Tahukah Anda

No 1-5 dari 217

Urban Farming – Budidaya Sayuran Daun dengan Sistem NFT

Kegiatan pertanian perkotaan (urban farming) semakin meningkat di masa pandemi covid-19. Salah satu bentuk kegiatan pertanian perkotaan adalah budidaya sayuran engan sistem hidroponik.

Terdapat empat alasan utama dipilihnya kegiatan hidroponik sayuran banyak diminati masyarakat yaitu tidak membutuhkan lahan yang luas, umur panen relatif singkat, mudah perawatannya, tanaman lebih bersih dan menarik.

Hidroponik adalah sistem budidaya pertanian dengan menggunakan media tanam selain tanah. Fokus dari teknik budidaya hidroponik adalah mengoptimalkan penyerapan unsur hara dan oksigen oleh tanaman.

Terdapat enam teknik hidroponik yang saat ini banyak digunakan yaitu sistem wick (sumbu), ebb & flow (flood and drain), NFT (Nutrient Film Technique), Water culture (rakit apung), drip (nutrisi diberikan secara tetes ke akar tanaman), aeroponic (nutrisi diubah dalam bentuk kabut).

Sistem NFT dapat dikembangkan di lahan terbatas maupun untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan, kendala pada sistem ini adalah pada penyediaan listrik dan biaya pembuatannya yang relatif mahal.

Pada sistem NFT aliran nutrisi dan oksigen bersirkulasi terus menerus selama 24 jam, dengan kontrol sistem dan pemberian nutrisi yang tepat, teknik ini memungkinkan tanaman cepat panen dengan hasil optimal.

Informasi selengkapnya dapat dilihat di sini.

Sumber: Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi

Manfaat Pohon Ketapang

Pohon ketapang merupakan jenis tanaman tropis yang gampang dijumpai di Indonesia. Pohon ini juga menjadi pilihan untuk ditanam di pekarangan. Batangnya yang tinggi lurus ditambah daun rindang membuat pohon ini cukup teduh.

Pohon dengan nama ilmia Terminalia catappa ini sebenarnya merupakan tanaman pantai. Pohon ketapang memiliki ciri khas yang melebar dan bertajuk-tajuk. Daunnya berbentuk oval seperti telur dengan ujung membundar.

Warna daun ketapang yang hijau kerap menjadi kemerahan ketika hendak gugur. Pohon ketapang juga memiliki bunga dengan ukuran kecil dan berkuntum pada ujung-ujung ranting.

Selain faktor estetik, banyak alasan kenapa pohon ketapang harus ditanam di pekarangan rumah. Segudang manfaat pohon ketapang bisa didapatkan mulai bagian daun hingga batangnya.

Daun dan kulit pohon ketapang kerap digunakan sebagai bahan untuk membuat pewarna hitam dan tinta.

Manfaat pohon ketapang juga dirasakan oleh para penggemar ikan hias. Daun ketapang bisa dimanfaatkan untuk menetralkan pH dari air sehingga lebih ideal untuk memelihara ikan khususnya ikan cupang.

Di bagian batangnya, kayu pohon ketapang memiliki warna merah bata hingga cokelat pucat. Teksturnya yang cukup keras cocok digunakan sebagai material lantai kayu dalam pembangunan rumah. Kendati demikian, kualitasnya tak sebaik kayu meranti namun memiliki harga yang jauh lebih murah.

Manfaat pohon ketapang lainnya terdapat pada bagian biji. Biji pohon ketapang bisa dikonsumsi sebagai pengganti biji kenari dan almond. Biji ketapang berkhasiat untuk menstabilkan gula darah, mencegah oksidasi berbahaya, dan menurunkan tekanan darah.

Bentuknya yang indah dengan segudang manfaat membuat pohon ketapang menjadi tanaman yang populer di masyarakat. Pohon ketapang biasanya menjadi pilihan untuk melengkapi pekarangan atau halaman rumah karena tajuknya yang lebar dan rindang. Bentuk ini membuat rumah menjadi lebih teduh.

Jika ingin menanam pohon ketapang di pekarangan rumah salah satu hal yang perlu menjadi catatan adalah sifatnya yang suka menggugurkan daun. Dengan demikian, perlu alokasi waktu khusus untuk membersihkan daun yang berguguran. Apalagi daun pohon ketapang berukuran cukup besar.

Nah, itulah beberapa manfaat pohon ketapang selain menjadi penghijauan dan penghias pekarangan rumah. (adm)

Sumber: https://www.suara.com/lifestyle/2021/06/30/192253/manfaat-pohon-ketapang-cocok-ditanam-di-pekarangan-rumah?page=all

Sumber: Suara.com

Cara Pengoperasian Power Thresher

Persiapan Operasi

1. Periksa Silinder Perontok

Periksa jarak antara gigi rotor dan gigi stator, pastikan tidak terjadi pergeseran/tumbukan, dengan cara melepas V-belt dari mesin penggerak kemudian drum perontok diputar dengan tangan untuk melihat celah antara gigi rotor dan gigi stator, Periksa kekencangan baut-baut dan mur pada gigi rotor dan stator.

2. Periksa Motor Penggerak

Periksa jumlah bahan bakar dan minyak pelumas dari motor penggerak. Periksa kekencangan baut-baut dan mur dari motor penggerak, Coba hidupkan motor penggerak atau dijalankan tanpa beban

 

Untuk Pemipilan Jagung

Gantilah saringan dengan saringan khusus untuk jagung (jarak lubang lebih besar), dengan cara membuka tutup atas kemudian melepaskan baut-baut pengikat sarangan dan menariknya keluar. Pasanglah saringan khusus untuk jagung pada tempat saringan semula.

Pasang juga corong masuk khusus untuk jagung pada bagian lubang pengumpanan, dan kencangkan dengan baut-baut.

 

Memulai Operasi

Motor penggerak dihidupkan dengan putaran lambat kira-kira 3 menit, kemudian putaran silinder perontok dinaikkan perlahan dengan mempercepat putaran mesin. Putaran motor penggerak diatur hingga mencapai 600-650 RPM

Padi/kedelai/jagung dimasukkan ke dalam corong pengumpanan secara normal dan teratur, jika tidak, akan mengakibatkan putaran rotor tidak stabil dan akan timbul suara yang tidak normal, selanjutnya dapat terjadi macet/berhenti.

 

Saat Beroperasi

Padi/kedelai/jagung akan ditarik oleh gigi-gigi perontok yang berputar di sekeliling gigi-gigi stator. Jerami akan terpotong karena putaran rotor terhadap stator, tongkol jagung dan polong kedelai akan hancur

Jerami yang terpotong/tongkol atau polong kedelai yang hancur akan terlempar keluar melalui saluran pengeluaran kotoran. Padi/kedele/jagung yang telah dirontokkan akan jatuh melewati separasi.

Butir-butir isi dipisahkan dari butir-butir hampa, potongan jerami dan kotoran ringan lainnya dengan bantuan hembusan blower dan selanjutnya dilempar keluar melalui saluran buang.

 

Beberapa Hal yang Perlu Diperhatikan

Panjang batang/jerami maksimum 45 cm untuk gabah dan 55 cm untuk kedelai, jika terlalu panjang beban mesin terlalu berat dan hasilnya akan kurang bersih

Ketegangan V-belt harus cukup, untuk itu periksalah ketegangan V-belt sebelum mesin dihidupkan

Apabila gabah/kedele/jagung masih bercampur dengan potongan jerami atau kotoran lainnya, mungkin gabah/kedele/jagung belum cukup kering. Hentikan proses perontokkan, tunggulah jerami/tangkai agak kering, supaya hasil perontokkan lebih bersih.

Apabila banyak terdapat gabah terlempar keluar lewat saluran pengeluaran, berarti sarangan tertutup dengan jerami basah. Matikan mesin penggeraknya, buka tutup rotornya dan berihkan sarangannya.

Apabila terjadi kemacetan yang disebabkan terlalu banyak pemasukan batang padi/kedele/jagung. Matikan mesinnya, buka tutup rotornya bersihkan drum perontok dari batang padi/kedele/tongkol jagung.

Apabila terdengar suara-suara yang tidak normal di dalam mesin perontok, matikan mesin penggeraknya, cari penyebabnya dan segera perbaiki. 

 

 

Sumber: Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian

Jenis Sapi Perah yang ada di Indonesia

Ada 2 jenis sapi perah yang dipelihara di Indonesia yaitu sapi Friesien Holstein (FH) dan Sapi Jersey.

Sapi peranakan Friesian Holstein (PFH) dikenal dengan ciri warna bulu belang hitam dan putih, mempunyai ukuran tubuh besar dan beratnya hampir sama dengan sapi FH.  Produksi susu sekitar 15-20 liter per hari. Sifatnya tenang dan jinak. Sapi jenis ini lebih tahan panas jika dibandingkan dengan sapi FH, sehingga lebih cocok di daerah tropis. Mudah beradaptasi di lingkungan barunya. 

Sapi Jersey  ditandai dengan warnanya yang tidak seragam, ada yang berwarna kuning sampai hitam. Tanduk menjurus ke atas dengan berat badan sapi dewasa jantan  625 kg dan betina  425 kg. Produksi susu 2.500 liter/ laktasi. Badan  Sapi  Jersey  adalah  terkecil diantara bangsa sapi  perah lainnya. Sapi Jersey lebih tahan panas. Kemampuan merumput (Grassing) bagus.

Untuk mendapatkan sapi perah yang unggul dapat dilakukan dengan melihat 4 faktor yaitu:

Genetic atau keturunan: Bibit sapi perah harus berasal dari induk dan pejantan unggul.

Bentuk ambing: Ambing yang baik besar, pertautan antara otot kuat dan memanjang sedikit ke depan, serta puting normal, tidak lebih dari 4.

Eksterior atau Penampilan: Secara keseluruhan proporsional, tidak kurus dan tidak terlalu gemuk, kaki berdiri tegak dan jarak antara kaki kanan dan kaki kiri cukup lebar baik kaki depan maupun belakang), serta bulu mengkilat. Perlu diketahui, besar tubuh tidak menentukan jumlah susu yang dihasilkan serta tidak menentukan ketahaan terhadap penyakit.

Umur Bibit: umur bibit sapi perah betina yang ideal adalah 1,5 tahun dengan bobot sekitar 300 kg. Sementara itu, umur pejantan 2 tahun dengan bobot badan sekitar 350 kg. (REP)

Sumber: Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan

Apa itu Bioflok?

Bioflok adalah salah satu teknologi budidaya ikan, yakni suatu teknik budidaya melalui rekayasa lingkungan yang mengandalkan pasokan oksigen dan pemanfaat mikroorganisme yang secara langsung dapat meningkatkan nilai kecernaan pakan.

Prinsip dasar bioflok adalah mengubah senyawa organik dan anorganik yang terdiri dari kabon, oksigen, hidrogen, dan nitrogen menjadi massa sludge berbentuk bioflok. Perubahan tersebut dilakukan dengan memanfaatkan bakteri pembentuk gumpalan sebagai bioflok.

Teknik ini populer di kalangan peternak lele dan nilai karena mampu menggenjot produktivitas panen yang lebih tinggi. Selain itu, metode bioflok juga menekan penggunaan lahan menjadi tidak terlalu luas dan hemat air.

Oleh sebab itu, bioflok menjadi solusi efektif untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat serta menjadi cara ekonomis bagi para pebisnis bidang perikanan.

Produktivitas Naik

Penerapan sistem bioflok melalui rekayasa lingkungan dengan mengandalkan suplai oksigen dan pemanfaatan mikroorganisme mampu menjadikan hasil panen melonjak tiga kali lipat dibanding sebelumnya.

Jika kita perbandingkan dengan budidaya sistem konvensional yang menerapkan metode padat tebar 100 ekor/m3, dimana memerlukan waktu 80 hingga 110 hari untuk panen. Maka untuk sistem bioflok dengan padat tebar 500-1000 ekor/m3 hanya memerlukan waktu panen 75 hingga 90 hari saja.

Disamping itu, inovasi teknologi budidaya ikan ini juga membuat penggunaan pakan lebih efisien. Misalnya pada metode budidaya konvensional nilai Feed Convertion Ratio (FCR) rata-rata sekitar 1,5 maka dengan teknologi bioflok Feed Convertion Ratio (FCR) dapat mencapai 0,8 hingga 1,0.

Artinya, untuk menghasilkan 1 kg daging ikan pada sistem konvensional memerlukan sekitar 1,5 kg pakan. Sedangkan dengan metode bioflok, hanya memerlukan 9,8 hingga 1,0 kg pakan ikan.

Di berbagai daerah, bioflok terbukti efisien dibanding sistem konvensional, bahkan meningkatkan produktivitas lebih dari 3 kali lipat. Contohnya pada kolam dengan rata-rata padat tebar 1.000 ekor/m3 dengan ukuran diameter 3 meter, maka dapat ditebar sekitar 3.000 ekor benih lele.

Dari jumlah tersebut, dapat menghasilkan lele konsumsi mencapai 300 kg hingga 500 kg per siklus panen (75-90 hari). (LQ)

 

 

Sumber: Rimbakita