» Info Teknologi » Budena Kayu Putih
15 Jan 2020

Pola tanam pohon kayu putih berjarak mulai dari 3x1 meter, 4x1 meter, 5x1 meter, atau jajar legowo 5x(1x1) meter. Selain itu, tajuk tanaman kayu putih secara rutin dalam satu tahun sekali dipangkas dan daunnya diolah menjadi minyak kayu putih. Lahan sela di antara tanaman kayu putih pun mendapatkan cukup banyak sinar matahari, sehingga memungkinkan untuk tanaman lain termasuk kedelai.

Budidaya kedelai di lahan naungan tegakan pohon kayu putih, atau dikenal dengan Budena kayu putih, berpeluang untuk dikembangkan. Usaha tani ini menjadi salah satu solusi meningkatkan wilayah tanam kedelai.

Tim Peneliti dari Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi), Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) menjelaskan ada beberapa hal untuk meningkatkan produktivitas kedelai pada lahan naungan kayu putih. Pertama, meningkatkan kualitas dan kuantitas penangkapan sinar matahari, dengan cara menentukan waktu tanam tepat, pengaturan populasi tanaman disesuaikan jarak tanam dan model tanam.

Kedua, memanfaatkan ketersediaan air tanah, waktu tanam awal musim hujan dengan perkiraan tanaman cukup air hingga fase pengisian polong. Selanjutnya menggunakan varietas adaptif naungan dan meningkatkan ketersediaan hara N, P dan K melalui pemberian pupuk tunggal maupun pupuk majemuk NPK. Kemudian, meningkatkan kadar bahan organik tanah dengan pemberian pupuk organik, dan mendorong minat petani menanam kedelai.

Pengujian Budena di bawah tegakan kayu putih dilakukan di Mojokerto, Jawa Timur tahun 2018 menggunakan varietas Anjasmoro, Dena 1, Argomulyo dan Dega1 dengan jarak tanam baris tunggal 40 cm x 15 cm. Lalu, menggunakan pupuk 250 kg/ha Phonska dan 100 kg/ha SP-36, inokulasi Agrisoy pada benih sebelum tanam serta penutupan lubang tanam menggunakan pupuk organik 1 t/ha.

Hasilnya, keragaan pertumbuhan dan hasil yang bervariasi dengan produktivitas rata-rata 0,8 t/ha. Produktivitas yang bervariasi sangat dipengaruhi oleh ketersediaan air selama periode pertumbuhan tanaman, karena pengairan hanya diperoleh dari air hujan.

Musim tanam yang optimal untuk penerapan teknologi Budena kayu putih adalah awal musim penghujan sekitar bulan Desember hingga Januari. Menurut penjelasan Runik Purwaningrahayu dan timnya, penanaman di bulan Maret sudah sangat terlambat sehingga tanaman mengalami cekaman kekeringan dan hasil biji tidak dapat optimal.

Untuk itu sangat disarankan penanaman kedelai di bawah tegakan kayu putih dilakukan segera setelah hujan turun, karena pertumbuhan tanaman selanjutnya hanya mengandalkan air hujan.

Pada kegiatan superimpose teknologi Budena kayu putih dengan model tanam yang berbeda yaitu baris tunggal (40 cm x 15 cm) dan baris ganda 50 cm x (30 cm x 15 cm) didapatkan produktivitas dengan kisaran 1,56-2,36 t/ha.

Varietas adaptif naungan Dena 1 menghasilkan produktivitas relatif tinggi dengan cara tanam baris ganda 50 cm x (30 cm x 15 cm) sebesar 2,36 t/ha. Sedangkan dengan cara tanam baris tunggal diperoleh produktivitas 1,88 t/ha. Secara keseluruhan tiga varietas lainnya yaitu Anjasmoro, Argomulyo dan Dega 1 pada kedua cara tanam mampu menghasilkan 1,56-1,72 t/ha. (Adm)

Informasi selanjutnya mengenai Budena dapat dilihat di sini.

Sumber: Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi