» Info Aktual » Kementan Luncurkan Pilot Project Pertanian Presisi 4.0
10 Des 2021

Bogor – Menteri Pertanian Dr. Syahrul Yasin Limpo meresmikan pilot project pertanian presisi pada acara Peringatan World Soil Day 2021, Kamis (9/12/2021) di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP), Cimanggu, Bogor, Jawa Barat. Menteri Syahrul mengatakan bahwa pertanian presisi merupakan salah satu upaya untuk menjawab tantangan di dunia pertanian mulai dari perubahan iklim maupun masalah lahan pertanian yang semakin berkurang.

“Setiap tahun di Indonesia terjadi alih fungsi lahan pertanian 150.000 hektare. Masalah kedua adalah climate change. Di saat turbulensi dan tantangan ini, harus ada inovasi yang terus dilahirkan Badan Litbang. Kedua, semua sudah harus pada pendekatan Artificial Intelligence, harus presisi, urban farming,” ucap Mentan SYL.

Adapun pertanian 4.0 yang diresmikan adalah Indoor Vertical Farming dan Smart Greenhouse. Kedua inovasi ini menerapkan pendekatan Internet of Things (IoT).

Indoor Vertical Farming atau pertanian vertikal yang dikembangkan oleh BBSDLP menggunakan teknologi sinar artificial UV sebagai pengganti sinar matahari, menggunakan media tanam rockwool, pemberian nutrisi presisi melalui pipa PVC, dan merupakan budi daya yang ramah lingkungan karena tidak menggunakan pestisida.

Pertanian vertikal ini dapat memaksimalkan lahan sempit. Dengan luas bangunan 48 meter persegi, diciptakan penanaman bertingkat dengan luas tanam 80 meter persegi dan kapasitas 3.500 pot tanaman sayuran. Selain itu, pertanaman dilengkapi dengan monitoring dan kendali suhu yang terintegrasi dengan perangkat komputer dan smartphone serta pengawasan melalui CCTV dan time lapse camera.

Selanjutnya ada Smart Greenhouse dengan luas lahan 600 meter persegi yang dilengkapi dengan kontrol suhu dan kelembapan, kontrol nutrisi, dan kontrol tanaman yang terhubung dengan perangkat komputer dan telepon genggam. Dengan perlakuan tersebut, didapatkan produk hortikultura yang berkualitas premium.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Dr. Fadjry Djfury menyampaikan bahwa meskipun pilot project ini masih berskala terbatas, tetapi telah dikonsepkan juga hilirisasi dari produk sayuran dan buahnya.

“Indoor Vertical Farming dan Smart Greenhouse yang kita miliki di sini sudah berbasis IoT. Ini masih pilot project dalam skala terbatas tapi alhamdulillah sudah ada offtaker-nya yang hadir juga. Jadi yang dijual seperti selada sudah ada pembelinya. Jadi memang sudah kita hitung berapa input dan output yang dihasilkan nanti dari setiap aktivitas yang kita lakukan di sini,” papar Fadjry.

Menteri Syahrul pun mendorong penerapan pertanian presisi ini guna menghasilkan produk berkualitas, bernilai jual tinggi, dan berkontribusi pada peningkatan pendapat petani.

“Dengan pertanaman seperti ini dengan luas kurang lebih 600 meter persegi, hasilnya per bulan bisa Rp40 juta. Memang biaya greenhouse harus dimodali dulu, tetapi Rp40 juta bisa secara rutin dan ini bisa dua kali panen dalam satu tahun. Sekarang tanaman melon, oleh karena itu yang lain juga bisa dilakukan misalnya tomat ceri dan lain-lain yang akan bisa lebih mahal lagi karena itu bersentuhan dengan ekspor,” tutupnya. (HMS/Nita)