» Info Teknologi » Balitklimat Siapkan Peta Potensi dan Pergeseran Kalender Tanam
15 Jan 2007

Ketidakteraturan kejadian iklim, penyimpangan iklim dan perubahan iklim yang terjadi di Indonesia 10 tahun terakhir ini menyebabkan terjadinya pergeseran awal musim hujan dan awal musim kemarau (iklim ektrem) kian besar. Bahkan perubahan iklim satu hingga tiga bulan ke depan bisa semakin sulit diprediksi. Semua ini tentu saja menjadi resiko terbesar dalam dunia pertanian khususnya usaha tani.

Balai penelitian Agroklimat dan Hidrologi (Balitklimat) berusaha menjawab kebutuhan masyarakat khususnya dalam masalah prediksi iklim. Diharapkan dengan inovasi teknologi yang hasilkan oleh Balitklimat bisa membantu masyarakat dalam menentukan waktu tanam, pola tanam hingga prediksi waktu panen yang tepat.

Hal ini diungkapkan oleh Kepala Balitklimat, Dr. Kasdi Subagyono kepada Majalah Agrotek, beberapa waktu lalu di kantornya. ”Balai ini memiliki tugas  untuk mempelajari dinamika sumberdaya iklim dan air, pada tahun 2007,” katanya. Ditargetkan Pebruari ini peta potensi dan pergeseran kalender tanam untuk pulau Jawa skala 1:250.000 bisa selesai. Untuk mengetahui pergeseran pola dan kalender tanam ini, dilakukan analisis awal musim hujan (onset monsoon) secara spasial dan temporal.

Analisis tersebut menggunakan data dasarian curah hujan untuk tiga skenario kejadian iklim, yaitu: tahun basah (curah hujan tahunan > 115% dari normal), tahun lembab (curah hujan = 85%-100% dari normal), dan tahun kering (curah hujan < 85% dari normal). Pergeseran itu sendiri mengacu kepada pola tanam dan kalender tanam yang telah ada yang selama ini diterapkan petani.

Menurut Kasdi kegiatan ini akan terus dikembangkan untuk memetakan potensi dan pergeseran pola dan kalender tanam lahan sawah seluruh Indonesia. Diharapkan peta ini langsung bisa dimanfaatkan oleh para petani dan kalangan yang langsung terjun di dunia pertanian khususnya tanaman pangan.

 

 

Sumber berita : Elfa Hermawan (Majalah Agrotek)