Tahukah Anda

No 1-5 dari 175

Bungkil sawit bisa untuk pakan ternak

Bungkil Inti Sawit adalah salah satu hasil ikutan dari industri pembuatan minyak kelapa sawit yang mengandung protein, lemak, serat kasar dan kaya akan mineral. Bungkil Inti Sawit dapat digunakan sebagai bahan pakan sumber protein dan energi untuk ternak.

Penambahan Bungkil Inti Sawit ke dalam ransum dapat menggantikan penggunaan bahan sumber protein yaitu bungkil kedelai dan DGDS. Sehingga dengan formulasi konsentrat yang mengandung Bungkil Inti Sawit dapat menurunkan biaya pakan.

Apa kata pakar dan peternak mengenai Bungkil Inti Sawit, klik di sini.

Sumber: Balitbangtan

Krisan juga bisa kena virus

Dua virus yang menyerang tanaman krisan adalah Cucumber Mosaic Virus (CMV) dan Chrysanthenum Virus-B (CVB).

Dua virus ini menghambat pertumbuhan tanaman secara signifikan, bahkan menyebabkan malformasi bagian-bagian tanaman seperti daun dan petal bunga.

Gejalanya, daun yang mengecil dan bulat, penghambatan atau bahkan stagnasi pertumbuhan yang jelas dan memudarnya warna (discolored) serta klorotik pada daun dan petal, disertai dengan pertumbuhan bunga yang tidak sempurna. 

Beberapa hama seperti kutu daun (Aphids) juga dikenal bisa menjadi vektor penyebaran kedua virus ini pada pertanaman.  Selain serangga dan benih sakit, virus juga dapat menular melalui alat-alat pertanian seperti pisau stek, gunting dan lain-lain.

Sumber: Balai Penelitian Tanaman Hias

Tanaman Hias Ini Sering Kita Temui

Schefflera actinophylla merupakan tanaman hias yang mudah dikenali. Sebagian besar batangnya tidak bercabang, bentuk daun majemuk dengan jumlah 7-12 helai, daunnya sedikit menjuntai membentuk lingkaran menyerupai payung, sehingga dikenal dengan nama umbrella tree. 
Bunga tersusun dalam bentuk klaster, berwarna merah, berjumlah 10-20, terletak pada sumbu yang menyebar menyerupai gurita, sehingga dikenal juga dengan sebutan octopus-tree (Little & Skolmen, 2003).
Pertumbuhan S. actinophylla tergolong cepat dan bahkan telah diintroduksi ke berbagai daerah tropis dan sub tropis di dunia, serta telah dinyatakan sebagai gulma (Randall, 2012).
S. actinophylla dikenal dengan nama walisongo di Indonesia, karena memiliki jumlah helaian daun kurang lebih 9. Tanaman ini dikelompokan ke dalam tanaman perdu karena memiliki batang besar dan keras serta percabangannya relatif tinggi dibandingkan dengan tanaman berupa semak (Hasyim, 2002) 
S. actinophylla menghasilkan ribuan biji yang dapat dengan mudah menyebar dengan bantuan hewan terutama burung dan kelelawar. Jenis ini memiliki daya kecambah biji yang tinggi dan mampu tumbuh di tempat yang sangat teduh dan cerah (Gucker, 2011). 
S. actinophylla mampu membentuk belukar lebat, sehingga akan mengurangi intensitas cahaya matahari yang masuk, membatasi ruang gerak tanaman, dan unsur hara untuk tanaman asli disekitarnya (Langeland et al., 2008). 

Selain itu, jenis ini juga memiliki jaringan perakaran yang kuat dan padat, sehingga dapat menekan pondasi bangunan dan sendi blok pipa di daerah perkotaan di Quensland bagian tenggara, New South Wales dan pulau Christmas. Tanaman ini juga merupakan gulma di negara tersebut (Queensland Department of Primary Industries and Fisheries, 2007)

Sumber: Balai Penelitian Tanaman Hias

Serkap

Serkap ikan (kadang disebut serakap ikan, red) adalah alat penangkap ikan tradisional. Bentuknya mirip sangkar burung perkutut dengan alas terbuka. Ia digunakan untuk menangkap ikan di air yang dangkal atau berlumpur. Caranya dengan menyergap ikan langsung yang terlihat, lalu mengambilnya dengan tangan yang dimasukkan ke dalam serkap melalui lubang besar di pangkalnya.

Serkap biasanya terbuat dari bambu yang ujungnya dibuat tajam. Beberapa bambu disusun melingkar dengan rangka—yang juga terbuat dari bambu—bulat. Untuk menyatukannya mereka diikat dengan bambu tali, rotan, atau plastik khusus. Ia biasa dijual di pasar-pasar tradisional yang terletak di kawasan rawa.

Meskipun sudah era modern, serkap ikan tradisional tersebut masih sangat diminati oleh masyarakat pedesaan. Musababnya serkap ikan murah, mudah digunakan, bahkan gampang dibuat sendiri. Soal hasil, seringkali hasil tangkapan dengan serkap tidak kalah dengan alat tangkap ikan modern.

Sumber: Balai Penelitian Lahan Rawa

Tanaman Babadotan Bisa untuk Penurun Emisi

Metana merupakan salah satu jenis penyebab pemanasan global emisi gas rumah kaca (GRK). Gas ini lebih dianggap sebagai polutan daripada sumber energi yang berguna. Gas metana pada kadar tinggi dapat mengurangi kadar oksigen pada atmosfer bumi. Gas metana dapat menyebabkan penurunan oksigen sampai sekitar 19,5%. Pada kadar yang lebih tinggi, gas metana dapat menyebabkan kebakaran dan ledakan apabila bercampur dengan udara.

Sektor pertanian adalah salah satu penyumbang gas metana. Salah satunya berasal dari budidaya tanaman padi sawah adalah gas metana (CH4), karbondioksida (CO2), dan dinitrogen oksida (N2O). Konsentrasi GRK yang berlebihan menyebabkan pemanasan global, bahkan N2O mempunyai potensi pemanasan global 298 kali lipat lebih besar dari CO2 dan memiliki masa tinggal selama 150 tahun di atmosfer. Emisi N2O terbesar berasal dari ketidakefektifan pemupukan N.  

Padahal, efektivitas pemupukan N dalam bentuk urea pada lahan sawah saat ini masih tergolong rendah yaitu sekitar 46% akibat hilangnya N melalui pencucian, volatilisasi amonia, denitrifikasi, dan limpasan permukaan. Penambahan bahan penghambat nitrikasi dapat menurunkan emisi GRK.

Menyadari hal ini, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian telah menghasilkan inovasi teknologi dari ekstrak tanaman babandotan yang mampu mengurangi emisi GRK sebesar 33,8% dan meningkatkan efisiensi pemupukan N. Aplikasi ekstrak babadotan adalah dengan menaburkannya pada permukaan lahan sawah sebanyak 10-20 kg/ ha bersamaan dengan waktu aplikasi pupuk N.  Selain itu juga tanaman babadotan adalah salah satu tumbuhan hijau yang bisa digunakan sebagai pestisida dan antiseptik.

Sumber: BPATP