Tahukah Anda

No 1-5 dari 224

Pupuk kimia memiliki kekurangan dan kelebihan?

Berikut adalah dampak positif serta dampak negatif penggunaan pupuk kimia!

Beberapa dampak positif penggunaan pupuk kimia, yaitu: 

Menyuburkan Tanah

Pupuk kimia dapat menyuburkan tanah yang tidak subur secara cepat. Hal tersebut karena pupuk kimia mengandung zat hara seperti nitrogen fosfor, kalium, belerang, magnesium, serta kalium yang penting bagi pertumbuhan tanaman.

Mempercepat Pertumbuhan Tanaman

Keberadaan zat hara dan mineral penting dalam pupuk kimia dapat memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman. Pupuk kimia memiliki kandungan yang mudah terurai sehingga mineral di dalamnya dapat dengan cepat terserap oleh tanaman. Membuat tanaman tumbuh lebih cepat dan sehat juga terhindar dari hama penyakit. 

Lebih Efisien

Pupuk kimia lebih efisien jika dibandingkan dengan pupuk organik. Hal ini dikarenakan pupuk kimia mudah digunakan, murah, memiliki kandungan mineral di dalamnya jelas, dan juga terdapat banyak pilihan sesuai dengan kebutuhan tanaman.

Berikut dampak negatif penggunaan pupuk kimia baik bagi tanaman maupun bagi lingkungan, di antaranya:

Tanah mengeras

Penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus dapat membuat tanah mengeras dan kehilangan porositasnya. Hal ini dikarenakan penggunaan pupuk meningkatkan kadar asam dalam tanah. Dilansir dari Hunker, asam klorida dan asam sulfat dalam tanah melarutkan remah-remah tanah yang kaya akan mineral.

Perusakan mineral tanah oleh asam tersebut membuat tanah kehilangan porositas. Hal ini berarti tanah akan menjadi sangat padat sehingga air akan sulit masuk, begitu juga dengan sirkulasi udara yang berkurang.

Pengerasan tanah memicu pada ketidaksuburan tanah secara keseluruhan. Dalam perjalanan menjadi kering, pengancurhan mineral memicu penipisan mineral serta unsur hara dalam tanah.

Hal tersebut membuat tumbuhan akan ketergantungan terhadap pupuk, yang semakin lama akan semakin merusak tanah tempat tumbuhan tersebut hidup.

Pemusnahan mikroorganisme

Bahan kimia sintetis dalam pupuk kimia mengubah pH tanah dan membuatnya menjadi asam. Peningkatan keasaman ini dapat membunuh mikroorganisme yang dibutuhkan oleh tanah. Misalnya bakteri pengikat nitrogen, bakteri pembentuk antibiotik, dan juga berbagai macam jamur.

Pencemaran air

Penggunaan pupuk kimia dapat memicu pencemaran air dan menganggu ekosistem di dalamnya. Dilansir dari Conserve Energy Future, konsentrasi nitrogen dan nutrisi akan masuk ke dalam air dan menyebabkan eutrofikasi yang memicu alga bloom.

Alga bloom adalah lonjakan mikroorganisme yang akan menyebabkan penurunan kadar oksigen juga pelepasan racun. Hal tersebut dapat membuat hewan air mati dan jika dibiarkan, seluruh perairan akan menjadi zona mati.

Memicu gangguan kesehatan

Konsentrasi nitrogen yang tinggi dari pupuk kimia akan masuk terus ke dalam tanah hingga batuan akuifer dan mencemari pasokan air bersih di dalamnya. Selain masuk ke dalam air tanah, nitrogen dapat terbawa pada tumbuhan atau hewan yang dimakan manusia dan meningbulkan berbagai masalah kesehatan.

Keracunan nitrogen tersebut dapat mengakibatkan kerusakan DNA dan berbagai penyakit kronis, salah satunya Alzheimer. Dilansir dari Amos Institute, konsentrasi cadmium dan aluminium akibat penggunaan pupuk kimia berperan dalam patofisiologi Alzheimer. Yang berarti penggunaan pupuk kimia memicu penyakit Alzheimer.

Sumber: Kompas.com

Buah Subtropika Kesemek

Kesemek diyakini berasal dari China dan merupakan sumber makanan yang penting di China, Jepang, dan Korea sejak masa prasejarah. Kesemek telah tumbuh di Vietnam, Indonesia dan Filipina sejak lama.

Kesemek juga tumbuh di Amerika Serikat, Brasil, Australia, Rusia dan Uni Soviet, serta beberapa negara di Asia Tenggara. Penyebaran kesemek ke benua lain disebabkan karena daya adaptasinya yang tinggi di daerah beriklim sedang dan tropis. Secara alami, penyebaran kerabat kesemek, yaitu D. virginiana, dibantu oleh beragam mamalia.

Kesemek membutuhkan iklim sedang hingga sedang-ringan (mild temperate) untuk tumbuh dan berkembang dengan baik. Kesemek mungkin tidak dapat berbuah pada dataran rendah di daerah tropis.

Di Brasil, kesemek dianggap cocok dan dapat ditanam pada semua zona yang menguntungkan bagi tanaman jeruk. Namun demikian, zona dengan suhu terdingin pada musim salju menginduksi hasil buah tertinggi.

Kesemek dapat tumbuh pada ketinggian 0-2500 meter di atas permukaan laut. Tanah yang paling baik untuk budidaya kesemek adalah tanah dengan tekstur medium dan dalam, namun kesemek dapat juga tumbuh pada tanah dengan kandungan liat dengan drainase yang baik.

Di Indonesia kesemek merupakan salah satu buah subtropis yang semakin langka namun tetap memiliki potensi pasar. Hal ini terlihat dari tren impor buah kesemek dari tahun 2012 hingga tahun 2018, yang mengalami kenaikan 97,8%, dari 52 ton menjadi 102,9 ton.

Di sisi ekspor, peluang yang terbuka belum dapat ditangkap sepenuhnya oleh Indonesia, salah satunya permintaan dari Singapura. Beberapa sentra kesemek di antaranya Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Barat dan Sumatera Utara.

Sumber: Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Sub Tropika

Bahayanya Kentut Sapi?

Sebagian besar masyarakat di tanah air mungkin belum tahu mengenai fakta berbahaya di balik kentut sapi. Salah satu fakta berbahaya terkait kentut sapi adalah pernah meledakkan sebuah peternakan.

Berikut bahayanya kentut sapi:

1. Pernah ledakkan sebuah peternakan

Melansir dari laman Metro.co.ik, sebuah peternakan di Rasdorf Jerman pernah meledak karena kentut seekor sapi. Kejadian ini terjadi pada 28 Januari 2014.

Dijelaskan perisitiwa ledakan itu terjadi akibat penumpukan gas metana dari kentut 90 ekor sapi yang ada di peternakan tersebut.

Gas metana yang dihasilkan dari kentut sapi itu terus menumpuk, hingga pada malam hari saat listrik dinyalakan menyebabkan terjadinya sebuah ledakan.

Dari peristiwa itu hanya satu ekor sapi yang menderita luka ringan, tetapi kandangnya rusak pada bagian atapnya.

2. Kentut sapi bisa mengganggu keseimbangan iklim

Seperti yang diketahui kentut sapi mengandung senyawa metana, yang mana senyawa itu sangat aktif, dan kerap dijadikan sebagai sumber bahan bakar utama.

Melansir dari laman globalcitizen kentut sapi atau disebut emisi bovine adalah ancaman eksistensial terhadap manusia.

Gas metana dari kentut sapi merupakan produk yang berbahaya. Mengutip The Guardian, seekor sapi dapat menghasilkan 200 kg metana per tahun.

Meskipun karbon diokasida adalah penyebab utama perubahan iklim, namun gas metana 84 kali lebih kuat merusak atmosfer bumi.

Rusaknya atmosfer bumi sangat berpengaruh pada iklim di bumi, yang artinya juga berpengaruh pada keberlangsungan hidup manusia di bumi.

Atau dengan kata lain sendawa dan kentut sapi memiliki kontribusi cukup besar terhadap emisi gas rumah kaca.

3. Lebih banyak sapi sama dengan lebih sedikit pohon

30% tanah di bumi ini diisi dengan berbagai macam pertanian, 70% adalah hewan ternak. Secara alami, sapi merupakan hewan darat yang paling intensif.

Artinya sapi merupakan hewan dengan tubuh yang besar dengan jumlah makan yang banyak dan penghasil limbah yang banyak.

Untuk membuat lahan penggembalaan, peternak biasanya menebang hutan. Di Amazon, 80% penggundulan hutan disebabkan akibat adanya peternakan.

4. Kentut sapi bisa menyebabkan hujan asam

Secara teknis, gas yang keluar dari tubuh sapi baik dalam bentuk sendawa maupun kentut mengandung dua pertiga senyawa amonia.

Senyawa amonia ini sangat beracun bagi hewan yang hidup di air dan berbahaya bagi tanah yang subur. Terkadang senyawa amonia yang berdifusi ke udara bisa menyebabkan hujan asam.

Meski demikian, sapi tetap merupakan ternak yang penting dan banyak manfaatnya untuk keberlangsungan hidup manusia karena menghasilkan susu serta daging yang baik untuk kita.

Sumber: grid.id

Ruscus, Tanaman Hias Daun yang Bikin Cantik Rangkaian Bunga

Ruscus hypophyllum L. (Famili: Liliaceae) merupakan tanaman daun yang kini banyak dimanfaatkan dalam mempercantik rangkaian bunga. Bentuk daun ruskus yang tebal berwarna hijau tua yang mengkilap menjadi daya tarik tersendiri. Apalagi Daun ruskus juga dikenal memiliki tingkat kesegaran yang paling tahan lama dibandingkan jenis daun potong lainnya.

Tanaman ini memiliki daun seperti cladodes, tidak berduri, sangat pupuler digunakan sebagai daun potong dalam rangkaian bunga karena bentuknya yang unik, menarik, dan memiliki daya simpan lebih dari 1 bulan, baik sebagai tanaman taman maupun tanaman ruangan

Budidaya tanaman ruskus tergolong mudah, media tanam yang diperlukan berupa campuran tanah dan humus bambu dengan perbandingan 2:1. Tanaman ini tahan terhadap perubahan musim, hal ini menjadikan ruscus banyak dilirik oleh pelaku usaha tani tanaman hias.

 

Di Indonesia, R. hypophyllum/ Ruscus banyak dibudidayakan secara komersial di bawah rumah skrin berbahan paranet di daerah Pasir Sarongge dan Cipanas-Cianjur, Cisarua- Bogor, dan Cihidueng-Bandung Jawa Barat. Di Cihideung-Bandung khususnya, petani mampu memproduksi lebih dari 500 ikat per minggu dan dijual dengan harga Rp8.000,00 – 14.400,00 per ikat bergantung kualitasnya.

Secara tradisional, Russcus diperbanyak menggunakan biji, stek maupun pemisahan. Perbanyakan menggunakan biji, meskipun menghasilkan tanaman baru dalam jumlah yang banyak, namun tanaman yang dihasilkan sangat bervariasi. 

Sementara perbanyakan menggunakan stek dan pemisahan rhizome, meskipun menghasilkan tanaman yang sama dengan induknya, namun benih yang dihasilkan terbatas dengan waktu, biaya, dan tenaga yang lebih besar. 

Cara konvensional tersebut umumnya tidak sesuai untuk menunjang pengembangan Ruscus pada skala komersial. Oleh karena itu Balithi yang merupakan lembaga penelitian komoditas tanaman hias terus berupaya mengembangkan teknologi perbanyakan tanaman ini secara kultur jaringan sebagai alternatif penyediaan benih berkualitas, jumlah yang besar, waktu yang singkat dengan biaya yang lebih murah.

Teknologi produksi benih berkualitas Ruscus menggunakan nodus infloresen muda sebagai sumber eksplan merupakan teknologi produksi benih berkualitas yang jauh lebih optimal dibanding teknologi perbanyakan konvensional melalui pemisahan rhizome yang hanya menghasilkan tanaman baru sekitar 5–8 tanaman per tahun. Dengan teknologi ini yang tahapannya dimulai dari pemilihan tanaman donor hingga aklimatisasi plantlets dapat menghasilkan ± 30.000 tanaman hasil aklimatisasi dalam jangka waktu 1,5 tahun.

Sumber: Balai Penelitian Tanaman Hias

Sumber: Balai Penelitian Tanaman Hias

Cyperus Haspan Viviparus L. Tanaman Hias Penekan Pencemaran Air

C. haspan L. adalah tanaman air berupa rumput-rumputan. Tanaman ini tumbuh di air yang dangkal dan tergenang serta berkembang baik di lahan basah, berpasir dan asam. Satu individu tanaman ini dapat memproduksi 50.000 biji pertahun dan tanaman ini akan membentuk rhizome pada tahun kedua.

C. haspan sebagai gulma dapat memperbanyak diri dengan efektif.  Perbanyakan secara konvensional selain meggunakan biji, tanaman ini dapat diperbanyak melalui rhizome yang berasal dari akar. Selain menggunakan perbanyakan konvensional, perbanyakan dengan kultur jaringan juga dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh bahan tanaman berupa kalus, embriosomatik, maupun tunas yang akan digunakan untuk penyediaan benih dan transformasi gen yang berkaitan dengan kemampuan fitoremediasi yang tinggi.

C. haspan merupakan tanaman perennial, akarnya berserat berwarna merah-ungu, rimpang berukuran pendek, pertumbuhan horisontal, batang soliter dengan ujung batang berumbai, tegak, bentuk batang bersegi tiga, dan agak lunak. Daun selubung terletak di dasar batang dengan panjang 2-10 cm dengan warna hijau pucat hingga coklat, ungu-coklat, atau merah-ungu. Bunga dalam satu tangkai berjumlah 10-28 dengan panjang sekitar 25 mm berwarna ungu kecoklatan.

C. haspan tersebar di dunia menjadi tanaman gulma pada 12 tanaman pangan di 39 negara tropis dan semitropis Afrika, Asia, Australia, Amerika Selatan, dan Amerika Utara. Tanaman ini sulit dibedakan dengan C. tenuispi, spesies yang memiliki ukuran bunga lebih lebar.  Kedua spesies tersebut merupakan spesies gulma yang umum ditemukan di ladang padi di Asia.

Selain ditemukan di Asia, tanaman ini ditemukan di Fiji dengan habitat atau ekologi 160 m dpl sebagai tanaman naturalisasi adventif, di lahan basah terbuka, rawa-rawa, padang rumput, tepi sungai, dan sawah. Sedangkan, di Hawaii, tanaman ini umum dijumpai di lahan basah terutama di rawa, hutan basah, dan terbuka, dan daerah berlumpur pada ketinggian dari 3-1700 m dpl.

Di Amerika Serikat, C. haspan banyak terdapat di sepanjang Atlantik dataran rendah dan medium dan Gulf dataran pesisir dari Virginia sampai ke Texas pusat. Tanaman ini tersebar dari tenggara Oklahoma mengikuti pola dari Teluk Coastal Plain. C. haspan merupakan flora yang sangat terbatas pada habitat rawa. Selain itu tanaman ini dikenal sebagai salah satu gulma yang sangat merusak di Amerika.

Dwarf Papyrus (C. haspan) merupakam tanaman air yang mudah berbiak dan digunakan sebagai tanaman hias. Tanaman ini digunakan  sebagai sumbu lampu dari bagian empulur batang dan sebagai sumber bahan untuk membuat tikar dan keranjang.

Tanaman Cyperus haspan L. juga digunakan untuk menekan pencemaran air. Sebagai contoh: Aplikasi tanaman air Cyperus haspan L. pada limbah cair rumah potong hewan (RPH) menunjukkan bahwa Cyperus haspan L. dengan rata-rata biomassa 5,9650 gr/bak berpotensi menurunkan pencemar limbah RPH sebanyak 71% untuk BOD dan 94% TSS selama 10 hari. Tanaman Cyperus haspan L. dapat dijadikan sebagai salah satu upaya pengolahan limbah dengan sistem lahan basah buatan. Seluruh bagian tanaman Cyperus haspan L. dapat digunakan sebagai obat tradisional seperti untuk membersihkan darah, obat batuk, reumatik, kolera, dyspepsia, dan demam.

Sumber: Balai Penelitian Tanaman Hias