» Info Aktual » Riset Kolaboratif untuk Swasembada Bawang Putih
07 Jun 2021

Tabanan – Bawang putih merupakan salah satu komoditas sayuran strategis dari sekian banyak komoditas hortikultura. Kementerian Pertanian mencanangkan swasembada bawang putih pada tahun 2024 melalui Kebijakan Wajib Tanam dan alokasi anggaran APBN.

Untuk pemenuhan swasembada bawang putih tersebut, Kementerian Pertanian melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) tahun 2021 melaksanakan Riset Pengembangan Inovatif Kolaboratif (RPIK) bawang putih di beberapa sentra pengembangan. Salah satunya di Kecamatan Baturiti dan Jatiluweh Penebel, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali.

Tanam perdana kegiatan RPIK bawang putih oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura (Puslitbanghorti) dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bali, Jumat (4/6/2021) di Banjar Batu Seta, Kabupaten Tabanan Bali. Kegiatan tersebut dihadiri antara lain oleh Wakil Bupati Tabanan I Made Edi Wirawan, SE, Kepala Puslitbanghorti Dr. Taufiq Ratule, Anggota Komisi IV DPR RI Dapil Bali Drs. I Made Urip, M.Si, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan, Kepala BPSB-TPH Provinsi Bali, Penyuluh Pertanian dan POPT Kecamatan Baturiti serta petani pelaksana kegiatan.

Dikatakan bahwa permasalahan utama bawang putih lokal adalah (a) produktivitas rendah, (b) bersiung dan berumbi kecil, sulit dikupas sehingga kurang diminati konsumen; (c) Performa atau penampakan secara fisik kurang bagus; (d) efisiensi produksi rendah; (e) harga relatif rendah; dan (f) kurang mampu bersaing di pasar.

Sedangkan bawang putih impor memiliki karakter (a) produktivitas tinggi; (b) bersiung dan berumbi besar, sehingga lebih diminati konsumen; (c) Performa atau penampakan secara fisik lebih bagus dan lebih diminati konsumen; (d) efisiensi produksi tinggi karena diusahakan secara intensif pada skala ekonomi; (e) harga relatif rendah; dan (f) memiliki kemampuan bersaing di pasar.

Untuk itu, kegiatan RPIK bawang putih ditujukan untuk mendapatkan produk bawang putih dengah ukuran  besar (ukuran 5-7 cm) atau provitas lebih dari 20 ton/ha. Beberapa upaya yang dilakukan, antara lain: a) Merekayasa Varietas umbi besar dan teknologi perbanyakan benih untuk menghasilkan bawang putih berumbi besar, varietas umbi besar hasil eksplorasi dan perbaikan teknologi perbanyakan benih secara konvesional, b) Merekayasa Teknologi perbanyakan benih melalui somatic embryogenesis (SE), c) Rekomendasi pengembangan bawang putih di Indonesia, d) Model pengembangan inovasi proliga (produksi lipat ganda).

Pengembangan RPIK antara lain melalui demfarm teknik proliga dengan best practice budidaya dan penggunaan varietas unggul Lumbu hijau dan Tawangmangu Baru seluas 6,0 ha di Kecamatan Baturiti dan Jatiluweh Kabupaten Tabanan Bali. Teknik tersebut diharapkan dapat menghasilkan bawang putih berumbi besar dan produktivitas tinggi sehingga dapat bersaing dengan bawang putih impor.

Selain pengembangan proliga juga terdapat perbaikan varietas unggul bawang putih dataran tinggi dan menengah dengan beberapa perlakukan hormon pengatur zat tumbuh, pengaturan mulsa tanah dan teknik perbanyakan benih non-konvensional dengan cepat. Teknik yang disebut ‘Proliga Super’ tersebut untuk memperoleh umbi besar dan provitas tinggi. Demfarm dan penelitian paket Proliga super ini dilakukan di lokasi Nglebak Tawangmangu Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah dengan luas 1,3 hektar

Lebih lanjut, dilakukan pula analisis kebijakan pengembangan bawang putih melalui survei pemasaran dan perdagangan bawang putih impor serta menelusuri Program APBN pengembangan bawang putih yang telah dimulai dari tahun 2015-2021, regulasi impor dan harga yang wajar sehingga menarik petani untuk melakukan budidaya.

Output dari kegiatan analisis kebijakan tersebut adalah rekomendasi kebijakan Kementerian Pertanian dalam mengatur swasembada bawang putih di Indonesia bersama dengan Kementerian atau Lembaga lain yang terkait. (Ind)

Informasi lebih lanjut: Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura