» Info Teknologi » Integrasi Tanaman Sela dan Ternak Lebah Madu, Tingkatkan Pendapatan Petani Kapuk
02 Peb 2021

Tren dunia untuk kembali ke serat alam yang ramah lingkungan berpotensi memposisikan kapuk sebagai komoditas strategis di masa mendatang. Apalagi tumbuhan dengan nama Latin Ceiba pentandra ini tidak hanya bisa dimanfaatkan bagian kapuknya.

Serat buahnya dapat diolah sebagai bahan dasar matras, bantal, hiasan dinding, pakaian pelindung, penahan panas, dan peredam suara. Kulit keringnya bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar. Begitu pun dengan biji, bungkil, kayu, daun, dan bunga kapuk, dapat diolah menjadi berbagai produk komersial.

Untuk meningkatkan pendapatan petani, kapuk juga dapat diintegerasikan dengan tanaman sela seperti palawija, tanaman obat, dan buah-buahan. Pemilihan jenis tanaman sela biasanya bergantung pada wilayah pengembangannya.

Di Pati misalnya, yang banyak dilipih adalah kacang tanah, jagung, dan ubi kayu. Sementara itu di Kabupaten Pasuruan, mangga, jeruk, dan srikaya lebih banyak dipilih sebagai tanaman sela.

Menurut hasil observasi di Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian (IP2TP) Muktiharjo tahun 2019, integrasi kapuk dan tanaman sela ubi kayu bisa menghasilkan 5 ton gelondong kapuk/ha dan 25 ton ubi kayu/ha dengan total penerimaan mencapai Rp60 juta/ha.

Oleh karena itu, penanaman tanaman sela bisa membantu mengungkit pendapatan petani, mengurangi risiko kerugian, meningkatkan efisiensi penggunaan lahan, dan membuka kesempatan kerja.

Selain tanaman sela, budidaya kapuk juga cocok diintegrasikan dengan peternakan lebah madu. Pasalnya, interaksi lebah madu dengan tanaman kapuk dapat meningkatkan produktivitas dan mutu hasil kapuk. Pendapatan petani pun bisa terungkit lewat madu yang dihasilkan lebah.

Meski demikian, petani perlu memastikan ketersediaan pakan alami lebah sepanjang tahun. Apalagi mengingat kapuk hanya berbunga dan menghasilkan nektar sekali dalam setahun.

Penanaman kapuk tipe indika dan karibea dalam satu kawasan mampu menyediakan pakan alami selama lima bulan karena dua tipe tanaman tersebut berbunga di waktu berbeda. Petani juga dapat memanfaatkan tanaman sela semusim dan tahunan untuk menyediakan sumber pakan alami bagi lebah di bulan lainnya. (Bur)

Informasi lebih lanjut: Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Lampiran