» Info Aktual » Maksimalkan Produksi Pisang, Balitbangtan Sampaikan Cara Budidaya Efektif
24 Jun 2021

Bogor – Pisang adalah buah yang paling banyak dikonsumsi oleh orang Indonesia. Rasanya yang manis dengan tekstur yang empuk membuatnya sangat digemari oleh masyarakat.

Namun dalam budidaya pisang, petani kerap menemukan berbagai kendala seperti adanya penyakit layu fusarium yang dapat menyebabkan daun pisang menguning, pelepahnya layu, terjadi perubahan warna pada bonggol, dan dapat menyebabkan tanaman pisang mati.

Masalah tersebut dapat diatasi dengan cara membongkar tanaman pisang yang terserang penyakit lalu membakarnya. Tanah bekas bongkaran harus disiram larutan fungisida. Salah satu solusi ini disampaikan peneliti Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Dr. Dodin Koswanudin dalam Bimbingan Teknis Budidaya, Pengendalian, dan Pengelolaan   Organsisme Tanaman Pisang di Kantor Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor, Senin (21/6/2021).

Selain masalah layu fungisida, Dodin juga menyinggung penyakit layu yang disebabkan oleh bakteri pseudomonas solanacearum. Ketika bakteri ini menyerang, daun pisang muda akan mengalami perubahan warna seperti tampak garis cokelat kekuningan ke arah tepi daun yang nantinya akan menyebabkan daun pisang menguning, keluar lendir berwarna putih hingga keabuan dari buah, tangkai tandan, bonggol dan batang.

“Cara mencegah penyakit ini ialah dengan memusnahkan tanaman yang sakit lalu aplikasikan herbisida glyfosat 5% (5-20 ml) lalu lakukan fumigasi pada tanah bekas penyakit,” jelas Dodin.

Pada kesempatan ini Dodin juga menganjurkan petani untuk melakukan jarak tanam yang ideal serta pemberian pupuk yang berimbang guna menghindari penyakit bercak daun yang disebabkan oleh cendawan mycosphaerella musicola mulder.

“Jika yang terjadi adalah penyakit kerdil yang disebabkan virus banana buncchy top virus (BBTV) & abaca bunchy top virus (ABTV) yang ditularkan oleh kutu daun pentalonia nigronervosa, cara pencegahannya dapat menggunakan insektisida untuk mengendalikan hama dan kutu,” pungkas Dodin.

Kepala Seksi Produksi pada Bidang Hortikultura DTPHP, Kabupaten Bogor, Agus Kurniawan, MP menyebutkan, akan adanya alokasi program pengembangan pisang barang jumbo (bajo) seluas 10 hektar yang tersebar di wilayah Cigudeg. Program tersebut merupakan kerja sama antara Kementerian Pertanian dengan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Bogor.

“Dalam rangka kegiatan ini penanaman bibit pisang serentak akan dilaksanakan pada September 2021, dan untuk mendukung program pengembangan program tersebut, pihak DTPHP meminta Balitbangtan untuk mendampingi serta memberikan saran dan masukan agar program ini berjalan dengan baik,” kata Agus.

Bimtek ini diikuti sekitar 20 orang yang terdiri dari petani Desa Cisarua Kecamatan Sukajaya dan penyuluh BPP Cigudeg. Hadir pula perwakilan PT. Prima Agrotech yang mempromosikan produk decomposer dan pembenah tanah hayati. (AB)