Tahukah Anda

No 1-5 dari 225

Pupuk Nitrogen dan Fungsinya Bagi Tanaman

Tahukah Anda, pupuk merupakan sebagai salah satu sumber zat hara buatan yang diperlukan untuk mengatasi kekurangan nutrisi terutama unsur-unsur nitrogen , fosfor, dan kalium. Sedangkan unsur sulfur, kalsium, magnesium, besi, tembaga, seng, dan boron merupakan unsur-unsur yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit (mikronutrien).

Nitrogen (N) merupakan salah satu unsur hara utama dalam tanah yang sangat berperan dalam merangsang pertumbuhan dan memberi warna hijau pada daun. Kekurangan nitrogen dalam tanah menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman terganggu dan hasil tanaman menurun karena pembentukan klorofil yang sangat penting untuk proses fotosintetis terganggu. Di tanah gambut,kadar N relatif tinggi,namun sebagian Netrogen tersebut dalam bentuk Organik sehingga harus memerlukan proses mineralisasi untuk dapat digunakan tanaman.

Pupuk nitrogen mengandung hara tanaman N. Bentuk senyawa N umumnya berupa nitrat, amonium, amin, sianida. Contoh: Kalium nitrat (KNO3), amonium fosfat [(NH4)3PO4], urea (NH2CONH2) dan kalsium sianida (CaCN2). Bentuk pupuk N ini berupa kristal, prill, pellet, tablet maupun cair.

Amonium sulfat [(NH4)2SO4]

Pupuk ini dikenal dengan nama zwavelzuure amoniak (ZA) dan sampai sekarangpun masih banyak beredar di masyarakat. Umumnya berupa krital putih dan hampir seluruhnya larut air. Kadang-kadang pupuk tersebut diberi warna (misalnya pink). Kadar N sekitar 20-21% yang diperdagangan umumnya mempunyai kemurnian selitar 97%.

Kadar asam bebasnya maksimum 0.4%. Sifat pupuk ini: larut air, dapat dijerap oleh koloid tanah, reaksi fisiologis masam, mempunyai daya mengusir Ca dari kompleks jerapan, mudah menggumpal, tetapi dapat dihancurkan kembali, asam bebasnya kalau terlalu tinggi meracun tanaman.

Anhidrous amonia (NH3)

Pupuk ini dianggap yang paling tinggi kadar N-nya. Disimpan dalam bentuk cair. Penggunaannya dengan injeksi ke dalam tanah atau dilarutkan dalam air kemudian dipompa. Di Indonesia belum digunakan walaupun pabrik sudah membuat untuk keperluan lain. Pupuk dapat juga dilarutkan dalam air pengairan, akan tetapi ada risiko kehilangan N yang terbawa air pengairan dan karena penguapan terutama pada tanah atau air yang mempunyai reaksi alkalis.

Jumlah N yang hilang tergantung tekstur tanah, reaksi, cara pemberiannya, dalamnya injeksi ke dalam tanah. Dari berbagai percobaan menunjukkan bahwa sekitar 1-8 % tersemat pada lapisan permukaan tanah dan 2-31 % pada lapisan bagian bawah. Sering pemberian amonia cair dicampur dengan sulfur (S) karena sulfur larut dalam amonia.

Amonium khlorida (NH4Cl)

Kadar N dalam amonium khlorida (ACl) sekitar 26%. Dari beberapa peneliti untuk sebagian tanaman sering menunjukkan bahwa pupuk ACl lebih baik dibanding amonium sulfat (ZA) terutama untuk tanaman yang memerlukan unsur Cl. Ada dugaan bahwa ZA bila diberikan ke dalam tanah akan meninggalkan sulfat (SO­4=) dan ion ini kemudian ditanah sawah direduksi menjadi H2S, senyawa ini bersifat racun terhadap tanaman. Proses selan¬jutnya H2S bereaksi dengan feri atau mangan menjadi FeS atau Fe2S dan MnS.

Untuk tanaman yang diharapkan kadar proteinnya tinggi sebaiknya digunakan pupuk ZA karena senyawa protein mengandung unsur S sehingga pemberian S berperanan dalam pembentukan protein. Tanaman berbeda-beda tanggapannya terhadap kedua pupuk tersebut.Tapi umumnya sisa Cl kurang disenangi dibanding SO4=,demukian juga reaksi fisiologis ACl lebih asam dari pupuk ZA.

Amonium nitrat (NH4 NO3)

Kadar N dalam pupuk amonium nitrat sekitar 32-33,5%. Kalau dicampur dengan kapur disebut amonium lime( ANL).

Nitrogen adalah unsur yang sangat penting bagi petrumbuhan tanaman. Nitrogen merupakan bagian dari protein, bagian penting konstituen dari protoplasma, enzim, agen katalis biologis yang mempercepat proses kehidupan. Nitrogen juga hadir sebagai bagian dari nukleoprotein, asam amino, amina, asam gula, polipeptida dan senyawa organik dalam tumbuhan. Dalam rangka untuk menyiapkan makanan untuk tanaman, tanaman diperlukan klorofil,energi sinar matahari untuk membentuk karbohidrat dan lemak dari C air dansenyawa nitrogen.

Adapun peranan N yang lain bagi tanaman adalah : Berperan dalam pertumbuhan vegetatif tanaman, memberikan warna pada tanaman, panjang umur tanaman, penggunaan karbohidrat, dll. Kekurangan salah satu atau beberapa unsur hara akan mengakibatkan pertumbuhan tanaman tidak sebagaimana mestinya yaitu ada kelainan atau penyimpangan-penyimpangan dan banyak pula tanaman yang mati muda yang sebelumnya tampak layu dan mengering.

Adapun gejala yang ditimbulkan akibat dari kekurangan dan kelebihan unsure N bagi tanaman adalah sebagai berikut :

Efek kekurangan unsur N bagi tanaman : pertumbuhan kerdil, warna daun menguning, produksi menurun, fase pertumbuhan terhenti, kematian.

Efek dari kelebihan unsur N bagi tanaman : kualitas buah menurun, menyebabkan rasa pahit (seperti pada buah timun), produksi menurun, daun lebat dan pertumbuhan vegetative yang cepat, menyebabkan keracunan pada tanaman. (Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa)

Sumber: Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa

Pupuk kimia memiliki kekurangan dan kelebihan?

Berikut adalah dampak positif serta dampak negatif penggunaan pupuk kimia!

Beberapa dampak positif penggunaan pupuk kimia, yaitu: 

Menyuburkan Tanah

Pupuk kimia dapat menyuburkan tanah yang tidak subur secara cepat. Hal tersebut karena pupuk kimia mengandung zat hara seperti nitrogen fosfor, kalium, belerang, magnesium, serta kalium yang penting bagi pertumbuhan tanaman.

Mempercepat Pertumbuhan Tanaman

Keberadaan zat hara dan mineral penting dalam pupuk kimia dapat memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman. Pupuk kimia memiliki kandungan yang mudah terurai sehingga mineral di dalamnya dapat dengan cepat terserap oleh tanaman. Membuat tanaman tumbuh lebih cepat dan sehat juga terhindar dari hama penyakit. 

Lebih Efisien

Pupuk kimia lebih efisien jika dibandingkan dengan pupuk organik. Hal ini dikarenakan pupuk kimia mudah digunakan, murah, memiliki kandungan mineral di dalamnya jelas, dan juga terdapat banyak pilihan sesuai dengan kebutuhan tanaman.

Berikut dampak negatif penggunaan pupuk kimia baik bagi tanaman maupun bagi lingkungan, di antaranya:

Tanah mengeras

Penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus dapat membuat tanah mengeras dan kehilangan porositasnya. Hal ini dikarenakan penggunaan pupuk meningkatkan kadar asam dalam tanah. Dilansir dari Hunker, asam klorida dan asam sulfat dalam tanah melarutkan remah-remah tanah yang kaya akan mineral.

Perusakan mineral tanah oleh asam tersebut membuat tanah kehilangan porositas. Hal ini berarti tanah akan menjadi sangat padat sehingga air akan sulit masuk, begitu juga dengan sirkulasi udara yang berkurang.

Pengerasan tanah memicu pada ketidaksuburan tanah secara keseluruhan. Dalam perjalanan menjadi kering, pengancurhan mineral memicu penipisan mineral serta unsur hara dalam tanah.

Hal tersebut membuat tumbuhan akan ketergantungan terhadap pupuk, yang semakin lama akan semakin merusak tanah tempat tumbuhan tersebut hidup.

Pemusnahan mikroorganisme

Bahan kimia sintetis dalam pupuk kimia mengubah pH tanah dan membuatnya menjadi asam. Peningkatan keasaman ini dapat membunuh mikroorganisme yang dibutuhkan oleh tanah. Misalnya bakteri pengikat nitrogen, bakteri pembentuk antibiotik, dan juga berbagai macam jamur.

Pencemaran air

Penggunaan pupuk kimia dapat memicu pencemaran air dan menganggu ekosistem di dalamnya. Dilansir dari Conserve Energy Future, konsentrasi nitrogen dan nutrisi akan masuk ke dalam air dan menyebabkan eutrofikasi yang memicu alga bloom.

Alga bloom adalah lonjakan mikroorganisme yang akan menyebabkan penurunan kadar oksigen juga pelepasan racun. Hal tersebut dapat membuat hewan air mati dan jika dibiarkan, seluruh perairan akan menjadi zona mati.

Memicu gangguan kesehatan

Konsentrasi nitrogen yang tinggi dari pupuk kimia akan masuk terus ke dalam tanah hingga batuan akuifer dan mencemari pasokan air bersih di dalamnya. Selain masuk ke dalam air tanah, nitrogen dapat terbawa pada tumbuhan atau hewan yang dimakan manusia dan meningbulkan berbagai masalah kesehatan.

Keracunan nitrogen tersebut dapat mengakibatkan kerusakan DNA dan berbagai penyakit kronis, salah satunya Alzheimer. Dilansir dari Amos Institute, konsentrasi cadmium dan aluminium akibat penggunaan pupuk kimia berperan dalam patofisiologi Alzheimer. Yang berarti penggunaan pupuk kimia memicu penyakit Alzheimer.

Sumber: Kompas.com

Buah Subtropika Kesemek

Kesemek diyakini berasal dari China dan merupakan sumber makanan yang penting di China, Jepang, dan Korea sejak masa prasejarah. Kesemek telah tumbuh di Vietnam, Indonesia dan Filipina sejak lama.

Kesemek juga tumbuh di Amerika Serikat, Brasil, Australia, Rusia dan Uni Soviet, serta beberapa negara di Asia Tenggara. Penyebaran kesemek ke benua lain disebabkan karena daya adaptasinya yang tinggi di daerah beriklim sedang dan tropis. Secara alami, penyebaran kerabat kesemek, yaitu D. virginiana, dibantu oleh beragam mamalia.

Kesemek membutuhkan iklim sedang hingga sedang-ringan (mild temperate) untuk tumbuh dan berkembang dengan baik. Kesemek mungkin tidak dapat berbuah pada dataran rendah di daerah tropis.

Di Brasil, kesemek dianggap cocok dan dapat ditanam pada semua zona yang menguntungkan bagi tanaman jeruk. Namun demikian, zona dengan suhu terdingin pada musim salju menginduksi hasil buah tertinggi.

Kesemek dapat tumbuh pada ketinggian 0-2500 meter di atas permukaan laut. Tanah yang paling baik untuk budidaya kesemek adalah tanah dengan tekstur medium dan dalam, namun kesemek dapat juga tumbuh pada tanah dengan kandungan liat dengan drainase yang baik.

Di Indonesia kesemek merupakan salah satu buah subtropis yang semakin langka namun tetap memiliki potensi pasar. Hal ini terlihat dari tren impor buah kesemek dari tahun 2012 hingga tahun 2018, yang mengalami kenaikan 97,8%, dari 52 ton menjadi 102,9 ton.

Di sisi ekspor, peluang yang terbuka belum dapat ditangkap sepenuhnya oleh Indonesia, salah satunya permintaan dari Singapura. Beberapa sentra kesemek di antaranya Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Barat dan Sumatera Utara.

Sumber: Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Sub Tropika

Bahayanya Kentut Sapi?

Sebagian besar masyarakat di tanah air mungkin belum tahu mengenai fakta berbahaya di balik kentut sapi. Salah satu fakta berbahaya terkait kentut sapi adalah pernah meledakkan sebuah peternakan.

Berikut bahayanya kentut sapi:

1. Pernah ledakkan sebuah peternakan

Melansir dari laman Metro.co.ik, sebuah peternakan di Rasdorf Jerman pernah meledak karena kentut seekor sapi. Kejadian ini terjadi pada 28 Januari 2014.

Dijelaskan perisitiwa ledakan itu terjadi akibat penumpukan gas metana dari kentut 90 ekor sapi yang ada di peternakan tersebut.

Gas metana yang dihasilkan dari kentut sapi itu terus menumpuk, hingga pada malam hari saat listrik dinyalakan menyebabkan terjadinya sebuah ledakan.

Dari peristiwa itu hanya satu ekor sapi yang menderita luka ringan, tetapi kandangnya rusak pada bagian atapnya.

2. Kentut sapi bisa mengganggu keseimbangan iklim

Seperti yang diketahui kentut sapi mengandung senyawa metana, yang mana senyawa itu sangat aktif, dan kerap dijadikan sebagai sumber bahan bakar utama.

Melansir dari laman globalcitizen kentut sapi atau disebut emisi bovine adalah ancaman eksistensial terhadap manusia.

Gas metana dari kentut sapi merupakan produk yang berbahaya. Mengutip The Guardian, seekor sapi dapat menghasilkan 200 kg metana per tahun.

Meskipun karbon diokasida adalah penyebab utama perubahan iklim, namun gas metana 84 kali lebih kuat merusak atmosfer bumi.

Rusaknya atmosfer bumi sangat berpengaruh pada iklim di bumi, yang artinya juga berpengaruh pada keberlangsungan hidup manusia di bumi.

Atau dengan kata lain sendawa dan kentut sapi memiliki kontribusi cukup besar terhadap emisi gas rumah kaca.

3. Lebih banyak sapi sama dengan lebih sedikit pohon

30% tanah di bumi ini diisi dengan berbagai macam pertanian, 70% adalah hewan ternak. Secara alami, sapi merupakan hewan darat yang paling intensif.

Artinya sapi merupakan hewan dengan tubuh yang besar dengan jumlah makan yang banyak dan penghasil limbah yang banyak.

Untuk membuat lahan penggembalaan, peternak biasanya menebang hutan. Di Amazon, 80% penggundulan hutan disebabkan akibat adanya peternakan.

4. Kentut sapi bisa menyebabkan hujan asam

Secara teknis, gas yang keluar dari tubuh sapi baik dalam bentuk sendawa maupun kentut mengandung dua pertiga senyawa amonia.

Senyawa amonia ini sangat beracun bagi hewan yang hidup di air dan berbahaya bagi tanah yang subur. Terkadang senyawa amonia yang berdifusi ke udara bisa menyebabkan hujan asam.

Meski demikian, sapi tetap merupakan ternak yang penting dan banyak manfaatnya untuk keberlangsungan hidup manusia karena menghasilkan susu serta daging yang baik untuk kita.

Sumber: grid.id

Ruscus, Tanaman Hias Daun yang Bikin Cantik Rangkaian Bunga

Ruscus hypophyllum L. (Famili: Liliaceae) merupakan tanaman daun yang kini banyak dimanfaatkan dalam mempercantik rangkaian bunga. Bentuk daun ruskus yang tebal berwarna hijau tua yang mengkilap menjadi daya tarik tersendiri. Apalagi Daun ruskus juga dikenal memiliki tingkat kesegaran yang paling tahan lama dibandingkan jenis daun potong lainnya.

Tanaman ini memiliki daun seperti cladodes, tidak berduri, sangat pupuler digunakan sebagai daun potong dalam rangkaian bunga karena bentuknya yang unik, menarik, dan memiliki daya simpan lebih dari 1 bulan, baik sebagai tanaman taman maupun tanaman ruangan

Budidaya tanaman ruskus tergolong mudah, media tanam yang diperlukan berupa campuran tanah dan humus bambu dengan perbandingan 2:1. Tanaman ini tahan terhadap perubahan musim, hal ini menjadikan ruscus banyak dilirik oleh pelaku usaha tani tanaman hias.

 

Di Indonesia, R. hypophyllum/ Ruscus banyak dibudidayakan secara komersial di bawah rumah skrin berbahan paranet di daerah Pasir Sarongge dan Cipanas-Cianjur, Cisarua- Bogor, dan Cihidueng-Bandung Jawa Barat. Di Cihideung-Bandung khususnya, petani mampu memproduksi lebih dari 500 ikat per minggu dan dijual dengan harga Rp8.000,00 – 14.400,00 per ikat bergantung kualitasnya.

Secara tradisional, Russcus diperbanyak menggunakan biji, stek maupun pemisahan. Perbanyakan menggunakan biji, meskipun menghasilkan tanaman baru dalam jumlah yang banyak, namun tanaman yang dihasilkan sangat bervariasi. 

Sementara perbanyakan menggunakan stek dan pemisahan rhizome, meskipun menghasilkan tanaman yang sama dengan induknya, namun benih yang dihasilkan terbatas dengan waktu, biaya, dan tenaga yang lebih besar. 

Cara konvensional tersebut umumnya tidak sesuai untuk menunjang pengembangan Ruscus pada skala komersial. Oleh karena itu Balithi yang merupakan lembaga penelitian komoditas tanaman hias terus berupaya mengembangkan teknologi perbanyakan tanaman ini secara kultur jaringan sebagai alternatif penyediaan benih berkualitas, jumlah yang besar, waktu yang singkat dengan biaya yang lebih murah.

Teknologi produksi benih berkualitas Ruscus menggunakan nodus infloresen muda sebagai sumber eksplan merupakan teknologi produksi benih berkualitas yang jauh lebih optimal dibanding teknologi perbanyakan konvensional melalui pemisahan rhizome yang hanya menghasilkan tanaman baru sekitar 5–8 tanaman per tahun. Dengan teknologi ini yang tahapannya dimulai dari pemilihan tanaman donor hingga aklimatisasi plantlets dapat menghasilkan ± 30.000 tanaman hasil aklimatisasi dalam jangka waktu 1,5 tahun.

Sumber: Balai Penelitian Tanaman Hias

Sumber: Balai Penelitian Tanaman Hias