Tahukah Anda?

Halaman 1 dari 32
No 1-5 dari 158

Bagaimana Menentukan Jenis Kelamin Anak Itik dari Warna Bulunya

Untuk Itik Master atau Itik MA, anak itik (DOD) umur 1 hari dapat ditentukan jantan atau betina hanya dengan melihat warna bulunya. DOD yang warna bulunya cerah betina sedangkan yang warna bulunya gelap jantan

Sumber: Puslitbangnak

Apakah itu Surjan?

Surjan adalah salah satu nmodel penataan lahan di daerah pasang surut yang berfungsi untuk mengoptimalkan penggunaan lahan dan meningkatkan diversifikasi usaha tani. Penerapan surjan dapat meningkatkan pendapatan petani serta mengurangi resiko kegagalan panen. Surjan mengadung pengertian meninggikan sebagian tanah di permukaan dari tanah yang digali di sekitarnya secara memanjang berbentuk surjan. Bagian tanah atau lahan yang ditinggikan disebut guludan/tembokan/borongan (raised bed), sedangkan bagian tanah yang digali disebut tabukan (sunken bed). Lahan tabukan ditanami padi, sedangkan guludan ditanaman tanaman palawija, hotikultura atau tanaman tahunan.

Sumber: BBSDLP, 2016

Teknologi Embung

Embung adalah kolam yang berfungsi menampung air saat musim hujan. Limpasan air saat musim hujan ditampung ke dalam Embung melalui saluran-saluran air untuk persediaan air di musim kemarau. Embung sudah lama dikembangkan di daerah lahan kering beriklim kering, dan menjadi salah satu teknologi ketidakpastian iklim pada lahan sawah tadah hujan. Melalui pasokan air dari Embung maka tanaman padi terhindar dari kekeringan dan puso. Manfaat Embung: - Menyimpan air yang berlimpah saat musim hujan, sehingga aliran permukaan, erosi tanah dan bahaya banjir di daerah hilir dapat dikurangi

- Memenuhi kebutuhan air pada lahan tadah hujan saat musim kemarau.

- Menunjang pengembangan usaha tani di lahan kering (tanaman pangan, perikanan, dan peternakan)

- Memasok kebutuhan air rumah tangga.

Sumber: BBSDLP, 2016

Tahukah Anda Kelas Benih Padi ?

Klasifikasi benih padi yang dikeluarkan Kementerian Pertanian dengan sub bagiannya yaitu Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) menempatkannya dalam 4 kelas, yaitu :

1. Benih Penjenis (BS / Breeder Seed / Label Kuning)

Benih penjenis (BS) adalah benih yang diproduksi oleh dan dibawah pengawasan Pemulia Tanaman yang bersangkutan atau Instansinya. Benih ini merupakan Sumber perbanyakan Benih Dasar.

2. Benih Dasar (FS / Foundation Seed / Label putih)

Benih Dasar (BD) adalah keturunan pertama dari Benih Penjenis. Benih Dasar diproduksi di bawah bimbingan yang intensif dan pengawasan yang ketat sehingga kemurnian varietas dapat terpelihara. Benih dasar diproduksi oleh Instansi/Badan yang ditunjuk oleh Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan produksinya disertifikasi oleh Balai Pengawasan dan Sertifikasi benih.

3. Benih Pokok (SS / Stock Seed / Label ungu)

Benih Pokok (BP) adalah keturunan dari Benih Dasar yang diproduksi dan dipelihara sedemikian rupa sehingga indetitas dan tingkat kemurnian varietas yang ditetapkan dapat dipelihara dan memenuhi standart mutu yang di tetapkan dan harus disertifikasi sebagai Benih Pokok oleh Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih.

4. Benih Sebar (ES / Extension Seed / Label Biru)

Benih Sebar (BR) merupakan keturunan dari Benih Pokok yang diproduksi dan dipelihara sedemikian rupa sehingga identitas dan tingkat kemurnian varietas dapat dipelihara, memenuhi standart mutu benih yang ditetapkan serta harus disertifikasi sebagai Benih Sebar oleh Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih.

Sumber: BB Padi

Tanaman Perkebunan Penghasil BBN

Berdasarkan studi literatur dan lapangan yang telah dilakukan, ada sepuluh jenis tanaman perkebunan yang berpotensi sebagai bahan bakar nabati (BBN), yaitu:

1. Aren (Arenga pinnata). Produksi nira aren pada umur 6-12 berkisar 8-22 liter/pohon/hari. Untuk memperoleh 1 liter etanol (kadar alkohol 70-90%) dibutuhkan 20-25 liter nira aren segar.

2. Bunga Matahari (Helianthus annus L.). Panen pada umur 120 hari setelah tanam. Produksi rata-rata sekitar 2,2 ton/hektar untuk penanaman sepanjang musim dan 1,7 ton/hektar untuk penanaman 2 kali. Kadar minyak 25-50%.

3. Jarak Kepyar (Ricinus communis L.). Panen pada umur 100-105 hari tergantung varietas. Ada 3 varietas, yaitu Asb 22, Asb 60, dan Asb 81, tetapi yang diminati petani adalah Asb 81, karena batang lebih kekar, tahan pada perubahan iklim, dan proses pembijiannya lebih mudah. Produksi rata-rata 1,6 ton/hektar. Kadar minyak 53-56%.

4. Kelapa (Cocos nucifera L.). Daging buah kelapa merupakan salah satu sumber BBN yang diolah menjadi cocodiesel. Cocodiesel dapat secara langsung digunakan atau dicampur dengan solar. Nira dan air kelapa dapat juga dibuat bioetanol. Perkebunan kelapa bisa menghasilkan gula 19 ton/hektar/tahun setara dengan 12,9 m3 bioetanol/hektar/tahun. Air kelapa melalui proses penambahan starter, fermentasi, destilasi, dan dehidrasi, akan dihasilkan bietanol.

5. Kemiri Sunan (Aleurites trisperma Blanco). Potensi produksi pada umur >10 tahun dapat mencapai 250 kg/pohon/hektar, apabila populasi 100 pohon/hektar, maka dapat dihasilkan 25 ton biji dan setara dengan 9.805 liter minyak kasar.

6. Kesambi (Schleichera oleosa Merr). Daging biji mengandung minyak 70%. Tanaman kesambi di Indonesia belum banyak dibudidayakan secara intensif.

7. Nyamplung (Calophyllum inophyllum L.). Berbuah mulai umur 5-20 tahun dan berbuah 2 kali setahun. Kadar minyak 50%. Minyak biji nyamplung memiliki lama pembakaran 2 kali lipat dibanding dengan minyak tanah.

8. Sagu (Metroxylon spp.). Umur panen batang sagu 7-10 tahun. Rata-rata produksi sagu 15 ton/hektar/tahun dan bila difermentasi akan menghasilkan 7,5 kilo liter bioetanol.

9. Simalakian (Croton tiglium). Produksi buah pada tahun pertama + 0,3-0,5 ton/hektar dan meningkat hingga 3-5 ton/hektar setelah dewasa. Rendemen minyak 25-26% sehingga produksi minyak dapat mencapai 1,2 – 2,5 ton/hektar/tahun.

10. Wijen (Semamum indicum L.). Umur panen bervariasi antara 2,5-5 bulan. Potensi produksi 0,9-1,6 ton/hektar. Kadar minyak 45-55%. MInyak wijen juga berpotensi sebagai biofuel dengan melalui proses transesterifikasi untuk menghasilkan biodiesel.

Sumber: Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan