» Info Teknologi » Ampas Kelapa Sisa Pembuatan VCO sebagai Pakan Unggas
28 Des 2020

Pakan memegang peranan penting dalam usaha peternakan, baik dari aspek kualitas maupun ketersediaannya secara kontinyu. Masalah saat ini terjadi dan merupakan kendala terbesar bagi peternak adalah harga pakan yang semakin mahal. Salah satu cara untuk mengantisipasinya adalah dengan memanfaatkan limbah pertanian, peternakan dan industri sebagai bahan pakan alternatif yang masih memiliki kandungan gizi dengan harga yang murah serta tidak bersaing dengan kebutuhan manusia.

Pada saat pademi Covid-19 ini banyak diproduksi Virgin Coconut Oil (VCO). Hal ini disebabkan karena dengan mengkonsumsi VCO dapat meningkatkan daya tahan atau imun tubuh. Hasil samping dari proses produk lain pembuatan VCO ini adalah ampas kelapa. Ampas kelapa ini masih memiliki kandungan protein yang cukup tinggi dan berpotensi untuk dimanfaatkan dan diolah menjadi pakan.

Ampas kelapa sebagai produk samping pengolahan minyak kelapa murni (VCO) memiliki kadar protein kasar masih relatif tinggi yaitu sebesar 11,35% dengan kadar lemak kasar 23,36%. Protein merupakan salah satu komponen yang terpenting pada pakan, sehingga tingginya kadar protein pada ampas kelapa merupakan suatu keuntungan untuk diolah menjadi pakan.

Namun demikian, lemak yang cukup tinggi merupakan kendala pada pengolahan ampas kelapa yang akan diolah menjadi pakan, karena akan mempengaruhi kualitas pakan yang dihasilkan terutama dalam mempengaruhi umur simpan dan daya cerna pakan.

Salah satu cara untuk mengolah ampas kelapa menjadi bahan pakan ternak adalah dengan fermentasi. Pada proses fermentasi terjadi reaksi dimana senyawa komplek diubah menjadi senyawa yang lebih sederhana dengan bantuan enzim dari mikroorganisme.

Fermentasi ampas kelapa juga mampu meningkatkan kecernaan bahan kering dan bahan organik, terjadi perubahan kualitas bahan makanan menjadi lebih baik dari bahan asalnya baik dari aspek gizi serta meningkatkan daya simpan.

Penggunaan ampas kelapa fermentasi di dalam ransum unggas terutama ayam buras sangat memungkinkan untuk diaplikasikan, karena ayam buras lebih toleran terhadap serat kasar ransum. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk melihat penampilan produksi unggas yang memakai bahan pakan ampas kelapa fermentasi dalam ransum.

Efisiensi ransum ayam pedaging menggunakan ampas kelapa yang difermentasi lebih baik dibandingkan dengan ampas kelapa tanpa difermentasi.  Penelitian yang dilakukan Yamin (2008), penggunaan ampas kelapa yang difermentasi sampai 12% ini sangat efisien jika dibandingkan dengan menggunakan ampas kelapa yang tidak difermentasi terlebih dahulu. 

Dari hasil penelitian diperoleh bahwa kemampuan ternak ayam mengkonsumsi 1 kg ransum yang mengandung ampas kelapa fermentasi dapat membentuk rata-rata 0,59 kg bobot hidup, sedangkan yang menggunakan ampas kelapa tanpa fermentasi hanya mampu membentuk bobot hidup rata-rata 0,45 kg.

Hasil penelitian Saragih dan Ndruma (2020), diperoleh hasil penambahan berat ayam pedaging tertinggi dicapai pada perlakuan pemberian ampas kelapa fermentasi 9% dalam ransum yaitu 41,99 g/ekor/hari, sedangkan hasil yang terendah didapat pada perlakuan pemberian tanpa ampas kelapa fermentasi yaitu 32,60 g/ekor/hari.

Informasi lebih lanjut: Balai Penelitian Tanaman Palma

Lampiran