» Info Aktual » Buleleng untuk Sentra Penghasil Krisan
29 Jun 2021

Bali – Bali dengan agrosistem dataran rendah dan tinggi sangat berpotensi untuk pengembangan tanaman hias, selain karena potensi pasarnya  untuk tanaman hias sangat menjanjikan. Pada tahun 2019 sebelum pandemi Covid-19, Bali rata-rata mendatangkan bunga krisan  sebanyak 1.527.720 batang per bulan. Dengan asumsi Rp. 1.500,- per batang nilai ekonominya mencapai sekitar Rp. 2,2 milyar per bulan.

“Kebutuhan bunga ini sudah tentu lebih banyak lagi dengan adanya potensi ekspor, upacara perkawinan dan pesta-pesta lainnya. Pada tahun 2019, Bali mengekspor sekitar 41.439  batang,” kata I Made Rai Yasa, Kepala BPTP Bali.

Rai Yasa juga mengatakan produksi krisan mengalami penurunan dari sekitar 1.071.196 di tahun 2015 ke hanya 119.850 batang pada tahun 2018. Menurutnya, ada beberapa masalah yang dihadapi dalam pengembangan krisan di Bali diantaranya serangan penyakit karat daun yang diduga dari bibit yang sudah terinfeksi, benih dari luar yang belum jelas sertifikasinya, belum ada penangkar benih krisan di Bali, serta masih minimnya pengetahuan petani tentang teknologi budidaya krisan.

“Kami dapat simpulkan Bali merupakan salah satu daerah konsumen krisan sekaligus merupakan eksportir krisan. Akan tetapi realitanya luas tanamnya terus menurun oleh karena itu dibutuhkan demplot inovasi teknologi bunga krisan baik di dataran rendah maupun dataran tinggi di Bali," jelasnya.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Dr. Fadjry Djufry saat kunjungannya ke Balai Penelitian Tanaman Hias, di Cipanas, Jawa Barat 18 Oktober 2019 lalu menyampaikan bahwa potensi tanaman hias di Indonesia sangat melimpah.

“Kita memiliki plasma nutfah yang banyak tidak dimiliki oleh dunia internasional. Tanaman hias punya nilai jual yang sangat besar, punya nilai estetika dan banyak lagi nilai lain yang tidak dimiki komoditas lain,” ungkapnya.

Untuk itu, pada 2021 ini Balitbangtan memilih kabupaten Buleleng Bali sebagai lokasi Riset Pengembangan Inovatif Kolaboratif (RPIK) bunga krisan adaftif di dataran rendah. Pemilihan tersebut salah satunya untuk meningkatkan produksi, nilai tambah bunga krisan di Bali.

Kepala Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi) Dr. Muhamad Thamrin menyampaikan bahwa program RPIK di Buleleng ditargetkan sebagai sarana atau titik ungkit prekonomian. Menurutnya meskipun baru dimulai tapi terlihat potensi pengembangan krisan di Kabupaten Buleleng sangat besar dan terbuka lebar.

“Petaninya mempunyai semangat yang tinggi serta dukungan dari pemerintah daerahnya juga sudah tidak diragukan lagi. Kami  khususnya di sektor florikultura dan tanaman hias siap memberikan dukungan untuk meningkatkan pendapatan dan produksi tanaman hias khususnya krisan di Buleleng,” jelasnya di sela acara Bimbingan Teknis RPIK Dukungan Inovasi dalam Sistem Agribisnis Krisan Adaftif di Dataran Rendah, Rabu (23/6/2021).   

Pada kesempatan tersebut, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng I Made Sumiarta menyampaikan dukungannya terhadap program RPIK Krisan di Buleleng. Dirinya mengakui bahwa sejak lama ingin mengembangkan bunga krisan akan tetapi karena minim pengetahuan petani tetang teknologinya maka sampai saat ini belum berhasil.

“Kami berharap nantinya selain teknologi budidaya krisan nanti aka ada teknologi perbenihan juga yang dikembangkan di Buleleng,” ungkapnya.