» Info Teknologi » Hermetik Jaga Kualitas Biji-Bijian dalam Simpanan
05 Okt 2021

Teknologi penyimpanan hermetik merupakan teknologi yang efektif, aman dan ramah lingkungan untuk melindungi biji-bijian dalam penyimpanan. Pada teknologi hermetik, bahan pangan disimpan dalam ruang yang kedap udara, maupun uap air tidak dapat keluar masuk dalam ruang penyimpanan.

Metode penyimpanan hermetik merupakan sistem penyimpanan tertutup berisi atmosfer termodifikasi yang berasal dari efek respirasi yang menghasilkan kondisi rendah oksigen dan tinggi karbon dioksida dalam kemasan. Permeabilitas yang rendah dari kemasan dapat mempertahankan kadar air yang tetap rendah di dalam kemasan.

Kondisi hermetik dapat dibuat dengan menyimpan bahan pangan dalam wadah yang kedap dan ditutup rapat, maupun bahan lain yang memiliki sifat kedap udara maupun air. Jenis bahannya dapat bervariasi yang penting bersifat kedap, diantaranya plastik yang memiliki sifat barrier (penghalang) terhadap udara dan uap air yang tinggi.

Membuat Kondisi Hermatik

Pembuatan kondisi hematik dengan menggunakan lilin untuk sealing/penutupan. Wadah yang dapat digunakan sebagai kemasan hermatik diantaranya adalah drum minyak, drum PVC dan jerigen. Wadah tersebut dibuat hermetik dengan cara ditutup rapat dengan lilin maupun silikon.

Sistem hermatik mempertahankan kadar air awal kemasan dan mengurangi kerusakan yang karena hama pascapanen tanpa menggunakan pestisida. Ada dua cara menyimpan biji-bijian secara hermatik. Pertama, menggunakan kemasan hermatik komersial. Kedua, menggunakan kemasan/wadah lokalyang dapat ditutup secara hermatik.

Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan kemasan hermetik adalah dapat mengendalikan serangan hama pascapanen dan kadar air. Bahkan dapat dipakai ulang serta mudah digunakan. Namun memerlukan rantai pemasaran agar sampai ke petani. Harganya tergantung rantai pemasaran. Sedangkan kemasan hermetik yang memanfaatkan kemasan lokal kelebihannya mudah didapat. Namun proses untuk sealing lebih susah.

Efektifitas penggunaan teknologi hermetik telah banyak diteliti maupun dikaji. Salah satunya oleh Sutrisno dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Padi (BB Padi), yang melakukan penyimpanan padi varietas Ciherang selama 5 bulan.

Hasil kajian menunjukan penggunaan plastik super bag (memiliki sifat hermetik) menghasilkan rendemen giling. Penggunaan kemasan super bag dapat melindungi beras dari serangan hama pascapanen sampai tiga bulan penyimpanan. Bahkan, belum terdapat serangga di dalam kemasan beras sromatik mentikwangi.

Demikian juga hasil penelitian Rachmat, dkk dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian (BB Paspa), penggunaan plastik hermetik pada beras pecah kulit menunjukan terjadi penurunan kadar oksigen penyimpanan selama 8 bulan, yaitu dari 21% turun ke taraf 8-10%.

Artinya, dapat menekan populasi serangga hidup, dibandingkan dengan kemasan lainnya. Penelitian kamsiati, dkk juga menunjukkan penggunaan kemasan hermetik laminat juga dapat mempercepat kematian Sitophilus oryzae dalam penyimpanan beberapa varietas beras.

Demikian juga hasil penelitian Dharmaputra,dkk (SEAMEO BIOTROP) yang menyatakan kemasan hermetik dapat menekan jumlah aflatoxin yang dihasilkan Aspergillus oryzane selama penyimpanan jagung.

Hasil penelitian BB Paspa, penyimpanan jagung secara hermetik (kedap) menghasilkan jagung dengan kandungan aflatoksin yang masih aman (< 3 ppb untuk jenis aflatoksin B1) sampai dengan 3 bulan dan kerusakan fisiknya masih di bawah 2%. Sedangkan kadar pati, kadar lemak dan kadar protein relatif stabil sampai penyimpanan 3 bulan.

Efek perlindungan terjadi karena kondisi hermetik akan menghasilkan penurunan oksigen dan peningkatan karbondioksida selama penyimpanan. Kondisi ini dapat menekan pertumbuhan dan membunuh serangga hama dan cendawan pascapanen, yang menyerang biji-bijian selama penyimpanan.

Dari hasil-hasil kajian tersebut diketahui penyimpanan hermetik merupakan metode yang efektif untuk melindungi dan menjaga kualitas biji-bijian selama penyimpanan.

Informasi lebih lanjut: Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian