Barat atau 0,9% dari produksi nasional.

Dalam budi dayanya, hampir 80% petani di Kabupaten Sukabumi menggunakan varietas lokal yaitu varietas Manggu. Untuk produktivitasnya varietas lokasl tersebut rata-rata 25 t/ha dengan umur panen antara 10-11 bulan.

Varietas lokal tersebut sudah lama digunakan oleh petani secara turun temurun karena memiliki kelebihan yaitu rasa umbi yang enak. Pemasarannya pun cukup mudah, dalam bentuk umbi segar dapat dijual langsung ke kota-kota besar dengan harga yang cukup tinggi. Begitu juga di saat panen raya, penjualannya juga cukup mudah karena di kabupaten Sukabumi banyak pabrik pengolahan tepung tapioka.

Kondisi lahan ubi kayu di daerah Sukabumi berada di pegunungan, namun petani sudah menata pola tanam cukup baik dengan mengikuti prinsip konservasi. Guludan tanaman dibuat berpotongan tegak lurus dengan arah kemiringan lahan dan diantara guludan diupayakan terdapat soil catchment dari sisa tanaman sebelumnya untuk menghambat laju aliran permukaan dari air hujan. Tekstur tanah yang remah memudahkan saat pengolahan tanah dan panen.

Sistem budidaya ubi kayu sudah cukup baik, mereka selalu menggunakan pupuk kandang sebelum tanam ubi kayu. Dosis pupuk kandang 10 – 20 ton/ha, pupuk NPK phonska 300 kg/ha dan kadang kala masih ditambah pupuk Urea ketika tanaman kurang subur. Jarak tanam ubi kayu umumnya 1 x 1 m namun dapat berubah sesuai kondisi lahan, jarak lebih rapat jika lahan kurang subur dan lebih jarang pada lahan subur.

Pertimbangan jarak tanam juga mengikuti prinsip kemudahan dalam budidaya (menekan pertumbuhan gulma) dan mudah pencabutan umbi saat panen. Pengendalian gulma dilakukan secara intensif menggunakan herbisida, diakui petani metode ini dapat menekan biaya. Hama dan penyakit ubi kayu kurang berkembang di daerah ini sehingga kondisi pertanaman tumbuh normal.

Petani juga sudah mengembangkan sistem budidaya ubi kayu secara tumpang sari untuk peningkatan produktivitas lahan. Tanaman ubi kayu biasa ditumpangsarikan dengan tanaman jagung, kacang tanah, kacang bogor, dan padi gogo. Dengan sistem tumpangsari jarak tanam disesuaikan, untuk penanaman tanaman sela. Dengan sistem ini petani dapat panen minimal dua kali setahun sesuai komoditas yang ditanam misalnya jagung dan ubi kayu atau padi dan ubi kayu.

Industri rumah tangga (home industry) ubi kayu dijumpai hampir di setiap sentra produksi namun paling banyak di Desa Girijaya Kecamatan Warung Kiara dan di Kecamatan Jampang Tengah. Di desa Girijaya terdapat sekitar 30 pabrik sedangkan di Jampang tengah 10 – 20 pabrik. Setiap pabrik minimal memproduksi 10 ton ubi kayu segar per hari dengan masa aktif produksi sekitar 6 bulan.

Rendemen pati 28-30% dari bobot segar umbi kupas sedangkan rendemen dari umbi panen menjadi umbi kupas sekitar 75-80%. Pati dapat dijual dalam kondisi kering kasar atau kondisi halus. Pati kemudian dikirim ke Kota Bogor menuju industri besar. Selain menghasilkan pati, home industri juga menghasilkan by product berupa onggok. Onggok dijual ke peternak sapi atau ke tengkulak yang akan digunakan sebagai bahan baku obat nyamuk.

Beranjak dari potensi besar pengembangan ubi kayu di Kabupaten Sukabumi, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi) berupaya memberikan peran agar sistem budidaya ubi kayu, pengolahan maupun pemasaran yang telah ada dapat ditingkatkan sehingga bermuara bagi kesejahteraan petani. (Uje)