» Info Teknologi » Tempe Koro Pedang Jawaban Mahalnya Kedelai
23 Peb 2021

Beberapa waktu lalu di Indonesia terjadi lonjakan harga kedelai yang membuat para produsen tempe menghentikan produksinya. Kuantitas tempe dipasaran pun menjadi langka dan sulit ditemui. Kalaupun ada harganya lebih tinggi dari biasanya dan jumlahnya terbatas.

Untuk menyiasati hal tersebut, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui Balai Besar Litbang Pasca Panen Pertanian (BB Pascapanen) meneliti bahan dasar tempe atau tahu dengan kacang-kacangan lain salah satunya adalah kacang koro pedang.

Dari segi budidaya, Koro pedang merupakan tanaman yang mampu tumbuh di lahan marjinal sehingga tidak perlu bersaing untuk memperebutkan tanah subur untuk menanamnya. Sifat fisik koro pedang memang berbeda dengan sifat kedelai.

Biji koro pedang diselimuti kulit biji yang sangat tebal dan menempel kuat serta ukuran bijinya hampir tiga kali lebih besar dari biji kedelai. Karena ukurannya yang besar, biji koro pedang harus dicacah terlebih dahulu agar permukaan biji cukup luas untuk pertumbuhan ragi tempe.

Peneliti Balitbangtan Dr. Endang Yuli Purwani mengatakan tempe koro pedang mengandung peptida aktif. “Peptida itu dapat menghambat aktivitas ACE (Angiotensin Converting Enzyme) yang menyebabkan tekanan darah meningkat. Aktivitas penghambatan itu lebih baik dibandingkan peptida serupa dalam tempe kedelai,” jelasnya. 

Lebih lanjut dijelaskan, “Kacang koro pedang mengandung karbohidrat, protein serta serat yang baik untuk tubuh. Apalagi kacang ini juga memiliki rasa gurih yang membuat tempe makin lezat. Keunggulan lainnya yakni kacang koro pedang dibanderol dengan harga relatif lebih murah dari kedelai.”

Walau demikian, diakui bahwa tempe koro pedang ini mempunyai kelemahan dari daya simpannya. Tempe koro pedang tidak tahan lama seperti tempe kedelai, namun hal ini dapat disiasati dengan mendistribusikan produk dalam bentuk tempe potong dalam kemasan. (Ega)

Informasi lebih lanjut: Balai Besar Litbang Pasca Panen Pertanian