» Info Teknologi » Optimalkan Lahan Rawa Pasang Surut dengan Teknologi RAISA
26 Peb 2019

Pemerintah terus mendorong berbagai upaya mewujudkan swasembada pangan, khususnya padi. Upaya tersebut dilakukan melalui berbagai kegiatan baik secara intensifikasi maupun ekstensifikasi. Salah satu upaya yang ditawarkan Balitbangtan adalah teknologi RAISA.

Teknologi RAISA adalah teknologi padi Rawa Pasang Surut Intensif, Super, dan Aktual. Teknologi ini merupakan rangkaian komponen teknologi yang pada prinsipnya mengambil dari Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) padi pasang surut. Dengan teknologi RAISA, potensi lahan sub optimal yang tersebar di beberapa pulau seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua berpeluang dikembangkan sebagai lumbung pangan di Indonesia.

Teknologi ini disebut Intensif dan Super karena mampu mendorong peningkatan hasil dan peluang peningkatan Indeks Pertanaman (IP) dari 1 menjadi 2 bahkan 3 kali setahun. Sedangkan prinsip Aktual dalam teknologi ini dikarenakan penggunaan hasil inovasi Balitbangtan terkini untuk pengelolaan dan sistem produksi.

Komponen teknologi RAISA terdiri dari persiapan lahan, pengelolaan Tata Air Mikro (TAM), pengaturan cara tanam dan populasi tanaman, Varietas Unggul Baru (VUB) dengan potensi hasil tinggi, aplikasi pupuk hayati, ameliorasi dan remediasi, pemupukan berimbang berdasarkan Perangkat Uji Tanah Rawa (PUTR), pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) terpadu, serta alat dan mesin pertanian khususnya untuk tanam dan panen.

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Utara telah melakukan pengkajian teknologi RAISA pada lahan pertanian pasang surut di Kabupaten Langkat dan Serdang Begadai. Varietas yang biasa ditanam petani adalah Ramos. Rata-rata petani di daerah tersebut hanya bisa panen sekali dalam setahun dan menghasilkan Gabah kering Panen (GKP) sebesar 3 ton/ha. Namun dengan teknologi RAISA yang menggunakan varietas Inpara 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8 dan 9, dilengkapi komponen teknologi lainnya, mampu menghasilkan  4,2 ton/ha GKP dan lahan dapat ditanami dua kali setahun.

Selain BPTP Sumatera Utara, Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) bekerjasama dengan BPTP Sumatera Selatan juga berhasil melaksanakan demfarm teknologi RAISA pada lahan seluas 50 hektar di Desa Sukaraja, Kecamatan Tungkal Ilir, Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan.

Dari tiga varietas Inpara 2, 3, dan 8 yang dipanen diperoleh hasil produksi rata-rata 4,6-8,2 ton/ha. Terjadi peningkatan hasil 1-2 ton/ha dibanding budidaya yang dilakukan petani selama ini. Pemanfaatan alat dan mesin dengan teknologi modern memudahkan dan menghemat waktu tanam. Pupuk hayati yang diterapkan pada teknologi RAISA juga mampu meningkatkan efisiensi pemupukan N dan P sampai dengan 30%.

Pengelolaan lahan yang tepat melalui penerapan inovasi teknologi yang sesuai, diharapkan bisa mendongkrak produksi padi dengan memanfaatkan lahan marginal. Dengan teknologi tersebut, daerah-daerah yang memiliki lahan rawa pasang surut yang selama ini kurang mendapat perhatian bisa dimaksimalkan fungsinya sehingga lumbung pangan nasional bisa segera terwujud. (EPA)

Sumber: BB Padi, BPTP Sumatera Selatan, BPTP Sumatera Utara