Tahukah Anda

No 16-20 dari 207

Lakukan Lima Hal Sebelum Anda Menggunakan Mesin Penyiang Padi (Power Weeder)

Penyiangan padi merupakan salah satu kegiatan dalam budidaya tanaman padi sawah yang berpengaruh menentukan produksi hasil pertanian. Mesin penyiang bermotor merupakan salah satu alternative cara penyiangan disamping cara-cara penyiangan yang lain (dicabit langsung dengan tangan, dengan alat landak dll). Mesin penyiang padi bermotor (Power Weeder) YA-1/20, merupakan prototype yang dirancang sedemikan rupa sehingga mampu digunakan untuk kegiatan penyiangan padi sawah sampai dengan umur 40 hari.

Cara pengoperasian cukup mudah dan ringan sehingga mampu dioperasikan oleh satu orang. Namun demikian kondisi lahan dan tanaman yang mampu disiang oleh mesin penyiang bermotor ini adalah lahan sawah dengan kedalaman lumpur tidak boleh lebih dari 20 cm (kedalaman kaki orang di dalam lumpur < 20 cm) juga jarak antar baris tanaman harus benar-benar rata dan lurus sesuai dengan jarak tanam yang ditentukan.

Lima hal yang harus diperhatikan sebelum Anda menggunakan Mesin penyiang padi (Power Weeder) supaya aman.

1. Sebelum operasi

    - Gunakan pakaian yang nyaman dan aman untuk kerja mkd, mdkd, atau mkkd

    - Pastikan kover dan pengaman pada mesin terpasang

2. Pengecekan sebelum kerja

    - Cek apakah ada komponen yang kendor, cukupkah minyak pelumas, grease dan bahan bakar serta pastikan tidak ada kebocoran

    - Perhatikan keadaan sekitar ketika anda menstart engine

    - Hati-hatilah pada saat start usahakan pada saat start cakar penyiang tidak menyentuh tanah

3. Pengecekan selama pengoperasian

   - Apabila cakar penyiang terbelit tanah dan rumput yang tebal, hentikan mesin dan bersihkan cakar tersebut

   - Apabila sudah selesai bekerja dari satu lahan ke lahan lain matikan mesin waktu pindah lokasi

   - Jangan sentuh knalpot selama mengoperasikan mesin, atau setelah mesin dimatikan

4. Bahan bakar

   - Untuk pengisian bahan bakar, matikan mesin dan tunggu sampai dising

   - Jangan nyalakan api ketika melakukan pengisian ulang atau membersihkan mesin

   - Jangan tumpahkan bahan bakar waktu melakukan pengisian, atau bersihkan bila terjadi tumpahan

   - Ikuti petunjuk pemaikan cara pencampuran bahan bakar

5. Setelah pemakaian

    - Jangan sentuh kanlpot mesin seketika setelah mesin dimatikan

    - Pada daat perbaikan atau penyeltelan, matikan mesin dan lepas kabel tegangan tinggi ke busi

    - Bila mesin ingin disimpan pada jangka waktu lama, bersihkan tiap komponen dan lamsilah dengan minyak pada komponen terbuat dari logam.

Itulah yang Lima hal yang harus diperhatikan sebelum Anda menggunakan Mesin penyiang padi (Power Weeder) supaya aman.

Sumber: Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian

Lahan Sawah Pasang Surut

Pengertian lahan sawah pasang surut adalah lahan sawah yang tergantung pada air sungai yang dipengaruhi oleh pasang surutnya air laut sebagai sumber pengairannya. Lahan jenis pasang surut ini akan mengatur jumlah air masuk ketika air laut mulai pasang biasanya pada malam hari.

Lahan sawah pasang surut ini biasanya ditemui di daerah pesisir dan lokasi tertentu seperti di Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Lahan sawah pasang surut mulai bisa ditanami pada musim kemarau dimana keadaan air akan menyusut kisaran bulan Juli sampai September. Pada Desember sampai Mei lahan tidak bisa ditanamai karena debit air akan tinggi dan sulit untuk surut karena bertepatan dengan musim hujan.

Ragam lahan sawang pasang surut antara lain lahan gambut, lahan salin, lahan sulfatmasam, juga lahan potentsial.

Lahan gambut adalah lahan yang mengandung karbon organik (organik C) jenuh air 12-18% atau tidak pernah jenuh air dengan kandungan karbon organik 10%. Beberapa macam lahan gambut dibedakan berdasarkan ciri berikut: lahan bergambut (ketebalan lapisan gambut 20-50 cm), lahan gambut dangkal (lapisan gambut 50-100 cm), lahan gambut sedang (lapisan gambut 100-200 cm), dan lahan gambut dalam (lapisan gambut 200-300 cm).

Lahan salin adalah lahan pasang surut yang terintrusi air laut selama lebih dari 3 bulan dalam setahun, kandungan natrium (Na) dalam air tanah > 8%; tipologi lahannya bisa lahan potensial, sulfat masam atau bergambut.

Lahan sulfatmasam adalah lahan yang memiliki kadar lapisan pirit atau sulfidik > 2% pada kedalaman < 50 cm. Lahan Sulfat Masam dibedakan menjadi: lahan Sulfat Masam Potensial (lapisan piritnya belum teroksidasi), lahan sulfat Masam Aktual (lapisan piritnya telah teroksidasi yang dicirikan oleh adanya horizon sulfidik dengan pH < 3,5).

Lahan Potensial adalah lahan yang masalahnya paling sedikit, terutama karena lapisan pirit (FeS) berada pada kedalaman lebih dari 50 cm.

Diolah dari berbagai sumber:

https://www.sampulpertanian.com/2017/06/pengertian-lahan-sawah-pasang-surut_7.html

http://bbpadi.litbang.pertanian.go.id/index.php/info-berita/tahukah-anda

Sumber: Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Buah Tin Juga Ada di Indonesia

Tin (Ficus carica L.) merupakan buah subtropika yang masuk dalam satu spesies Mediterania tradisional dalam famili Moraceae. Berdasarkan catatan sejarah, tin termasuk tanaman buah tertua di dunia dan dianggap sebagai simbol kehormatan serta kesuburan.

Tanaman ini dapat beradaptasi di berbagai kondisi (kekeringan dan suhu dingin -9 derajat celcius), bahkan di padang pasir sekalipun, sehingga terkadang disebut sebagai pohon kehidupan. Tanaman tin telah masuk ke Indonesia pada abad ke-19 dan beradaptasi. Salah satu keuntungan budidaya tin di wilayah tropis adalah kemampuannya berbuah sepanjang tahun.

Tanaman tin sangat banyak dibudidayakan diberbagai belahan dunia, karena mudah beradaptasi pada tanah dan iklim setempat. Kondisi ideal yang diinginkan adalah total hujan 500–550 mm, kelembapan udara rendah 40–45% selama musim kering dan ratarata suhu 18°–20°C daerah Mediterania yang musim dinginnya moderat (sejuk) dan musim panas yang kering dengan suhu 32–37°C, pencahayaan matahari yang kuat. Tanaman ini tumbuh di berbagai lingkungan dan tipe tanah.

Di Indonesia, tanaman tin mulai dibudidayakan karena permintaan yang cenderung mengalami peningkatan. Hal ini terlihat dari tren impor dari tahun 2009-2018, dari 1,7 ton menjadi 21 ton sehingga menyerap devisa sebesar 109 ribu US$ atau setara 297 juta rupiah. Sebaran pengusaha tin di Indonesia yaitu Jawa Timur enam orang, Jawa Tengah empat orang, Jawa Barat tiga orang, DKI Jakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta masing-masing dua orang.

 

Sumber: Balai Penelitian Tanaman Jeruk

Tahukah Anda: Tanaman Hias Hedera Helix?

Hedera helix disebut dalam bahasa Inggris yakni English Ivy, European Ivy, Ivy dan sebutannya dalam bahasa Indonesia adalah Daun Ivi. Tanaman Hedera umumnya diperdagangkan dalam bentuk tanaman hias daun potong, dalam pot untuk interior dan taman serta banyak digunakan sebagai tanaman hias gantung.

Warna daun yang bercorak (variegata) dan tahan pemangkasan membuat tanaman ini banyak diminati konsumen.  Asosiasi komunitas ivy Amerika menetapkan klasifikasi sistem ivy berdasarkan bentuk dan warna daun dalam perdagangan ivy.  Semua kultivar dijual dalam fase juvenile tanpa bunga.

Namun perlu diperhatikan bahwa tanaman Hedera mempunyai zat yang bersifat racun bagi hewan dan manusia yakni alkaloida, saponin dan polifenol. Bila tanaman ini termakan atau tertelan akan mengakibatkan alergi bagi kulit, muntah, kejang, kesulitan bernafas sampai dapat mengakibatkan koma. Oleh karena itu tanaman ini dapat digunakan sebagai bahan biopestisida.

Tanaman ini juga tergolong tanaman berhari pendek obligat (obligate short day plant) dengan fase juvenile mencapai 10 - 15 tahun dan memerlukan kondisi lingkungan berbeda antara fase sebelum dan saat inisiasi pembungaan.  

Fase sebelum inisiasi tidak membutuhkan kondisi lingkungan yang spesifik, namun saat proses inisiasi membutuhkan kondisi hari pendek selama 12 jam yang diikuti dengan hari panjang (16 jam) pada suhu lingkungan optimal 16 derajat Celcius dengan batas suhu 21 derajat Celcius. 

Lingkungan seperti ini sangat jarang terjadi pada kondisi tropis seperti Indonesia, sehingga tanaman H helix jarang terlihat berbunga atau menghasilkan buah atau biji secara alami. (Irm/Tds)

 

Sumber: Balai Penelitian Tanaman Hias

Tahukah Anda Definisi Bentuk Beras?

Siapa yang tidak mengenal beras, apalagi beras atau nasi bila sudah dimasak merupakan makan pokok masyarakat Indonesia dan Asia kebanyakan. Kalau diperhatikan, bentuk beras itu bermacam-macam dan merupakan akibat dari berbagai hal. Apa saja itu?

Beras Utuh, dikatakan utuh bila butir beras tidak patah sama sekali.

Beras Kepala yakni butir beras dengan ukuran lebih besar atau sama dengan 80% bagian butir beras utuh.

Beras Patah bila butir beras dengan ukuran berkisar antara 20-80% bagian butir beras utuh.

Beras Menir yaitu butir beras dengan ukuran kurang dari 20% bagian dari butir beras utuh.

Butir Beras Merah adalah beras berwarna merah akibat faktor genetik.

Butir Beras Kuning yakni butir beras berwarna kuning kecoklatan akibat proses penanganan atau akibat aktivitas serangga.

Butir Beras Mengapur bila butir beras yang berwarna seperti kapur (chalky) dan bertekstur lunak yang disebabkan oleh faktor fisiologis.

Butir Beras Rusak kalau semua butir beras yang berwarna putih bening, putih mengapur, kuning, dan merah dengan banyak bintik (noktah) yang disebabkan oleh proses fisik, kimiawi, dan biologi. Beras dengan bintik kecil tunggal tidak termasuk butir rusak.

Itulah sekilas bentuk beras yang biasa kita temui sehari-hari.

 

Sumber: Balai Besar Penelitian Tanaman Padi