» Info Aktual » Lepas 50 Ribu Hibah Benih Sumber, Kementan Dorong Industri Florikultura Berorientasi Ekspor
10 Sep 2021

Jawa Barat – Tanaman florikultura memiliki potensi ekspor yang sangat tinggi. Saat ini preferensi pasar internasional mulai berubah ke arah tanaman tropis. Hal ini memberi peluang bagi para pengusaha di dalam negeri karena Indonesia memiliki kekayaan genetik florikultura terbesar di dunia.

Menteri Pertanian Dr. Syahrul Yasin Limpo mengatakan bahwa tanaman hias yang dikembangkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi) memiliki kualitas yang tidak kalah dengan tanaman hias di luar negeri.

Berbagai inovasi tersebut dapat disebarluaskan salah satunya dengan cara pemberian hibah benih sumber kepada mitra antara lain Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah, Dinas Pertanian Kota Tomohon, PT. Bina Usaha Flora, dan PT. Wilis Agro Lestari.

“Hari ini kita melepas benih awal, kurang lebih sebanyak 50 ribu benih sumber yang dihasilkan oleh Balithi, dari sini akan mampu diperbanyak hingga 1 juta benih yang tersebar ke beberapa petani dan juga penangkar. Kita memiliki negara dengan iklim tropis yang sangat bagus, sehingga kita bisa menghasilkan bunga tropis yang sangat indah dan bahkan diminati oleh dunia,” kata Mentan dalam Ekspose Inovasi Tanaman Hias yang digelar di Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi) di Kabupaten Cianjur, Kamis (9/9/2021).

Upaya tersebut diharapkan dapat mendorong pengembangan komoditas florikultura yang dimanfaatkan oleh masyarakat dan bisa dipasarkan hingga mancanegara. Oleh karena itu, pengembangan industri florikultura memerlukan dukungan inovasi secara berkelanjutan berupa Varietas Unggul Baru (VUB) dan teknologi pendukungnya. Ketersediaan inovasi unggul merupakan faktor kunci dalam pengembangan pertanian, khususnya subsektor florikultura.

Selain itu, inovasi florikultura yang telah dihasilkan perlu segera diintroduksikan secara sistemik, cepat, dan masif ke tangan pengguna, salah satunya melalui kerja sama kemitraan untuk pengembangannya. Kerja sama dengan para mitra tersebut diharapkan dapat berdampak signifikan dalam pengembangan industri florikultura.

“Kita harus fokus, jalin kerja sama yang baik dengan pihak swasta, pemerintah daerah, termasuk dengan startup, termasuk dengan ujungnya adalah ekspor,” ungkap Syahrul.

Mentan melanjutkan, kemandirian dalam industri florikultura, termasuk penyediaan benihnya akan dapat mengurangi ketergantungan produk dari luar (impor), bahkan bisa membalikkan keadaan menjadikan Indonesia sebagai pengekspor produk tanaman hias yang akan membanjiri pasar internasional.

Kepala Balitbangtan Dr. Fadjry Djufry mengatakan bahwa berbagai varietas unggulan tanaman hias telah dihasilkan dan dihilirisasi seperti krisan, anggrek, dan impatiens. Tanaman hias tersebut juga telah diekspor ke berbagai negara.

“Alhamdulillah teman-teman Balithi sudah merilis juga berbagai varietas, salah satunya varietas krisan untuk dataran rendah. Mudah-mudahan ini juga 30 persen merajai jenis varietas yang diekspor ke luar negeri,” ungkapnya.

Seperti diketahui, volume ekspor tanaman hias Indonesia menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS) per tahun dari 2017-2020 rata-rata 20 juta dolar AS atau senilai Rp290 miliar. Ekspor tanaman hias sepanjang tahun 2020 mencapai Rp53 miliar dengan negara tujuan ekspor antara lain Belanda, Amerika Serikat, Kanada, Australia, Thailand, Jerman, Inggris, dan Singapura. (Humas/Nita)