» Info Aktual » Harga Gula Semakin Tidak Terkendali
22 Mei 2003

Selama tiga minggu terakhir ini hampir semua surat kabar mengulas kinerja industri gula dalam negeri yang semakin terancam oleh masuknya gula impor. Kelangkaan dan tingginya harga gula telah merangsang importir gula memasukkan produknya ke dalam negeri. Beberapa industri terkait seperti misalnya industri makanan dan minuman terancam gulung tikar karena biaya produksi yang sangat tinggi. Upaya menaikkan harga jual pun sangat riskan karena daya beli masyarakat masih rendah.

Penggunaan gula untuk industri makanan dan minuman 30-60% dari total bahan baku, contohnya, produksi sirup, permen, penggunaan gulanya mencapai 60%, produksi roti sekitar 30%. Jadi dengan naiknya harga gula tambahan biaya produksi yang ditanggung industri makanan dan minuman antara 50-60%, demikian dijelaskan Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) Thomas Darmawan, di Jakarta belum lama ini.

Kenaikan harga gula tidak hanya karena kelangkaan atau impor yang dilarang, tetapi juga karena mekanismenya yang tidak benar. Keputusan pemerintah menugaskan Bulog mengimpor gula sudah bagus, tetapi gula tersebut harus segera didistribusikan kepada masyarakat konsumen. Masih banyak masyarakat yang meragukan kemampuan Bulog dalam mendistribusikan gula. Selama ini Bulog lebih banyak sebagai importir saja, sedangkan sebagai pedagang diperankan oleh Asosiasi Penyalur Gula dan Terigu.

Kelangkaan gula harus segera ditangani, karena akan berdampak pada industri lain. Bila masalah ini tak segera ditangani, industri makanan dan minuman dari luar akan masuk ke Indonesia, apalagi bea masuknya hanya 5%.

Di Bali misalnya, akibat stok dan pasokan yang belum stabil harga gula masih relative mahal, Rp 5.200 per kg, di pasar tradisional dan di distributor Rp 4.800 per kg, padahal harga normalnya sekitar Rp 4.200 per kg.

Menanggapai masalah ini Menteri Pertanian, Bungaran Saragih dan Menperindag, Rini MS Suwandi menjelaskan pemerintah telah membentuk tim pemantau harga gula, pemerintah akan berupaya menstabilkan harga komoditas tersebut hingga sedikit dibawah Rp 4000 per kg. Meskipun demikian harga gula diusahakan tidak mencapai Rp 3.500 per kg agar petani tebu tetap untung.

Sekarang ini harga gula sudah sedikit menurun tetapi pemerintah tidak serta merta menyetop impor gula. Tim pemantau akan terus memantau perkembangan harga gula di pasaran. Di Medan misalnya harga gula sudah Rp 3.500 per kg sedangkan di Jakarta Rp 5.000 per kg.

Mentan Bungaran Saragih menambahkan untuk memproteksi gula dalam negeri, pemerintah akan terus memperbaiki tata niaga dan tarif gula, sebagai upaya untuk melindungi petani dari perdagangan internasional yang tidak adil. Bungaran juga mengingatkan bahwa harga gula di dalam negeri sebenarnya masih lebih rendah daripada harga gula di negara-negara lain semisal India yang mencapai Rp 4.600 per kg, Jepang Rp 18.000 per kg dan Australia Rp 4.600 per kg.

Untuk mencapai harga sampai dibawah angka Rp 4.000 per kg tim pemantau gula akan mengadakan operasi pasar secara terus menerus. Tim telah diterjunkan ke pasar-pasar memantau pergerakan harga gula di semua daerah.