» Info Teknologi » Pemerintah Serius Tangani Jarak Pagar
13 Apr 2007

Pemerintah sangat serius untuk membiayai penelitian dan pengembangan jarak pagar. Penegasan itu disampaikan oleh Kepala Badan Litbang Pertanian (Kabadan) Dr. Achmad Suryana, saat dialog dengan para peneliti dan teknisi di Kebun Induk Jarak Pagar, KP Asembagus - Situbondo, akhir Maret 2007 lalu. Kabadan menambahkan bahwa keseriusan pemerintah dalam menangani jarak pagar sebagai bioenergi diperkuat oleh terbitnya Inpres maupun Keppres pada tahun 2006.

Tentunya penanganan Jarak Pagar tidak cukup dengan Inpres maupun Keppres saja.  Juga dibutuhkan penelitian maupun pengembangan terkait Jarak Pagar yang didukung pula dengan sarana prasarana yang mumpuni. "Untuk pengembangan Jarak Pagar ke depan diperlukan kebun induk yang memadai", ungkap Kabadan.

Kebun induk Jarak Pagar yang ada saat ini berlokasi di KP Pakuwon - Sukabumi, KP Muktiharjo - Pati, dan KP Asembagus - Situbondo. Pada tahun 2007 ini rencananya akan dibangun kebun induk jarak pagar baru di Lampung, NTB, dan Sulawesi Tengah. Pembangunan kebun induk ini sangat diperlukan terutama untuk pengadaan benih yang bermutu di daerah bersangkutan. Saat ini para pengusaha dan petani masih kesulitan mendapatkan benih bermutu. Usaha pengembangan kebun induk dilakukan untuk menghindarkan mereka menanam jarak pagar dengan benih atau bibit yang tidak jelas baik mutu maupun produktivitasnya.

Biofuel Jarak Pagar
Kunjungan Kabadan ke KP Asembagus diawali dengan meninjau kegiatan kebun, seperti pengelolaan kebun induk jarak pagar, plasmanutfah jarak pagar, serta beberapa kegiatan penelitian kapas dan Unit Pengelolaan Benih Sumber (UPBS).  Pompanisasi untuk pengairan kebun juga mendapat perhatian serius, mengingat melalui pompanisasi kebun Asembagus mampu memanfaatkan secara optimal lahan yang tersedia untuk kegiatan penelitian.

Kabadan pun berkesempatan melihat beberapa mesin pasca panen yang ada, antara lain, mesin pemecah buah Jarak Pagar tipe Balittas 1 dan tipe Balittas 2 yang merupakan hasil rekayasa peneliti Balittas. Mesin pemecah buah Jarak Pagar tipe Balittas 2 mempunyai kapasitas 300 kg biji perjam dengan hasil 100 % biji utuh, dibandingkan dengan tipe Balittas 1 yang hanya berkapasitas 250 kg biji per jam, atau setara dengan tenaga manusia yang berkapasitas 30 kg per hari per 8 jam kerja. Kabadan saat mengisi BBM Jarak pagar ke mobil operasional KP AsembagusBeberapa pengusaha telah menyatakan ketertarikannya pada mesin pemecah buah jarak pagar, dan bahkan sudah ada yang memesan mesin pemecah ini.

Pada kesempatan yang sama, Kabadan melakukan pengisian biofuel jarak pagar ke dalam tanki mobil operasional KP Asembagus yang berbahan bakar biofuel berbasis jarak pagar, sekaligus menghidupkan mesin mobil dan menempelkan sticker yang mencantumkan informasi bahwa mobil ini menggunakan bahan bakar dari biji jarak pagar. Tak lupa Kabadan berpesan agar performa mesin mobil yang menggunakan bahan bakar minyak jarak pagar ini dapat dipantau lebih lanjut. 

 

 

 

 

Sumber berita : Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat  (Balittas)