» Info Teknologi » Balitbangtan Terapkan Teknologi Lahan Sawah Tadah Hujan di Sumba Barat Daya
29 Nov 2021

Kabupaten Sumba Barat Daya merupakan salah satu dari empat kabupaten yang terletak di Pulau Sumba, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Masyarakat di sana 85 persen bekerja di sektor pertanian yang lahannya mayoritas lahan tadah hujan.

Sebagai informasi bahwa lahan sawah tadah hujan merupakan berada di daerah beriklim kering dengan curah hujan tahunan yang rendah (<2.000 mm/tahun), dengan bulan basah 3-5 bulan/tahun. Di beberapa wilayah lahan kering, bulan basah seringkali hanya mencapai 2 bulan/tahun.

Banyak kendala dihadapi oleh petani untuk meningkatkan produktifitas dan kualitas produksi disaat terjadinya perubahan iklim. Hal tersebut dikarenakan kurangnya pengetahuan akan teknis budidaya, perawatan, pengendalian hama penyakit terpadu.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, di tahun 2021 ini Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan (Puslitbangtan) melaksanakan bimbingan budidaya padi sawah tadah hujan. Kegiatan ini merupakan bagian dari kegiatan Riset Pengembangan Inovatif Kolaboratif (RPIK) dengan tema Pengembangan Teknologi Padi Sawah Tadah Hujan pada Daerah Iklim Kering.

Menurut Dr. Priatna Sasmita, Kepala Puslitbangtan, saat kunjungan ke lokasi di Desa Tema Tana, Kecamatan Wewewa Timur, Kabupaten Sumba Barat Daya, tujuan dilaksanakan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kemampuan petani dalam berbudidaya padi di lahan sawah tadah hujan.

“Adanya kegiatan ini, diharapkan pengetahuan petani meningkat dalam penguasaan komponen teknologi budidaya padi, teknologi pascapanen serta pemahaman agroindustri padi sawah tadah hujan,” ujar Priatna.  

Lebih jauh Priatna juga menyampaikan bahwa Balitbangtan telah menghasilkan inovasi dan teknologi budidaya padi untuk lahan sawah tadah hujan diantaranya varietas yang tahan kekeringan dan penyakit.

“Beberapa varietas padi yang dilepas oleh Balitbangtan untuk lahan sawah tadah hujan yang toleran terhadap kekeringan dan tahan penyakit Blast, diantaranya yaitu Inpari 38 Tadah Hujan, Inpari 39 Tadah Hujan, dan Inpari 41 Tadah Hujan,” paparnya.

Pada kegiatan ini juga, Balitbangtan juga mengenalkan teknologi pengelolaan hara terpadu untuk meningkatkan produksi padi pada lahan sawah tadah hujan. Selanjutnya petani juga mendapatkan pengetahuan tentang teknologi panen air hujan, teknologi surjan dan penerapan pola tanam yang mensiasati ketidakmenentuan curah hujan. (Uje/HRY)

Informasi lebih lanjut: Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan