» Info Teknologi » Kit Deteksi Cepat Penyakit Huanglongbing Tanaman Jeruk
14 Okt 2021

Jeruk merupakan tanaman asli dari benua Asia khususnya dari India sampai Cina. Banyak spesies jeruk yang telah dibudidayakan di daerah subtropik. Namun, Indonesia yang notabenya negara tropis juga ikut membudidayakan berbagai macam jeruk, mulai dari dataran rendah hingga dataran tinggi. Bahkan, beberapa jenis jeruk yang dibudidayakan amat sangat terkenal, tak hanya karena manis tetapi juga rasanya menyegarkan serta memiliki banyak kandungan vitamin C. Sebut saja jeruk Pontianak maupun jeruk Medan.

Namun bukan berarti tanaman jeruk tidak memiliki permasalahan dalam budidayanya, sebut saja salah satunya adalah penyalit huanglongbing. Huanglongbing (HLB), atau di Indonesia populer dengan sebutan Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD), merupakan penyakit degenerasi penyebab menurunnya produktifitas, kualitas bahkan kematian tanaman jeruk di berbagai negara di dunia.

Di Indonesia, penyakit ini diketahui menyerang tanaman jeruk sejak tahun 1940, saat dilaporkan terjadinya berbagai kerusakan tanaman jeruk yang sangat parah di sentra-sentra pertanaman jeruk. Besarnya kerugian akibat HLB tercatat 62,34% tanaman mati di Tulungagung tahun 1990 (Nurhadi et al, 1991).

Sekitar 95.564 ha pertanaman jeruk (60%) mengalami kerusakan parah dalam kurun waktu 1988 sampai 1996 di Bali Utara dengan kerugian diperkirakan mencapai Rp 36 miliar pada 1984 (Nurhadi et al., 1996). Di Sambas-Kalimantan Barat yang merupakan satu-satunya propinsi terbesar penghasil jeruk Siem di Indonesia, tercatat 2.000 dari 13.000 hektar lahan pertanam jeruk telah merana dan terancam mati hanya dalam waktu 6 bulan, dengan kerugian mencapai 120 milyar per tahun.

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Barat tahun 2010 menginformasikan 3572 dari 11827 tanaman (31 %) tanaman yang telah berproduksi telah terserang HLB. Lebih jauh dilporkan bahwa HLB mengancam perekonomian sekitar 65.000 petani yang hidupnya bertumpu pada budidya jeruk (Kompas, 2010).

Oleh karena itu untuk mengantisipasi permasalahan tersebut Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) telah menghasilkan Kit Untuk Deteksi Cepat Penyakit Huanglongbing (HLB)/CVPD Tanaman Jeruk Secara Isothermal. Teknologi ini adalah alat untuk mendeteksi secara cepat penyakit huanglongbing pada tanaman jeruk secara cepat dan akurat berbasis amplifikasi dna tanpa thermalcycler.

Karakterisitik Kit dePAT CVPD dengan teknologi LAMP (Loop-mediated isothermal amplification) ini memungkinkan dikembangkan Kit Deteksi Cepat yang dapat diterapkan di kawasan pengembangan jeruk yang sumberdayanya terbatas.

Keunggulan dari invensi ini adalah 1) Cepat, proses deteksi hanya membutuhkan waktu < 90 menit; 2) Sensifitas tinggi, mampu mendeteksi bakteri Clas sampai pada level 10 picogram; 3) Spesifik, hanya mengenali DNA target (bakteri Clas) tidak mengenali DNA bakteri lain; 4) Mudah, protokol mudah diaplikasikan dan tidak memerlukan orang yang berketrerampilan khusus, 5) Murah, tidak memerlukan peralatan canggih dan fasilitas laboratorium modern serta dapat dilakukan di lapang; 6) User friendly,  bahan yang digunakan tidak mengandung bahan berbahaya atau non karsinogenik.

Invensi ini potensial dan prospektif untuk dikembangkan dalam skala komersial.

Informasi lebih lanjut: Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika