» Info Aktual » Kabadan: Aset Balitbangtan Agar Dimanfaatkan Seoptimal Mungkin
21 Okt 2020

Lembang – Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) berencana mengembalikan model bio-industri terpadu industri penyulingan seraiwangi, ternak sapi perah dan biogas dengan konsep sistem pertanian semi tertutup meminimalkan input dari external dan berprinsip nir limbah (zero waste management). Hal itu diungkap Kepala Balitbangtan Dr. Fadjry Djufry dalam kunjungan kerjanya ke Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian (IP2TP) Manoko, Lembang Kamis (15/10/2020).

Dijelaskan bahwa penyulingan seraiwangi menghasilkan minyak sebagai output utama dan biomasa padat berupa rumput hasil samping peyulingan. Biomasa padat dapat digunakan langsung untuk pakan sapi perah sebagai pengganti hijauan.

Kunjungan kerja Kabadan adalah untuk rencana revitalisasi kebun sebagai sarana diseminasi teknologi dan agro edu wisata (AEW) yang dapat menjadi tempat destinasi pembelajaran petani dan masyarakat. Dengan demikian, petani dapat mencontoh langsung sistem usaha terpadu pertanian dan peternakan disamping bisa menikmatinya sebagai salah satu tujuan wisata pendidikan yang memadukan keindahan alam dan inovasi teknologi Balitbangtan.

Fadjry juga melihat kondisi IP2TP Manoko yang dulu dikenal sebagai lokasi percontohan integrasi sapi serai wangi dengan menerapkan konsep Bioindustri. Selain itu, Kabadan meninjau koleksi tanaman eucalyptus yang ada di Kebun Percobaan (KP) Manoko. Koleksi tanaman inilah yang awalnya menjadi bahan penelitian untuk menghasilkan beberapa produk yang sekarang sudah komersial di pasaran dan dilisensi oleh mitra yaitu produk Euca Roll-on, Euca Inhalant dan Euca card.

Pada kesempatan berkeliling lokasi, Fadjry meminta IP2TP Manoko dibenahi agar beragam koleksi tanaman atsiri, rempah maupun obat yang ada bisa ditata dengan indah dan baik sehingga nantinya dapat menjadi bahan penelitian maupun juga sebagai lokasi kunjungan maupun pembelajaran. Fadjry juga melihat banyak koleksi khususnya tanaman atsiri yang belum terlalu dieksplor seperti koleksi tanaman Melaleuca, Artemisia, Anise, Eucalyptus, Akar wangi, dan lainnya.

Fadjry lebih lanjut berharap agar aset yang dimiliki oleh Balitbangtan bisa dimanfaatkan seoptimal mungkin. Tidak saja sebagai lokasi penelitian tetapi juga untuk konservasi plasma nutfah. “Disamping juga menghasilkan PNBP yang dapat digunakan untuk pengembangan Kebun Percobaan (KP) serta juga dapat menjadi lokasi tujuan wisata seperti yang sedang dikembangkan oleh Kementan melalui program Agro Edu Wisata,” ujarnya. (Bur)