Tahukah Anda

No 6-10 dari 207

Tanah Podsolik

Tanah podsolik adalah tanah yang terbentuk karena curah hujan yang tinggi dan suhu yang sangat rendah, dan juga merupakan jenis tanah mineral tua. Jenis tanah ini umumnya  berwarna kekuningan dan kemerahan.

Warna tanah podsolik mengindikasikan kesuburan tanah yang relatif rendah. Warna kuning dan merah disebabkan oleh besi dan aluminium yang teroksidasi. Mineral liat di tanah ini didominasi oleh silikat dan tersebar di daerah pegunungan di Sumatra, Kalimantan, Jawa Barat, Maluku, Papua dan Nusa Tenggara.

Di area ini, tanah podsolik biasanya dijadikan kebun. Beberapa tanaman yang sering menggunakan tanah Podsolik adalah kelapa, karet, jambu mete, dan kelapa sawit.

Ciri-ciri tanah podsolik:

•       Berasal dari bahan induk batuan kuarsa yang berada di zona iklim basah yang memiliki curah hujan antara 2500  hingga 3000 mm/tahun.

•       Mempunyai sifat yang mudah basah.

•       Mengalami pencucian hara dan ion lainnya yang disebabkan oleh air hujan.

•       Dapat dimanfaatkan untuk persawahan dan juga perkebunan.

•       Memiliki tekstur tanah berlempung dan juga berpasir.

•       pH rendah.

•       Mempunyai unsur aluminum yang tinggi dan juga besi yang tinggi.

 

Sumber: Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Pala Hutan Aceh Selatan

Pala hutan di Aceh Selatan  banyak ditemukan di areal perbukitan dan diidentifikasi sebagai Myristica schifferii  Warb. Pohon dengan tinggi tanaman dapat mencapai 20 meter. Buahnya berbentuk bulat sampai agak lonjong. Warna kulit buah muda kehijauan, dan pada buah yang telah tua kulit buah berwarna kecokelatan.

Ukuran tanaman, daun, buah dan biji pala hutan aceh lebih besar dari buah/biji pala pada umumnya. Biji diselimuti arilus bewarna jingga terang saat matang, atau warna arilus krem kekuningan saat masih muda. Penutupan arilus pada buah padat dan rapat sehingga biji tidak kelihatan. Buah, arilus dan biji tidak  ber-sifat aromatik. 

Buah dan fuli bila dipegang agak bergetah dan cen-derung  agak lengket. Belum ada penggunaan secara tradisional  buah, biji dan fuli pala hutan untuk kesehatan oleh masyarakat setempat. Namun biji pala hutan dimanfaatkan oleh petani setempat sebagai batang bawah disambung dengan pala budidaya.

Disinyalir penggunaan pala hutan sebagai batang bawah untuk mendapatkan tanaman tahan terhadap serangan jamur akar putih, selain mendorong pertumbuhan tanaman lebih cepat besar. Penggunaan pala hutan sebagai batang bawah ini perlu dikaji lebih lanjut pengaruhnya terhadap mutu buah dan biji sebelum dikembangkan di areal yang lebih luas.

Sumber: Warta Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Tanaman Hias Ophipogon Japonicas

Ophiopogon merupakan marga terbesar dalam tribe Ophipogoneae yang meliputi 65 jenis. O. japonicas merupakan tanaman hias daun yang banyak digunakan sebagai tanaman penutup tanah dan tanaman pembatas. Nama umum O. japonicas ini adalah Monkey gass dan Mondo. Nama Mondo dahulunya adalah nama marga yang diberikan kepada kelompok tanaman yang sekarang dikenal sebagai Ophiopogon. Kemudian Mondo ini tidak lagi menjadi marga tapi nama umum tanaman tersebut.

Habitat asli tanaman ini adalah di dataran rendah, di kaki bukit, hutan, semak-semak yang rapat di jurang, tempat yang lembab, tempat teduh di lereng, dan di sepanjang sungai serta tebing pada ketinggian 200–2. 800 m dpl. Tanaman ini tumbuh dengan baik dengan pencahayaan paparan cahaya matahari penuh, maupun sinar matahari terbatas, drainase yang baik, dan tanah lembab berpasir atau lempung berpasir dengan derajat keasaman (pH) antara 6,5–7,5.

O. japonicas memiliki toleransi yang tinggi terhadap stres dan dapat beradaptasi dengan baik pada berbagai kondisi kelembaban, sehingga dapat mempertahankan warna hijau pada daunnya di musim dingin sekalipun. Toleransi terhadap stres lingkungan tersebut merupakan salah satu faktor yang paling penting dalam kelangsungan hidupnya. Salah satu tujuan utama dalam program pemuliaan O. japonicas adalah dengan meningkatkan toleransi stress lingkungan.

Toleransi terhadap stress lingkungan pada O. japonicas dikarenakan adanya gen betaine aldehyde dehydrogenase (BADH) yang dimilikinya, sehingga dapat mengkatalisis tahap terakhir dalam sintesis betaine glisin dari kolin. Betaine glycine merupakan osmoprotektan yang dihasilkan, dari respon terhadap stress lingkungan, antara lain salinitas, dan stres tekanan osmotik lainnya. Ekspresi BADH yang berlebihan menyebabkan terjadinya peningkatan toleransi terhadap salinitas dan tekanan osmotik dalam banyak organisme. Oleh karena itu, isolasi gen BADH dari O. japonicas dapat digunakan untuk merakit tanaman yang toleran terhadap stres salinitas.

Jenis O. japonicas dikenal luas sebagai bahan obat herbal dan sebagai bahan makanan. Akar tanaman ini digunakan sebagai bahan makanan di Taiwan dan sebagai makanan fungsional di China serta sebagai pengganti ginseng. Akar O. Japonicas mengandung 1,6% protein, 0,5% lemak dan 80% karbohidrat. Di samping itu, akarnya mengandung gula, ß-sitosterol, ophiopogonin A, ophiopogonin B dan ophiopogonone A.

Hasil pengamatan Chen et al. (2005) menunjukkan bahwa akar O. japonicas mengandung mineral N, P, dan K. Kemudian, Lou & Xu (2007) melaporkan bahwa akar O. japonicas mengandung mineral Ni, Zn, Mn, Cu, Mg, Fe, dan Ca, serta Pb. Akar O. japonicas memiliki aroma khas dan manis rasanya, namun beberapa laporan menyatakan bahwa akar tanaman ini terasa pahit dan rasa tersebut harus dihilangkan sebelum dikonsumsi.

O. japonicas digunakan sebagai obat tradisional di China karena mengandung senyawa antibakteri dan dapat meredakan gejala penyakit seperti batuk, menghilangkan dahak, dan rasa panas di paru-paru yang disebabkan oleh infeksi akibat bakteri serta mengendalikan penyakit diabetes mellitus. O. japonicas dapat menghambat perkecambahan dan pertumbuhan beberapa bakteri dan jamur seperti Staphylococcus aureus. Ekstrak dari O. japonicas merupakan penghambat yang kuat bagi pertumbuhan jamur mildew.

Akar O. japonicas dikenal dengan sebutan ‘Maidong’ digunakan sebagai obat tradisional di China, untuk menyembuhkan penyakit kardiovaskular, peradangan akut dan kronis. Akar tanaman tersebut mengandung senyawa homoisoflavanones, dua glikosida borneol, sapogenin steroid, ophiogenin glikosida dan bornyl glikosida.

Sumber: Dedeh Kurniasih dan Budi Winarto (Balai Penelitian Tanaman Hias)

Sumber: Balai Penelitian Tanaman Hias

Teknologi Penguapan untuk Memperpanjang Masa Simpan Sorgum

Sorgum sebagai bahan pangan potensial dengan komposisi gizi yang cukup memadai dan tidak kalah dengan serealian lainnya. Prospek sorgum sangat mendukung untuk diversifikasi pangan, bahkan produk pangan fungsional, karena sorgum mengandung tanin yang mempunyai efek antioksidan .

Selain untuk pangan, Sorgum merupakan tanaman yang mempunyai prospek yang cukup besar untuk dikembangkan sebagai bahan baku etanol. Hasilnya akan optimal apabila menggunakan benih yang bermutu dan teknologi budi dayanya yang tepat.

Berbeda dengan jagung atau kedelai, biji sorgum yang melekat pada malai tidak mempunyai pelindung seperti kelobot atau polong. Sehingga biji sorgum sangat rentan hilang menjelang panen akibat dimakan burung, serangga, dan jamur. Apalagi jika panen tidak bisa menghindari musim hujan, kerusakan hasil panen dalam bentuk malai tidak bisa dihindari.

Untuk menghindari kerusakan serta untuk memperpanjang umur simpan sorgum dalam bentuk malai bisa diatasi dengan perlakuan uap panas. Teknologi ini sifatnya sederhana dengan peralatan yang dapat dibuat di bengkel-bengkel pedesaan.

Tahapan untuk perlakuan uap panas pada biji sorgum adalah sebagai berikut: siapkan alat penangas dan atur suhu pada kisaran 65-70%. Sorgum dalam betuk malai disortasi dan masukan ke alat penangas dan biarkan selamat 35 menit. Selanjutnya, angkat malai yang telah diberikan perlakuan uap panas dan diangin-anginkan di tempat terbuka di atas bambu atau dus.  Setelah diangin-anginkan malai dapat dibiarkan sambil menunggu proses penanganan pengolahan untuk bahan pangan.

Teknologi ini sangat mudah dan bisa diterapkan oleh petani. Sehingga sorgum dalam bentuk malai dapat di simpan lebih lama sebelum diproses menjadi bahan produk olahan.  (Uje)

Sumber: Balitsereal

Kambing Panorusan Samosir

Pasti sudah tahu kan Sumatera Utara itu penduduknya suku Batak. Di sana ada kambing namanya kambing Panorusan Samosir. Sering juga disebut kambing putih atau kambing Batak. Kambing ini tersebar di Kabupaten Samosir tepatnya ditengah-tengah danau Toba.

Ciri khas kambing ini memiliki bulu berwarna putih dan kombinasi belang putih hitam. Bobot kambing jantan usia 1 tahun 28 kg dan betina 21 kg. Kambing ini memiliki kedekatan genetik dengan kambing Marica, kambing Benggala, kambing Jawarandu, kambing Kacang dan kambing Muara. Kambing Batak ini mampu berkembang dengan baik pada kondisi dataran tinggi berbukit dan berbatuan.

Dalam acara adat seperti pernikahan, membangun rumah, membangun makam/tugu, pengobatan orang sakit dan ritual tolak bala kambing ini berperan penting. Tidak mengherankan jika kambing ini memiliki nilai harga jual yang cukup tinggi terutama untuk kambing dengan warna putih polos (tanpa ada campuran warna apapun).

Rumpun Kambing Panorusan Samosir telah ditetapkan sebagai kekayaan sumber daya genetik ternak lokal Indonesia dengan SK Menteri Pertanian Nomor 40 Tahun 2017. Penetapan ini berdasarkan usulan Bupati Samosir Rapidin Simbolon.Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) memiliki tiga ekor Panorusan Samosir yang berada di Loka Penelitian Kambing Potong sebanyak tiga ekor.

Populasi Panorusan Samosir saat ini sangat sedikit, untuk itu kambing samosir atau kambing batak ini perlu dilestarikan. (REP)

Sumber: Loka Penelitian Kambing Potong