» Info Aktual » Panen Perdana Hasil Budidaya Padi Ramah Lingkungan
19 Jul 2021

Jawa Barat – Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat berupaya menanggulangi dan mengantisipasi kerusakan tanah yang dapat mengganggu produktivitas. Salah satunya dengan memperkenalkan Budidaya Padi Ramah Lingkungan (BPRL). Hasilnya pun begitu menarik perhatian.

Pada panen perdana yang berlangsung di area demplot di Desa Cibiuk Kaler, Kecamatan Cibiuk, Kab. Garut, Sabtu (17/07/21), menunjukkan peningkatan produktivitas mencapai 2,43 ton/ha. Ketua Poktan Salem Sari, Yuyun Wahyuna yang kerap disapa Abah mengatakan bahwa rata-rata panen sebelum menerapkan teknologi BPRL hanya berkisar 6 t/ha, kini hasilnya mencapai 8,43 t/ha.

“Kalau bisa dibilang mah sangat-sangat puas dan gembira dengan hasilnya, alhamdulillah,” ungkap Abah sumringah.

Demplot Varietas Unggul Baru (VUB) padi khusus dan VUB spesifik lokasi berbasis teknologi BPRL ini telah diperkenalkan sejak Maret 2021 dan diterapkan pada lahan seluas 11 ha dengan ditanami berbagai varietas unggul yakni Inpari 32Inpari 43 GSR, Inpari 47Inpari 39CakrabuanaMantap, dan Pamelen.

Plt Kepala BPTP Jabar, Dr. Ir. Wiratno, M.Env.Mgt., menyampaikan bahwa Teknologi BPRL yang telah diaplikasikan oleh Poktan Salem Sari ini bisa menekan penghematan pupuk kimia sebesar 70% dan ada peningkatan hasil hampir 2,5 t/ha.

"Kami memiliki teknologi dan apabila teknologi ini betul-betul diterapkan sesuai dengan aturanya, kami sama-sama bisa membuktikan dari 6 t/ha menjadi rata-rata 8,4/ha sehingga ada peningkatan 2,5 t/ha terjadi penghematan biaya operasional dan kalo saya hitung-hitung dengan 1 ha itu bisa menambah pendapatan petani sebesar Rp. 11 juta/ha", jelas Dr. Wiratno.

Anggota Komisi IV DPR RI, Haerudin, S.Ag., MH yang  hadir langsung dalam panen perdana ini mengapresiasi  upaya Kementan tersebut. Baginya, teknologi BPRL telah menjadi bukti yang dapat dicontoh petani dalam mengatasi lahan yang sakit akibat penggunaan bahan kimia terus menerus.

Dengan menggunakan bahasa Sunda ia pun berpesan kepada para petani agar tak lagi berlebihan dalam penggunaan bahan kimia.

"Ulah aya pikiran yen (pupuk) urea na kudu loba, (pupuk) NPK na kudu loba yang terpenting mah adalah tepat ukuran dan cocok dengan tanah (jangan ada pikiran kalau pupuk urea itu harus banyak, pupuk NPK harus banyak, yang terpenting adalah tepat ukuran dan cocok dengan tanah)," tutur Haerudin kepada petani. Ia menambahkan agar teknologi yang sudah berhasil diterapkan dapat terus dilanjutkan. (Nrp/Jabar)