» Info Aktual » Hasil Panen Tinggi, Strategi Peningkatan Produktivitas Padi di Kabupaten Cianjur Menjadi Kunci
07 Okt 2021

Cianjur – Kabupaten Cianjur yang merupakan wilayah sentra produksi padi ke-2 di Jawa Barat memiliki luas 361 ribu hektar yang terbagi menjadi 32 Kecamatan dan 354 Desa. Selain itu, lahan  pertanian di Kabupaten Cianjur merupakan lahan terluas kedua setelah Kabupaten Sukabumi, yakni 67 ribu hektar yang terdiri dari 40 ribu hektar sawah irigasi dan sisanya lahan sawah tadah hujan.

Asisten Bidang Ekonomi Pembangunan Pemerintah Kabupaten Cianjur Budi Rahayu Thoyib, mewakili Bupati Cianjur, mengatakan bahwa target pencapaian hasil padi di Kabupaten Cianjur pada tahun 2021 sebesar 900 ribu ton, dengan target sebesar itu, Pemkab berharap Cianjur menjadi lumbung padi di Jawa Barat.

Pihaknya optimis target 900 ribu ton akan tercapai pada tahun ini, mengingat hingga saat ini produksi padi telah mencapai 720 ribu ton atau sekitar 80% dari target. “Dan di sisa waktu yang tinggal empat bulan terakhir ini produksi padi dinilai bagus dan tinggi maka dipastikan Kabupaten Cianjur over target sehingga diharapkan bisa mencukupi kebutuhan konsumsi masyarakat dan dapat dipastikan bisa mensuplay beras Kabupaten lain di luar Cianjur,”ujarnya, Rabu (6/10/2021).

Kementerian Pertanian melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) mengadakan kegiatan Demplot VUB Padi Khusus/Spesifik Lokasi di Kabupaten Cianjur di lahan seluas 10 hektar. Demplot dilakukan di dua lokasi, yaitu Kecamatan Bojongpicung dan Kecamatan Warungkondang masing-masing dalam luasan 5 Ha. 

Pada lokasi demplot di Desa Cibarengkok-Bojongpicung ditanam empat varietas, yaitu Inpari 42, Inpari 43, Inpari Digdaya, dan Siliwangi. Kegiatan Demplot di Warungkondang dilakukan di Desa Sukamulya dengan ditanam varietas Mantap, Inpari 45 Dirgahayu, dan Siliwangi yang ditanam pada 21 Juni 2021.

Di kedua lokasi tersebut juga dilakukan kegiatan pertanaman display pada luasan 0,5-1,0 Ha sebanyak 10 Varietas yaitu: Jeliteng, Baroma, Tarabas, Pamera, Pamelen, Inpari IR Nutrizinc, Mantap, Inpari 45 Dirgahayu, Inpari Digdaya, dan Inpari 32 HDB.  Selain menggunakan VUB Balitbangtan, pertanaman demplot ini dilakukan dengan system tanam jajar legowo 2:1 dam 4:1.

Menanggapi demplot 13 varietas unggul baru padi yang di tanam di Desa Sukamulya, Kecamatan Warungkondang, Budi Rahayu berharap, petani bisa punya banyak pilihan yang menjadi alternative untuk jenis padi yang disukai petani.

Disinggung soal alih fungsi lahan yang semakin hari semakin tidak terkendali, Pemkab Cianjur bertekad akan mengembangkan sawah bukaan lahan baru dan peningkatan status dari lawah sawah tadah hujan menjadi sawah irigasi teknis yang ditargetkan oleh Bupati CIanjur seluas seribu hektar.

Terkait dengan angka stunting di wilayahnya yang masih tinggi, Budi berharap varietas padi Inpari IR Nutri zink terus dikembangkan dan menjadi bahan komsumsi masyarakat agar bisa menekan tingkat stunting di wilayahnya.

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) selaku penanggungjawab program Demplot vub padi khusus spesifik lokasi tentunya mengawal kegiatan ini dengan para peneliti dengan dukungan dari Pemerintah Kabupaten Cinajur, Dinas Pertanian Kabupaten, petani dan seluruh pemangku kepentingan. Kepala Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Dr. Yudi Sastro dalam sambutannya menegaskan agar hasil inovasi yang telah diterapkan selama ada program demplot tersebut bisa terus berkelanjutan dan berharap para petani untuk terus mengimplementasikan di lapangan.  

Di sela kegiatan panen, Yudi mengakui bahwa lahan pertanian di Kabupaten Cianjur sangat luas dan subur, hal ini bisa dilihat dari performa salah satu varietas yang dipanen yaitu varietas Mantap sangat bagus dan produksi yang tinggi yaitu sebesar 9,8 t/ha gabah kering panen (GKP).

Di tempat yang sama Anggota Komisi IV Ir. H. Budhy Setiawan, M.Si. mengamini penegasan Kepala BB Padi bahwa pertanian di Cianjur harus banyak menerapkan teknologi baik teknologi pra panen, perbenihan dan pasca panen. Kenapa harus digalakan, sebab kata Budhy, peralihan lahan pertanian menjadi lahan non lahan pertanian tercatat dari pesatnya jumlah penduduk untuk tempat tinggal dan aktivitas.

Disebutnya bahwa saat ini Indonesia memasuki masa bonus demografi, dimana usia 60 % adalah usia muda. Jika usia muda itu beranak pinak maka pertambahan kebutuhan lahan untuk rumah makin banyak dan resiko beralihnya lahan makin tinggi.

“Oleh karena itu kita harus tingkatkan produktivitas, karena sedikitnya lahan upaya untuk memehuni kecupakan pangan salah satunya dengan meningkatkan produktivitas dengan teknologi pengolahan lahan, perbenih, dan pasca panen. Meningkatkan produktivitas per ha akan mengimbangi hilangnya lahan pertanian ke non pertanian,” tegas Budhy.

Anggota Komisi IV DPR RI Dapil Cianjur mengajak agar hasil-hasil penelitian ini terus didorong dan diterapkan di lapangan dan disosialisasikan kepada petani supaya petani melihat hasilnya ini terbukti menaikan produktivitas yang saat ini rata-rata 6 t/ha. Melalui Komisi IV DPR RI, Budhi bertekad akan terus bangkitkan semangat para petani untuk terus fokus memikirkan budidayanya saja, dilain pihak untuk pemasaran hasil, ketersediaan pupuk, dan lain-lain menjadi tugas pemerintah daerah dan jajarannya. (Shr)