» Info Teknologi » Kembangkan Talas Beneng, Balitbangtan Bentuk Riset Kolaboratif
08 Jul 2021

Di tengah populernya porang di kalangan pelaku usaha pertanian, talas Banten yang masih satu kerabat umbi ini ternyata juga memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai komoditas ekspor dan bahan pangan alternatif. Ukuran talas asal Provinsi Banten ini tidak seperti talas lainnya, sehingga dinamai talas beneng yang artinya besar dan koneng/kuning, digolongkan dalam giant taro atau big elephant’s ear.

Selain potensi ukurannya, talas ini memiliki kadar protein (7.17%) dan mineral (13.70%) yang relatif tinggi. Potensi ini didukung pula oleh kemudahan budidayanya di lahan basah maupun kering, sehingga dapat dikembangkan di lahan marjinal.

Pemerintah Provinsi Banten terus memacu budidaya talas beneng melalui pengembangan area lahan tanam yang diperkirakan mencapai 100-300 hektar di Banten dan berpotensi bertambah sehingga tercipta kawasan talas 1000 hektar. Atas dasar potensi dan keunikannya, pemerintah setempat menobatkan talas Beneng sebagai salah satu ikon Banten. 

Di balik besarnya potensi talas sebagai sumber pangan alternatif, ternyata belum diimbangi dengan pemanfaatannya. Umumnya masyarakat memanfaatkan talas terbatas sebagai  kudapan berupa keripik, kolak, ubi goreng dan ubi rebus atau tambahan sayur. 

Berbeda dengan negara-negara lain seperti Jepang dan New Zealand, talas dimanfaatkan sebagai bahan baku industri pangan berbasis karbohidrat seperti roti, kue-kue, makanan bayi atau produk-produk ekstrusi yang bernilai ekonomi tinggi.  Berdasarkan data BPS tahun 2020, ekspor talas secara keseluruhan bernilai USD 3,07 juta dengan volume mencapai 2.909 ton dalam bentuk beku maupun segar untuk memenuhi permintaan negara Thailand, Jepang, China, Singapura, Malaysia, Vietnam, Australia dan Belanda.

“Kementerian Pertanian mendukung pengembangan agribisnis dan agroindustri talas beneng dengan melepas varietas beneng menjadi varietas unggul talas melalui Keputusan Menteri Pertanian No. 981 tahun 2020,” ujar Menteri Pertanian Syarul Yasin Limpo.

Dalam kesempatan lain, Syahrul menyampaikan bahwa semua pangan lokal yang kita punya seperti talas, ubi, sagu, sorgum dan lainnya bisa kita manfaatkan untuk menggerakan lapangan kerja dalam meningkatkan kesejahteraan petani dan memperbaiki ekonomi nasional.

Terlepas dari segala potensi talas beneng, salah satu kendala dalam penggunaan talas sebagai bahan baku produk olahan adalah kandungan oksalatnya yang tinggi (61.783 ppm, talas liar). Kandungan oksalat kemungkinan lebih rendah pada talas beneng budidaya.

“Konsumsi makanan berkadar oksalat tinggi dapat mengganggu kesehatan karena dapat menyebabkan pembentukan batu oksalat atau batu ginjal.  Adanya oksalat dapat menurunkan penyerapan kalsium oleh tubuh. Kendala lain dalam pemanfaatan talas sebagai bahan baku produk olahan adalah terjadinya browning yang dapat mengurangi nilai tampilan produk,” terang Winda Haliza, Peneliti dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan). 

Lebih lanjut dijelaskan, dengan beberapa perlakuan pada pembuatan tepung talas dapat mengurangi kadar oksalat hingga 90% lebih.  Proses reduksi oksalat dilakukan secara bertahap dalam suatu kondisi proses yang mild sehingga mempertahankan karakteristik tepung talas dan meminimalkan terjadinya browning yaitu dengan cara perendaman dalam larutan asam atau garam dan diikuti dengan perendaman dalam air atau air hangat (pemanasan minimal).

Kepala Balitbangtan Dr. Fadjry Djufry mengatakan pengembangan model agorindustri dan agribisnis talas beneng sangat dibutuhkan untuk meningkatkan nilai tambah produk dan mendukung ketahanan pangan. Produk-produk baru dan kekinian berbahan talas perlu dikembangkan teknologinya selain produk talas beku yang memang sudah diekspor.

Fadjry berharap melalui riset dan pengembangan inovasi kolaboratif komoditas talas yang tahun ini tengah dilakukan Balitbangtan dapat mengakselerasikan hilirisasi teknologi Litbang yang dibutuhkan untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing komoditas ini.

“Tak hanya kolaborasi internal Balitbangtan, aksi kolaborasi riset ini turut melibatkan Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Pandeglang dan Provinsi Banten, Dinas Pertanian Kabupaten Pandeglang dan Provinsi Banten, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, asosiasi dan perkumpulan serta UMKM penggiat talas beneng dan kami terus menjajagi dengan pihak-pihak terkait lainnya,” tutupnya. (EGA)

Informasi lebih lanjut: Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian