» Info Aktual » Kementan Luncurkan Inovasi Teknologi Mekanisasi Pertanian untuk Lahan Kering
22 Okt 2021

Tangerang – Kementerian Pertanian melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) meluncurkan prototipe alat mesin pertanian yang dikhususkan bagi lahan kering pada Kamis (21/10/2021).

Adapun alsintan yang dirilis adalah Drone Tanam Model Larik, Mesin Penanam Ubi Kayu, dan Alat Penanam Benih Kentang. Prototipe tersebut merupakan hasil rekayasa Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BBP Mektan). 

Menteri Pertanian Dr. Syahrul Yasin Limpo mengatakan bahwa inovasi teknologi ini dinilai penting mengingat Indonesia memiliki 99,65 juta hektare lahan kering yang potensial untuk pertanian, khususnya pertanian yang berbasis kawasan seperti yang sedang digencarkan oleh Kementerian Pertanian. 

“Kawasan pertanian lahan kering yang terintegrasi sangat berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Untuk itu perlu adanya dukungan mekanisasi di lahan kering tersebut agar memaksimalkan produksi, provitas dan efisiensi sumber daya pertanian,” ucap Syahrul pada acara peluncuran yang digelar di Tangerang, Banten.

Drone Tanam Model Larik merupakan pengembangan dari drone tebar benih dengan keunggulan dapat bekerja mandiri sesuai pola tanam dengan menggunakan perangkat android dan dipandu GPS. Selain itu, drone menggunakan mesin yang memiliki kapasitas angkut benih padi sebesar 6-10 kg, beroperasi pada ketinggian 1-2 meter, kecepatan kerja 4 km/jam, dan mampu menanam benih seluas 1 hektare dalam waktu 1 jam.

“Drone tanam tipe larik ini berfungsi untuk menebar benih padi dengan jarak antar baris 25 cm, serta mampu bekerja mandiri sesuai pola yang diinginkan. Pola tanam dibuat menggunakan perangkat android dan dipandu dengan GPS, dan mampu melakukan resume operation, sehingga operasi yang tertunda dapat dilanjutkan kembali dan tidak terjadi overlap,” papar Kepala Balitbangtan Dr. Fadjry Djufry.

Selanjutnya diluncurkan alat tanam ubi kayu yang memiliki beragam fungsi mulai dari menggulud tanah sekaligus menanam setek ubi kayu dengan pola satu baris, sekaligus memupuk dan menyemprotkan pestisida secara terintegrasi. Alat ini bekerja dengan kecepatan 2,74 km/jam dan mampu menghasilkan guludan dengan ketinggian 200-300 milimeter serta jarak antarguludan 1.300 milimeter.

“Alat ini beroperasi dengan digandengkan traktor roda empat dengan minimal daya 50 HP. Kapasitas kerja alat ini mencapai 2,81 jam/ha, dengan operator cukup 2 orang. Hal ini tentu sangat efisien dan tentunya hemat biaya,” lanjut Fadjry.

Terakhir, ada alat penanam benih kentang yang mampu menanan benih seluas 1 hektare dalam waktu 5 jam. Alat ini memiliki 2 baris jalur penanam dengan jarak tanam 60 cm dan jarak dalam baris 30 cm. Alat ini ditarik dengan traktor roda empat dengan minimal daya 40 HP yang dilengkapi pula dengan penebar pupuk.

Lebih lanjut, Menteri Syahrul berharap inovasi Balitbangtan tersebut dapat terus dimasifkan bahkan diaplikasikan oleh pelaku usaha tani.

“Semua inovasi teknologi Badan Litbang yang dilaunching hari ini diharapkan diadopsi dan diproduksi massal oleh para perusahaan alsintan yang nantinya dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas usaha tani sehingga mampu meningkatkan produksi usaha tani dan kesejahteraan petani,” ujar Syahrul.

Untuk diketahui, Kementan melalui Balitbangtan juga telah mengembangkan berbagai inovasi teknologi mekanisasi untuk mendukung pertanian yang maju, mandiri, dan modern. Selain itu, beragam inovasi tersebut juga penting untuk mendukung peningkatan dan produktivitas pertanian di Indonesia. (Humas/Nita)