Tahukah Anda

No 1-5 dari 181

Sambiloto Tanaman yang Banyak Khasiatnya

Mungkin nama sambiloto sudah pernah terdengar di telinga. Ya, sambiloto dikenal sebagai tanaman obat yang cukup tenar di Indonesia. Mengapa? Tanaman yang banyak dimanfaatkan masyarakat sebagai bahan baku campuran jamu ini ternyata mengandung banyak khasiat. Seperti, dapat mengatasi beberapa penyakit yang disebabkan oleh virus, serta mengatur dan memacu daya tahan tubuh.

Tanaman yang terkenal di dunia internasional dengan nama “king of bitter” atau raja pahit ini mengandung laktone yang terdiri dari deoksi andrografolid, andrografolid, flavonoid, alkane, keton, aldehid, mineral (kalium, kalsium, natrium), asam kersik, dan dammar. Senyawa utama yang dihasilkan tanaman sambiloto adalah Andrografolid.

Senyawa Andrografolid tersebut bermanfaat dalam mengatasi berbagai penyakit antara lain terhadap sel kanker dan antitumor, antihepatoprotektif, antiinflamasi, antioksidan, antidiabetes (menurunkan gula darah), antimalaria, dan antimikrob (antibakteri, antifungi, dan antiviral).

Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak sambiloto merupakan alternatif dalam menyembuhkan infeksi bagian atas saluran pernafasan. Seperti diungkap Peneliti Balitbangtan Gusmaini, senyawa andrographolide tersebut terdapat di dalam bagian atas jaringan tanaman yaitu daun, batang, bunga, dan kandungan tertinggi terdapat pada daun.

Sambiloto juga termasuk cepat berproduksi, dari tanam hingga panen memakan waktu sekitar 2.5 – 4 bulan tergantung iklim. Lalu, perbanyakan tanaman ini dapat melalui biji atau setek dengan lingkungan tumbuh yang cukup luas yaitu dari dataran rendah hingga menengah, kisaran ketinggian tempat 1-700 m dpl.

Selama pertumbuhan tanaman sambiloto menghendaki banyak sinar matahari. Namun demikian tanaman ini masih toleran tumbuh dan berproduksi kondisi pada ternaungi maksimal 30%. Jika budidaya dilakukan dengan kondisi naungan diatas 30%, maka mutunya cenderung menurun.

Gusmaini juga menerangkan kalau sambiloto ditanam pada saat iklim kering atau musim kemarau maka tanaman akan cepat berbunga, sehingga perlu segera dipanen. Tetapi bila ditanam musim hujan akan lambat berbunga dan lebih banyak pertumbuhan daun.

Ciri tanaman sambiloto untuk siap dipanen yaitu ditandai dengan akan munculnya bunga atau sebelum bunga mekar. Budidaya sambiloto tidak memerlukan lahan yang luas, pada lahan yang sempit atau di pekarangan rumah pun bisa dilakan dengan menanam di dalam pot. (Tds/Balittro)

Sumber: Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat

Clementine Si Mandarin Tanpa Biji yang Manis dan Juicy

Jeruk Clementine masuk kedalam kelompok jeruk Mandarin yaitu Common Mandarin. Mandarin sendiri adalah istilah yang dipakai untuk menunjukkan kepada kelompok jeruk dengan ciri kulit tipis, mudah dikupas dan juring tidak rekat  Jeruk Clementine dikenal juga dengan nama Algerian Tangerine. Disebut Tangerine karena warna kulitnya yang oranye kemerahan.

Clementine memiliki karakter sebagai berikut antara lain buah biasanya tanpa biji (seedless) kecuali di sekitar tanaman ada pohon yang seedy sebagai penyumbang polen. Warna kulit jeruk ini lebih oranye daripada Satsuma dan buah berbentuk bulat. Kulit buah sangat mudah dikupas tapi tidak semudah Satsuma. Ukuran buah kecil hingga besar.

Buah Clementine memiliki rasa yang manis, juicy, dan beraroma tajam. Juring buah antara 8-14 per buah. Clementine dapat tumbuh pada ketinggian mulai 400 m dpl. Daunnya lebih sempit dan kecil daripada Satsuma Mandarin (lebih mirip willowleaf).

Satu keistimeaan Clementine yang sangat disukai oleh petani adalah karakternya yang early in maturity di bandingkan mandarin lainnya. Kematangan buah bisa di capai antara 6-7 bulan setelah pembungaan.

Sumber: Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika

Meningkatkan Daya Tahan Tubuh dengan Daun Kelor

Telah lama dipercaya, daun kelor memiliki kandungan yang tinggi akan vitamin C, kalsium, beta karoten dan potassium yang bekerja efektif sebagai sumber anti oksidan alami. Karena tingginya kandungan nutrisi dalam daunnya, kelor dijuluki sebagai ‘tree of life’.

Organisasi kesehatan dunia WHO telah lama menganjurkan penggunaan kelor bagi anak anak di dunia karena daun tanaman ini mengandung 7 kali vitamin C pada jeruk, 4 kali kalsium pada susu, 4 kali vitamin A pada wortel, 2 kali protein pada susu dan 3 kali potassium pada pisang.

Daun Kelor (Moringa oleifera Lamk) sangat banyak mengandung protein. Bagian dari tanaman yang memiliki nutrisi tinggi adalah daunnya. Daun kelor dilaporkan memiliki kandungan protein (19-29 persen), serat (16-24 persen), lemak, karbohidrat, mineral, kalsium, magnesium, fosfor, besi, sulfur, asam oksalat, vitamin A, vitamin B (Kolin), vitamin B1 (thiamine), vitamin B2 (riboflavin), vitamin B3, vitamin C dan vitamin E.

Konsumsi daun kelor sangat mudah. Daun tanaman dipetik tiga tangkai, dicuci bersih lalu ditiriskan. Panaskan air sampai mendidih, lalu masukan daun kelor, tambahkan potongan jagung muda, daun salam, sedikit garam dan gula.

Masakan sayur kelor dapat dikonsumsi selagi masih hangat. Efek antioksidan kelor masih kuat bila dikonsumsi disaat masih hangat. Selain berkhasiat sebagai obat, daun kelor juga sumber makanan yang lezat.

Saat ini kelor mulai banyak ditanam di masyarakat luas karena mereka telah mengetahui manfaatnya dalam kesehatan. Untuk program nasional. rencananya kelor akan mulai dikembangkan di tahun 2020. Hal ini diawali dengan akan dibangunkannya daerah pengembangan kelor di Nusa tenggara Timur (NTT).

Di tahun 2020 juga sedang dilaksanakan proses penetapan sumber benih kelor di NTT sehingga benih yang akan diedarkan nantinya adalah benih yang bersertifikat sehingga terjamin mutunya.

Sumber: Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat

Philodendron williamsii Tanaman Hias Pembuat Hiasan

Philodendron merupakan salah satu marga pada suku Araceae dengan variasi jenis yang sangat banyak dan beragam, mMarga Philodendron merupakan anggota suku Araceae dengan jumlah jenis terbanyak setelah Anthurium.

Dilihat dari bunga morfologi dan anatomi vegetatifnya Philodendron dikelompokkan menjadi 3 sub-marga yaitu Meconostigma, Pteromischum dan Philodendron. Philodendron memiliki bunga berkelamin tunggal (uniseksual) dan bunga berkelamin ganda (biseksual). Tanaman pada marga Philodendron yang memiliki bunga biseksual umumnya terdiri atas karpel dan staminodes yang terdapat pada lingkaran atau ulir yang sama. Sedangkan pada bunga uniseksual terkelompok pada satu  tongkol  yang  terdiri  atas  bagian  bunga  betina pada  bagian  bawah,  diatasnya  tersusun  bunga  jantan  dan  ada  bagian zona  steril.  Zona  steril  tersebut  berada  di  antara bunga jantan dan bunga betina. Philodendron sub-marga Meconostigma memiliki pembungaan dengan termoregulasi yang baik, hal ini dapat menarik serangga sehingga terjadi polinasi silang.

Karakter lain yang dapat dijadikan sebagai penentu dalam memisahkan sub-marga adalah bentuk daun, karakteristik zona steril, pangkal dan pola ruas daun. Selain itu, dilakukan analisa  genetik  untuk  melakukan  pengelompokan  baru  Philodendron. Berdasarkan  perawakannya  Philodendron  dikelompokkan  ke  dalam lima tipe yaitu menyerupai pohon (arborescent), tegak (erect), susunan daun sangat rapat sehingga batang tidak terlihat (self-heading), semi merambat (semi vining), dan merambat (vining). P. williamsii merupakan salah satu jenis Philodendron dalam kelompok sub-marga Meconostigma dengan tipe arborescent. Tanaman ini juga diketahui hidup sebagai hemi-epifit pada tanaman lain.

Philodendron williamsii memiliki nilai ekonomis sebagai tanaman hias biasa digunakan untuk dekorasi interior. Tanaman ini dapat tumbuh maksimum meskipun ditanaman di dalam ruangan, hanya saja fase hidupnya tergolong singkat. Akar muda tanaman ini dikenal dengan sebutan "imbe" dimanfaatkan sebagai salah satu bahan dasar dalam pembuatan kerajinan. Lapisan luar akar muda tanaman ini digunakan sebagai bahan dasar untuk membuat hiasan, seperti penutup  lampu, boneka anyaman, dan nampan Penduduk Bahia menjadikan buah Philodendron williamsii sebagai makanan yang dikenal dengan "milho de caboclo".

Sumber: Balai Penelitian Tanaman Hias

Pakuwon Bio Fertilizer

Pakuwon Bio Fertilizer merupakan biofertilizer yang mengandung terdiri dari mikroba pemfiksasi N, pelarut hara P dan K, dengan kepadatan populasi 105-108 per gram dalam bahan pembawa yang sangat efektif untuk meningkatkan pertumbuhan dan produktivitas pada tanaman kopi. Pakuwon Bio Fertilizer ini pada tanaman kopi dapat memacu pembungaan serempak, merangsang peningkatan buah jadi, meningkatkan jumlah cabang sekunder, pematangan buah serempak dan membuat sifat fisik tanah menjadi remah serta mengurangi penggunaan pupuk buatan.

Sumber: Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar