» Info Teknologi » Bioherbisida dari Ekstrak Gulma Siam
19 Peb 2021

Salah satu upaya alternatif dalam pengendalian gulma yang aman adalah dengan menggunakan bioherbisida. Lantas, apa yang dimaksud dengan bioherbisida itu sendiri? Dalam sebuah tulisan di salah satu jurnal ilmiah nasional, Senjaya dan Wahyu Surakusumah (2008) mendefinisikan bioherbisida adalah senyawa yang berasal dari organisme hidup, yang mampu mengendalikan gulma atau tanaman pengganggu.

Terkait upaya ini, peneliti Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi), Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian (Balitbangtan), berhasil mengolah gulma Siam menjadi bioherbisida. Manfaat yang dapat diperoleh dari bioherbisida ini tak lain adalah untuk menanggulangi gulma dengan cara yang ramah lingkungan. Siti Muzaiyanah, salah seorang peneliti Balitkabi, mengemukakan bahwa penelitian terhadap gulma Siam atau yang dikenal nama latin Chromolaena odorata (C. odorata) ini telah dimulai sejak 2017 lalu. Menurutnya, bahan aktif yang terkandung pada gulma Siam berupa hasil metabolit sekunder yaitu alelopati. Inilah yang mampu menekan pertumbuhan gulma. “Gulma Siam berpotensi sebagai bahan untuk bioherbisida. Dengan pemberian ekstrak daunnya mampu mengendalikan pertumbuhan gulma yang tumbuh subur di sekitar tanaman budi daya,” kata Siti.

Lebih lanjut, Siti menambahkan bahwa pengendalian gulma dengan bioherbisida lebih aman karena ramah lingkungan. Selain itu, pemberian bioherbisida juga dapat menekan biaya produksi petani yang disebabkan oleh pembelian herbisida.“Dengan memanfaatkan bioherbisida tidak meninggalkan residu yang bersifat toksik pada produk pertanian. Sehingga,akan  menghasilkan produk pertanian yang lebih aman dan sehat untuk dikonsumsi oleh masyarakat,” imbuhnya lagi.

Senada dengan Siti, Kepala Balitkabi Titik Sundari mengatakan bahwa penggunaan bioherbisida sama halnya dengan herbisida. Sama-sama efektif dan efisien dalam menanggulangi gulma. Meski demikian, ia menjelaskan bahwa penggunaan bioherbisida untuk mengatasi gulma lebih ramah lingkungan dari pada menggunakan herbisida.“Sama halnya dengan herbisida, bioherbisida juga dapat menekan kebutuhan tenaga kerja dibandingkan penyiangan secara manual dan mekanis. Tentu, dengan bioherbisida lebih aman terhadap produk pertanian,” pungkasnya. (Uje/HRY)