Tahukah Anda

No 1-5 dari 188

Tahukah Anda Definisi Bentuk Beras?

Siapa yang tidak mengenal beras, apalagi beras atau nasi bila sudah dimasak merupakan makan pokok masyarakat Indonesia dan Asia kebanyakan. Kalau diperhatikan, bentuk beras itu bermacam-macam dan merupakan akibat dari berbagai hal. Apa saja itu?

Beras Utuh, dikatakan utuh bila butir beras tidak patah sama sekali.

Beras Kepala yakni butir beras dengan ukuran lebih besar atau sama dengan 80% bagian butir beras utuh.

Beras Patah bila butir beras dengan ukuran berkisar antara 20-80% bagian butir beras utuh.

Beras Menir yaitu butir beras dengan ukuran kurang dari 20% bagian dari butir beras utuh.

Butir Beras Merah adalah beras berwarna merah akibat faktor genetik.

Butir Beras Kuning yakni butir beras berwarna kuning kecoklatan akibat proses penanganan atau akibat aktivitas serangga.

Butir Beras Mengapur bila butir beras yang berwarna seperti kapur (chalky) dan bertekstur lunak yang disebabkan oleh faktor fisiologis.

Butir Beras Rusak kalau semua butir beras yang berwarna putih bening, putih mengapur, kuning, dan merah dengan banyak bintik (noktah) yang disebabkan oleh proses fisik, kimiawi, dan biologi. Beras dengan bintik kecil tunggal tidak termasuk butir rusak.

Itulah sekilas bentuk beras yang biasa kita temui sehari-hari.

 

Sumber: Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Kubis Ternyata Adaptif di Lahan Rawa

 

Kubis merupakan tanaman sayuran yang sudah dikenal oleh masyarakat Indonesia umumnya, dan Kalimantan Selatan khususnya.  Kubis merupakan sayuran yang dikonsumsi daunnya yang muda dalam bentuk Krop (belum terbuka). Daun muda tanaman kubis ini dapat diolah dengan berbagai variasi.  

Hasil olahan kubis pada umumnya sangat disukai, termasuk penulis sendiri.  Dengan mengiris/merajang  daunnya secara halus dan mencampurkannya dengan kocokan telur, jadilah dadar telor kubis yang nikmat.  Menu ini merupakan menu abadi dari mahasiswa sampai sekarang, karena cara olahnya  yang sangat praktis, dengan bahan dan alat yang sederhana.       

Kelebihan Tanaman kubis lainnya  adalah daya simpannya yang cukup lama. Selain itu juga kandungan nilai gizinya yang kompleks. Tanaman kubis juga mempunyai manfaat bagi kesehatan.  Bunga dari brokoli dapat berfungsi sebagai anti oksidan yang dapat mencegah penyakit kanker. Tetapi jenis kubis yang berdaun putih tidak baik dimakan terlalu banyak untuk penderita penyakit wasir.

Pada lahan rawa, baik lahan rawa lebak maupun rawa pasang surut, kubis dapat diusahakan.  Ada dua sistem  penanaman kubis di lahan rawa, yaitu penanaman secara hamparan dan melalui sistem surjan.     

Pada lahan rawa lebak dangkal budidaya kubis dapat dilakukan secara hamparan, dimana waktu penanaman dilaksanakan pada musim kemarau disaat lahan tidak berair.  Dalam budidaya secara hamparan ini, waktu tanam yang mesti diperhatikan, agar panen dilaksanakan sebelum musim hujan.  Pemilihan varietas kubis dengan umur panen yang tidak telalu lama (2 – 2,5 bulan) sangat dianjurkan. Penanaman secara hamparan yang perlu diperhatikan juga adalah pembuatan parit untuk memperlancar drainasi agar tanaman kubis tidak tergenang. 

Penanaman kubis dengan sistem surjan, dapat dilakukan pada lahan rawa pasang surut tipe luapan air b dan C, juga pada lahan rawa lebak dangkal dan tengahan pada musim hujan. Surjan adalah merupakan sebuah sistem pertanian di lahan rawa yang memadukan antara sistem sawah dengan sistem tegalan. Tipologi lahan yang cocok dengan model surjan ini adalah rawa pasang surut tipe luapan B, C rawa lebak dangkal yang ketinggian genangan 50 – 100 cm.  Pada bagian  tabukan (sawah) ditanami padi, sedang pada bagian tembokannya ditanami sayuran seperti kubis.

Dalam teknologi budidaya kubis ada beberapa hal yang harus diperhatikan, diantaranya pemilihan varietas ungul, persemaian, pengolahan lahan, pengapuran, pemberian bahan organik, pemasangan mulsa, tanam, pemberian pupuk buatan, pengendalian hama dan penyakit tanaman serta pemanenan.

Hasil dari kemajuan teknologi bidang pemuliaan, sekarang ini sudah tersedia pada kios kios Pertanian atau secara online varietas varietas kubis yang tahan panas dan adaptif untuk dataran rendah, seperti di lahan rawa.  Contoh dari  varietas varietas tersebut eperti  KK Cross, KS Cross, KY Cross, Intami dan Galaxi.    

Secara ekonomis berdasarkan  analisis finansial yang dilakukan, penanaman kubis pada lahan rawa lebak tengahan, dengan produksi yang dihasilkan mencapai 31,70 ton/ha, tanaman kubis merupakan komoditas yang sangat layak untuk diusahakan karena R/C rasionya 3,6. Suatu tawaran bertani yang menggiurkan.

 

Sumber: Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa

Murbei

 

Murbei merupakan tanaman berkayu yang awalnya masuk ke dalam bangsa Urticales. Linnaeous (1753) membagi bangsa Urticales, suku Moraceae, marga Morus menjadi 7 spesies yaitu Morus alba, Morus indica, Morus nigra, Morus papyrifera, Morus rubra, Morus tartarica, Morus tinctoria.

Di Indonesia sendiri, murbei merupakan tanaman yang dikenal luas sebagai pakan ulat sutera. Menurut Peraturan Menteri Kehutanan No.P.35/Menhut-II/2007 tentang HHBK, bahwa tanaman murbei merupakan salah satu jenis Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) (Isnan & Muin, 2015). Murbei di Indonesia terdapat 7 spesies yang cukup dikenal yaitu Morus alba, Morus nigra, Morus cathayana, Morus Australis, Morus multicaulis, Morus indica, dan Morus macroura (Andadari et al., 2013; Nurhaedah et al., 2012).

Awalnya tanaman murbei hanya dikenal masyarakat sebagai pakan ulat sutera. Namun, atas perkembangan teknologi dan penelitian menunjukkan bahwa tanaman murbei ternyata memiliki ragam manfaat baik sebagai bahan pangan, obat-obatan/kesehatan dan lingkungan. Buah murbei dapat dimakan sebagai buah meja, jus maupun minuman olahan lainnya.

Minuman teh murbei telah diproduksi dan dipasarkan secara komersial. Beberapa di antaranya sudah dapat ditemukan di pasaran maupun di apotek. Kegunaan murbei sebagai minuman kesehatan dapat menambah nilai guna bagi petani murbei yang selama ini hanya memanfaatkan tanaman murbei sebagai pakan ulat sutera (Isnan & Muin, 2015).

Murbei di Indonesia banyak dikembangkan di Jawa Barat sebagai bagian usaha persuteraan alam. Spesies Murbei di Jawa Barat yang berkembang antara lain Mbombycs, M alba, M multicaulis, M nigra dan M cathayana (Andadari et al., 2013,) Dalimarta, 1999). Selain 5 spesies di atas terdapat spesies Morus macraura yang terdapat daerah Sumatera Barat; di lembah gunung Merapi dan gunung Sago Batu Sangkar, di kaki gunung Talang, di sekitar Maninjau, Sungai Puar dan Batang Barus (Syamsuardi, 2015).

Murbei dapat tumbuh baik di Indonesia dengan ketinggian tempat pada 400- 800 meter di atas permukaan laut, Curah hujan berkisar antara 800-3.500 mm/tahun. Kondisi curah hujan yang baik tersebar sepanjang tahun selama musim pertumbuhan murbei (CH ±150 mm/bulan). Tanah bertekstur lempung, lempung berliat, dan lempung berpasir, serta banyak mengandung mineral dengan komposisi 40% mineral, 30% air, 20% udara dan 10% bahan organik dengan pH 6,5-7.

 

Sumber: Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika

Mengkudu, Si Pahit Kaya Manfaat

Mengkudu merupakan buah-buahan berwarna hijau yang banyak ditemukan di Australia, India, dan Asia Tenggara, termasuk di Indonesia. Di Indonesia, buah ini memiliki banyak nama seperti keumeudee (Aceh); mengkudu (Lampung); pace, kemudu, kudu (Jawa); cangkudu (Sunda); kodhuk (Madura); tibah (Bali).

Sedangkan di luar negeri, buah ini juga memiliki nama populer seperti noni (Hawai‘i), Indian mulberry (English), lada (Guam, Northern Marianas), nono (Cook Islands, Tahiti), non (Kiri- bati), nonu, nonu atoni, gogu atoni (Niue, Samoa, Tonga, Wallace, Futuna), nen, nin (Marshall Islands, Chuuk), ke- sengel, lel, ngel (Palau), kura (Fiji), canary wood (Australia).

Tanaman ini dapat tumbuh dari dataran rendah sampai dataran tinggi, iklim kering maupun iklim basah, tanah masam atau berbatu, dan tahan terhadap salinitas.

Buah ini mengandung zat Scopoletin pada mengkudu bermanfaat untuk melebarkan pembuluh darah dan menurunkan tekanan darah; anti bakteri dan anti jamur; antiinflamasi; analgesik; penghambat histamin; kondisi rematik; alergi; gangguan tidur; sakit kepala migrain; depresi; penyakit Alzheimer.

Sedangkan Anthraquinones (damnacanthal) : antiseptic dan anti bakteri hingga anti kanker. Kandungan polysaccharides (glucuronic acid; galactose; arabinose; rhamose; glycosides; trisaccharide fatty acid ester)  juga dapat digunakan sebagai pembangkit imun (Immuno-stimulatoryimmuno-modulatory; anti-bacterial; anti-tumor hingga anti kanker.

Zat Alizarin dalam mengkudu bisa memutus darah dari pembuluh ke tumor. Sedangkan kandungan Alkaloids (xeronine) bisa mengaktifkan enzim-enzim dan mengatur pembentukan protein pada membran sel dalam tubuh, hingga memperbaiki sel rusak.

Kemudian ada zat Morindon yang digunakan sebagai pencahar di kolon, bersifat antibakteri serta dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Pemanfaatan mengkudu dalam pengobatan tradisional sebagai obat tekanan darah tinggi, antioksidant, beri-beri, radang ginjal, radang empedu, radang usus, radang amandel, menghambat pertumbuhan tumor,menghambat sel yang menyebabkan kanker, melancarkan kencing, disentri, sembelit, nyeri limpa, limpa bengkak hingga sakit lever.

Tak hanya itu, mengkudu bisa mengobati liur berdarah, kencing manis (diabetes melitus), cacingan, cacar air, kegemukan (obesitas), sakit pinggang (lumbago), sakit perut (kolik), perut mulas karena masuk angin.

Sedangkan untuk kecantikan, mengkudu bisa digunakan untuk kulit kaki yang terasa kasar (pelembut kulit), menghilangkan ketombe, antiseptik, peluruh haid, pembersih darah.

Pemanfaatan mengkudu dapat dimakan langsung dan dapat dibuat menjadi jus. Rebusan buah serta kulit batang atau akar dapat digunakan digunakan untuk mencuci luka dan ekzema (eksim).

 

Sumber: Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Kenali Delima, Salah Satu Jenis Buah Subtropika

Delima (P. granatum L.) merupakan salah satu jenis buah-buahan (edible fruit) tertua yang pernah ditemukan. Delima merupakan salah satu tanaman buah yang telah lama dikenal seiring dengan perkembangan peradaban manusia, terutama pada daerah-daerah beriklim agak kering hingga kering.

Tanaman delima diperikirakan berasal dari daratan Persia dan daerah sekitarnya. Spesies-spesies liarnya banyak tumbuh alami di daerah Transcaucasia dan Asia Tengah dari Iran, Turkmenistan hingga bagian utara India. Delima dapat tumbuh pada berbagai tipe tanah kecuali pada tanah-tanah dengan pH terlalu tinggi atau tanah salin. Tanaman delima menghendaki tanah dengan drainase baik dan tidak telalu padat untuk perkembangan akar yang optimal.

Biasanya buah delima dimakan bentuk buah segar maupun minuman dan dikenal mengandung antioksidan yang baik untuk tubuh. Buah delima mempunyai kandungan senyawa kimia yang beragam dan berguna untuk pengobatan dan kesehatan manusia. Buah yang sudah masak mengandung sejumlah asam organik seperti asam sitrat, malat, oksalat, asetat, fumarat, tartarat dan laktat dan gula seperti glukosa, fruktosa, sukrosa dan maltose.

Hingga kini belum terdapat data yang akurat perihal luasan tanam dan panen tanaman delima di Indonesia. Tanaman delima umumnya masih dibudidayakan secara sederhana dalam pekarangan dan tidak dalam skala besar, sehingga potensi pengembangan secara lebih komersial masih sangat luas.

 

Sumber: Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika