» Info Teknologi » Edamame Biomax untuk Peningkatan Gizi dan Ekspor
27 Mei 2021

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) terus menunjukan komitmennya dalam mendukung ketahanan pangan dan ekspor melalui berbagai teknologi yang dihasilkan. Hal itu ditegaskan Kepala Balitbangtan Dr. Fadjry Djufry pada berbagai kesempatan. Salah satu bukti dukungan tersebut ditunjukkan dengan pelepasan dua Varietas Unggul Baru (VUB) edamame yaitu Biomax 1 dan Biomax 2.

Biomax 1 dan Biomax 2 ditetapkan sebagai VUB berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 344/Kpts/SR.130/D/IV/2021 dan 344/Kpts/SR.130/D/IV/2021 tanggal 26 April 2021 tentang Tanda Daftar Varietas Tanaman Hortikiltura Kedelai Sayur (Edamame).

Biomax 1 memiliki kelebihan karena ukuran polongnya yang besar dan memiliki produktivitas tinggi. Jika dideskripsikan, Biomax 1 memiliki bobot polong muda 332,34-39,89 gram/100 polong dan produktivitas polong muda total 10,35-14,65 ton/hektar.

Berbeda dengan Biomax 1, Biomax 2 memiliki produktivitas polong muda lebih tinggi yakni 8,51-16,39 ton/hektar serta memiliki bobot polong muda 298,63-355,89 gram/100 polong.

Menurut peneliti Balitbangtan Dr. Asadi, jika direbus Biomax 1 dan Biomax 2 memiliki rasa agak manis. “Salah satu yang menentukan kualitas edamame itu kan bau langu ya, kedelai ini bau langunya hampir tidak ada,” ujarnya di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balitbangtan, Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian (BB Biogen) Bogor.

Asadi menambahkan, saat ini Balitbangtan melalui BB Biogen sedang memperbanyak benih di Cisarua Jawa Barat dan Jember Jawa Timur. Hasil perbanyakan benih nantinya akan tersedia di BB Biogen untuk dikembangkan lebih lanjut oleh instansi pemerintah, perusahaan swasta maupun penangkar benih di berbagai daerah di Indonesia.

Sementara itu Kepala BB Biogen Mastur, PhD menyampaikan, arah dan strategi pengembangan edamame akan dilakukan melalui dua jalur. Pertama melalui jalur public domain, yaitu pengembangan oleh petani kecil seperti sekitar wilayah Jabodetabek untuk pemasaran domestik dalam rangka penguatan gizi rakyat (terutama protein) dan retail dan kuliner modern. Cara ini akan banyak didukung Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) yang ada ditiap provinsi.

Kedua melalui jalur lisensi dan komersialisasi benih, yang selanjutnya dikembangkan oleh perusahaan bereoriantasi ekspor seperti di Jawa Timur.

“Diharapkan varietas ini dapat berkembang di beberapa provinsi seperti Jateng, Jabar, DIY, juga beberapa kota besar di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Bali,” kata Mastur.

Mastur menambahkan, saat ini benih kelas breeder seed (BS) atau label kuning sedang diperbanyak dan hasilnya akan didistribusikan ke BPTP dan mitra penangkar. Semoga Biomax 1 dan Biomax 2 dapat memberikan sumbangan pada gizi rakyat, pendapatan petani dan ekspor. (AB)

Informasi lebih lanjut: Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian