» Info Aktual » Nano Pestisida Nabati untuk Pengendalian OPT yang Ramah Lingkungan
20 Sep 2021

Bogor - Produk pertanian yang ramah lingkungan mulai menjadi tren dan banyak dicari konsumen. Pertanian ramah lingkungan dapat didukung melalui penggunaan pestisida nabati untuk pengendalian hama dan penyakit pada tanaman. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) mencoba mengantisipasi hal tersebut dengan menghasilkan teknologi biopestisida atau pestisida nabati yang ramah lingkungan.

Kepala Balittro, Evi Savitri Iriani mengatakan bahan pestisida nabati bisa berasal dari minyak atsiri dan bahan aktif lain dari tanaman rempah dan obat, seperti serai wangi, nilam, dan sebagainya.

“Kita mencoba menerapkan nanoteknologi dalam pembuatan pestisida nabati. Nanoteknologi adalah suatu teknologi yang cukup baru namun sudah banyak dimanfaatkan karena memiliki kemampuan dan efektifivitas yang jauh lebih baik dibandingkan dengan biopestisida atau pestisida nabati biasa,” kata Evi dalam Bimtek Online bertema Nano Pestisida Nabati Minyak Atsiri dan Estrak Tanaman: Formulasi dan Keefektifannya terhadap Organisme Penganggu Tanaman (OPT) yang digelar Balittro pada Rabu (15/9/2021).

Dengan penggunaan nanoteknologi, maka efektivitas biopestisida akan lebih tinggi, biaya lebih murah dan lebih efisien saat penggunaannya. “Dengan biopestisida yang lebih efektif, efisien, dan lebih murah diharapkan dapat membantu petani pada berbagai komoditas untuk mengatasi permasalahan hama penyakit yang biasanya mereka hadapi,” tutur Evi.

Senada dengan Evi, Kepala Balitbangtan Fadjry Djufry juga meyakini bahwa nanoteknologi dapat menjadi salah satu terobosan solusi pembangunan pangan dan pertanian ke depan. Untuk itu, nanoteknologi diangkat menjadi salah satu flagship riset Balitbangtan.

Pada 2014, Balitbangtan telah membangun laboratorium nanoteknologi untuk pangan dan pertanian. "Laboratorium nanoteknologi tersebut dilengkapi berbagai instrumen modern mulai dari prosesing sampai analisis produknya dengan presisi yang tinggi." ungkapnya.

Menurut Fadjry, penggunaan teknologi ini juga sejalan dengan arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, khususnya pada Cara Bertindak 4 Kementan, yaitu pengembangan pertanian modern.

"Dengan pemanfaatan teknologi, diharapkan hasil produksi dapat memiliki standar mutu tinggi sehingga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi." lanjut Fadjry.

Peneliti Balittro, Rohimatun mengatakan pemicu minat terhadap insektisida nabati antara lain karena dampak negatif insektisida, meluasnya penerapan konsep pengendalian hama terpadu (PHT), berkembangnya pertanian organik, dan upaya pelestarian lingkungan. Selain itu adanya perjanjian perdagangan internasional (sanitary and phytosanitary) yang membatasi kadar residu pestisida dalam produk pertanian.

Insektisida nabati, terangnya, merupakan bahan kimia yang berasal dari tumbuhan yang dapat mengakibatkan satu atau lebih pengaruh biologi terhadap OPT, baik itu respon fisiologis (seperti pertumbuhan dan perkembangan), maupun tingkah laku (seperti aktivitas makan dan peneluran) dan memenuhi beberapa syarat untuk digunakan dalam pengendalian OPT.

“Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi ketika kita akan memilih suatu tanaman untuk dijadikan insektisida nabati yaitu efektif dan efisien, aman terhadap lingkungan dan organisme berguna, tidak bersifat antagonis jika dicampur, dan bahan bakunya mudah didapat,” tutur Rohimatun.

Rohimatun juga menguraikan kelebihan pestisida nabati antara lain mudah terurai/terdegradasi sehingga ketika suatu produk dikonsumsi tidak ada residu dan aman bagi konsumen. “Keunggulan lainnya relatif lebih aman terhadap organisme non target, dapat dipadukan dengan teknik pengendalian lain, dan dapat disiapkan secara sederhana.” lanjutnya.

Menurutnya, insektisida yang diformulasikan dengan nanoteknologi masih memiliki peluang yang luas untuk digali dan dikembangkan. “Selain itu, formulasi nano insektisida nabati harus memperhatikan standar yang berlaku,” tuturnya.

Pada kesempatan tersebut, Peneliti Balittro, Rita Noveriza menguraikan nano pestisida nabati minyak atsiri berbahan utama seraiwangi. Nano biopestisida ini terdiri dari bahan aktif droplet minyak seraiwangi berukuran 100-200 nanometer yang berfungsi sebagai antiviral, antijamur, dan insektisida.

Cara pemakainnya, nano biopestisida sesuai konsentrasi yang dianjurkan dilarutkan dengan air. Selanjutnya disemprotkan pada seluruh permukaan jaringan tanaman dengan dosis 10-100 ml per tanaman atau sesuai komoditas, umur, dan tinggi tandaman. Biopestisida ini dapat digunakan sebagai pencegahan dan pengendalian OPT.

“Berdasarkan testimoni dari petani mereka menyukai menggunakan nano pestisida ini karena tidak menyebabkan tangan gatal-gatal dan muntah-muntah. Jadi mereka lebih nyaman menggunakan nano pestisida seraiwangi,” tutur Rita.

Produk nano pestisida ini sudah dilisensi salah satu perusahaan swasta dan diharapkan dalam waktu dekat sudah tersedia di pasaran. (HMS/YAN)