Tahukah Anda

No 1-5 dari 215

Cara Pengoperasian Power Thresher

Persiapan Operasi

1. Periksa Silinder Perontok

Periksa jarak antara gigi rotor dan gigi stator, pastikan tidak terjadi pergeseran/tumbukan, dengan cara melepas V-belt dari mesin penggerak kemudian drum perontok diputar dengan tangan untuk melihat celah antara gigi rotor dan gigi stator, Periksa kekencangan baut-baut dan mur pada gigi rotor dan stator.

2. Periksa Motor Penggerak

Periksa jumlah bahan bakar dan minyak pelumas dari motor penggerak. Periksa kekencangan baut-baut dan mur dari motor penggerak, Coba hidupkan motor penggerak atau dijalankan tanpa beban

 

Untuk Pemipilan Jagung

Gantilah saringan dengan saringan khusus untuk jagung (jarak lubang lebih besar), dengan cara membuka tutup atas kemudian melepaskan baut-baut pengikat sarangan dan menariknya keluar. Pasanglah saringan khusus untuk jagung pada tempat saringan semula.

Pasang juga corong masuk khusus untuk jagung pada bagian lubang pengumpanan, dan kencangkan dengan baut-baut.

 

Memulai Operasi

Motor penggerak dihidupkan dengan putaran lambat kira-kira 3 menit, kemudian putaran silinder perontok dinaikkan perlahan dengan mempercepat putaran mesin. Putaran motor penggerak diatur hingga mencapai 600-650 RPM

Padi/kedelai/jagung dimasukkan ke dalam corong pengumpanan secara normal dan teratur, jika tidak, akan mengakibatkan putaran rotor tidak stabil dan akan timbul suara yang tidak normal, selanjutnya dapat terjadi macet/berhenti.

 

Saat Beroperasi

Padi/kedelai/jagung akan ditarik oleh gigi-gigi perontok yang berputar di sekeliling gigi-gigi stator. Jerami akan terpotong karena putaran rotor terhadap stator, tongkol jagung dan polong kedelai akan hancur

Jerami yang terpotong/tongkol atau polong kedelai yang hancur akan terlempar keluar melalui saluran pengeluaran kotoran. Padi/kedele/jagung yang telah dirontokkan akan jatuh melewati separasi.

Butir-butir isi dipisahkan dari butir-butir hampa, potongan jerami dan kotoran ringan lainnya dengan bantuan hembusan blower dan selanjutnya dilempar keluar melalui saluran buang.

 

Beberapa Hal yang Perlu Diperhatikan

Panjang batang/jerami maksimum 45 cm untuk gabah dan 55 cm untuk kedelai, jika terlalu panjang beban mesin terlalu berat dan hasilnya akan kurang bersih

Ketegangan V-belt harus cukup, untuk itu periksalah ketegangan V-belt sebelum mesin dihidupkan

Apabila gabah/kedele/jagung masih bercampur dengan potongan jerami atau kotoran lainnya, mungkin gabah/kedele/jagung belum cukup kering. Hentikan proses perontokkan, tunggulah jerami/tangkai agak kering, supaya hasil perontokkan lebih bersih.

Apabila banyak terdapat gabah terlempar keluar lewat saluran pengeluaran, berarti sarangan tertutup dengan jerami basah. Matikan mesin penggeraknya, buka tutup rotornya dan berihkan sarangannya.

Apabila terjadi kemacetan yang disebabkan terlalu banyak pemasukan batang padi/kedele/jagung. Matikan mesinnya, buka tutup rotornya bersihkan drum perontok dari batang padi/kedele/tongkol jagung.

Apabila terdengar suara-suara yang tidak normal di dalam mesin perontok, matikan mesin penggeraknya, cari penyebabnya dan segera perbaiki. 

 

 

Sumber: Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian

Jenis Sapi Perah yang ada di Indonesia

Ada 2 jenis sapi perah yang dipelihara di Indonesia yaitu sapi Friesien Holstein (FH) dan Sapi Jersey.

Sapi peranakan Friesian Holstein (PFH) dikenal dengan ciri warna bulu belang hitam dan putih, mempunyai ukuran tubuh besar dan beratnya hampir sama dengan sapi FH.  Produksi susu sekitar 15-20 liter per hari. Sifatnya tenang dan jinak. Sapi jenis ini lebih tahan panas jika dibandingkan dengan sapi FH, sehingga lebih cocok di daerah tropis. Mudah beradaptasi di lingkungan barunya. 

Sapi Jersey  ditandai dengan warnanya yang tidak seragam, ada yang berwarna kuning sampai hitam. Tanduk menjurus ke atas dengan berat badan sapi dewasa jantan  625 kg dan betina  425 kg. Produksi susu 2.500 liter/ laktasi. Badan  Sapi  Jersey  adalah  terkecil diantara bangsa sapi  perah lainnya. Sapi Jersey lebih tahan panas. Kemampuan merumput (Grassing) bagus.

Untuk mendapatkan sapi perah yang unggul dapat dilakukan dengan melihat 4 faktor yaitu:

Genetic atau keturunan: Bibit sapi perah harus berasal dari induk dan pejantan unggul.

Bentuk ambing: Ambing yang baik besar, pertautan antara otot kuat dan memanjang sedikit ke depan, serta puting normal, tidak lebih dari 4.

Eksterior atau Penampilan: Secara keseluruhan proporsional, tidak kurus dan tidak terlalu gemuk, kaki berdiri tegak dan jarak antara kaki kanan dan kaki kiri cukup lebar baik kaki depan maupun belakang), serta bulu mengkilat. Perlu diketahui, besar tubuh tidak menentukan jumlah susu yang dihasilkan serta tidak menentukan ketahaan terhadap penyakit.

Umur Bibit: umur bibit sapi perah betina yang ideal adalah 1,5 tahun dengan bobot sekitar 300 kg. Sementara itu, umur pejantan 2 tahun dengan bobot badan sekitar 350 kg. (REP)

Sumber: Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan

Apa itu Bioflok?

Bioflok adalah salah satu teknologi budidaya ikan, yakni suatu teknik budidaya melalui rekayasa lingkungan yang mengandalkan pasokan oksigen dan pemanfaat mikroorganisme yang secara langsung dapat meningkatkan nilai kecernaan pakan.

Prinsip dasar bioflok adalah mengubah senyawa organik dan anorganik yang terdiri dari kabon, oksigen, hidrogen, dan nitrogen menjadi massa sludge berbentuk bioflok. Perubahan tersebut dilakukan dengan memanfaatkan bakteri pembentuk gumpalan sebagai bioflok.

Teknik ini populer di kalangan peternak lele dan nilai karena mampu menggenjot produktivitas panen yang lebih tinggi. Selain itu, metode bioflok juga menekan penggunaan lahan menjadi tidak terlalu luas dan hemat air.

Oleh sebab itu, bioflok menjadi solusi efektif untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat serta menjadi cara ekonomis bagi para pebisnis bidang perikanan.

Produktivitas Naik

Penerapan sistem bioflok melalui rekayasa lingkungan dengan mengandalkan suplai oksigen dan pemanfaatan mikroorganisme mampu menjadikan hasil panen melonjak tiga kali lipat dibanding sebelumnya.

Jika kita perbandingkan dengan budidaya sistem konvensional yang menerapkan metode padat tebar 100 ekor/m3, dimana memerlukan waktu 80 hingga 110 hari untuk panen. Maka untuk sistem bioflok dengan padat tebar 500-1000 ekor/m3 hanya memerlukan waktu panen 75 hingga 90 hari saja.

Disamping itu, inovasi teknologi budidaya ikan ini juga membuat penggunaan pakan lebih efisien. Misalnya pada metode budidaya konvensional nilai Feed Convertion Ratio (FCR) rata-rata sekitar 1,5 maka dengan teknologi bioflok Feed Convertion Ratio (FCR) dapat mencapai 0,8 hingga 1,0.

Artinya, untuk menghasilkan 1 kg daging ikan pada sistem konvensional memerlukan sekitar 1,5 kg pakan. Sedangkan dengan metode bioflok, hanya memerlukan 9,8 hingga 1,0 kg pakan ikan.

Di berbagai daerah, bioflok terbukti efisien dibanding sistem konvensional, bahkan meningkatkan produktivitas lebih dari 3 kali lipat. Contohnya pada kolam dengan rata-rata padat tebar 1.000 ekor/m3 dengan ukuran diameter 3 meter, maka dapat ditebar sekitar 3.000 ekor benih lele.

Dari jumlah tersebut, dapat menghasilkan lele konsumsi mencapai 300 kg hingga 500 kg per siklus panen (75-90 hari). (LQ)

 

 

Sumber: Rimbakita

Kacang Tanah Sumber Pangan Sehat dan Penuh Manfaat

Kacang tanah sangat dekat dengan konsumsi pangan kita sehari-hari. Mulai dari berbagai macam kudapan (snack) kacang rebus, kacang garing, kacang atom, sampai dengan minyak dan tempe kacang. Kacang tanah mengandung bahan-bahan yang sangat dibutuhkan untuk menunjang kesehatan tubuh manusia, antara lain:

• Kaya protein. Dengan kandungan protein 26-28% konsumsi kacang tanah sekali makan (25 g) dapat memberi sumbangan protein 12% dari angka kecukupan gizi (AKG) per hari. Kadar protein kacang tanah lebih tinggi daripada telur, susu, dan daging.

• Menyimpan energi lebih lama. Kacang tanah mempunyai indeks glisemik rendah. Tenaga yang dihasilkan dari kacang tanah dilepaskan ke sistem peredaran darah secara berangsur-angsur dan stabil. Oleh karena itu kadar gula darah akan naik secara perlahan, sehingga kita merasa kenyang dan bertenaga lebih lama.

• Bebas kolesterol. Sekitar 82% lemak kacang tanah terdiri atas asam lemak tidak jenuh, terutama asam oleat dan linoleat. Konsumsi kacang tanah dapat membantu menurunkan sintesis kolesterol di dalam tubuh dan mengurangi kadar trigliserida di dalam darah, yang merupakan salah satu penyebab penyakit jantung.

• Serat alami tinggi. Kacang tanah mengandung serat lebih tinggi. Serat makanan berperan penting dalam mengurangi resiko terserang kanker, pengendalian kolesterol, dan kadar gula darah.

• Mencegah serangan kanker dan penyakit jantung. Kacang tanah mengandung antioksidan (beta-sitosterol dan reversatrol) yang terbukti mampu menekan pertumbuhan kanker dan mengurangi resiko penyakit jantung.

• Meningkatkan kekebalan tubuh. Kacang tanah juga mengandung kadar arginin tinggi, yaitu asam amino yang berguna untuk mencegah serangan jantung dan kanker, memperkuat kekebalan tubuh, memperkuat perkembangan otot, mempercepat penyembuhan luka, mengurangi rasa letih dan menyembuhkan

impotensi.

• Membantu mengurangi berat badan. Kacang tanah merupakan sumber tenaga yang lebih baik karena kaya protein, minyak dan karbohidrat. Karena kandungan asam lemak tidak jenuhnya yang tinggi, kacang tanah sering dimanfaatkan sebagai komponen diet untuk mengurangi berat badan, juga untuk diet penderita diabetes. Hasil penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa mengkonsumsi kacang tanah lima kali takaran yang dianjurkan (25 g) atau lebih dalam satu minggu dapat mengurangi resiko terserang penyakit diabetes jenis II hingga sepertiganya.

• Kandungan vitamin dan mineral esensial yang tinggi. Kacang tanah mengandung banyak vitamin dan mineral yang diperlukan oleh tubuh diantaranya : Asam folat, Vitamin E, Niasin, Thiamin (Vitamin B1), Vitamin B6, Riboflavin (Vitamin B2), Tembaga, Fosfor, Magnesium, Besi, Kalium, Seng, Kalsium.

Sumber: Balitbangtan/SinarTani

Faktor-faktor Penting Dalam Kegiatan Pemanenan Padi Menggunakan Alsintan

1. Derajat kekuatan, panjang dan ketahanan dari jerami. Ciri-ciri ini sangat mempengaruhi terhadap proses pemotongan dan pengiriman dengan alat konveyor. Jerami yang kaku dan keras dapat mengakibatkan kemacetan, dalam pemotogan dan pengaliran keperontok, jika panenan ini dilakukan oleh mesin. Begitu juga besar pengaruhnya bagi perontokan oleh silinder perontok. Jerami yang panjang dapat memudahkan perontokan secara manual, akan tetapi dalam mesin perontok dalam mesin panen akan menyebabkan kemacetan dan kebutuhan tenaga yang lebih besar untuk memprosesnya.

2. Varietas padi. Varietas padi yang mudah rontok merupakan masalah dalam hal panenan dengan mesin. Hal ini karena getaran dan ketumpulan dari pisau pemotong, serta perlakuan lainnya dari mesin dapat menyebabkan rontoknya gabah dari malainya.

3. Ukuran, kadar air dan ketahanan biji-bijian (contoh: gabah). Faktor ukuran biji-bijian menentukan ukuran lubang-lubang dari concave dari perontok, sedangakan kadar air besar pengaruhnya terhadap rendemen beras utuh. Gabah yang kandungan airnya tinggi (banyak kandugnan airnya) dapat menyebabkan tingginya persentase gabah yang pecah atau rusak karena pukulan dalam unit perontok. Ketahanan biji-bijian terhadap perlakuan yang diberikan oleh bagian-bagian dari mesin dapat mempengaruhi mutu dari biji-bijian.

4. Iklim. Musim hujan dan musim kering sangat mempengaruhi kadar air dari gabah dan jerami. Kadar air gabah menentukan waktu panen yang tepat. Sedangkan kadar air jerami besar pengaruhnya dalam proses perontokan dan pemotongan oleh pisau.

5. Keadaan Lapang (sawah). Terutama dalam pemakaian mesin panen, kandungan air dari tanah perlu dipertimbangkan. Tanah yang kering akan menahan efisiensi kerja dari mesin panen, sedangkan tanah yang berlumpur sering menyebabkan kemacetan operasi sehingga kapasitas kerjanya rendah.

6. Tingkat kemajuan wilayah dan sosial, yang berkaitan dengan penerapan alat dan mesin pertanian (mekanisasi pertanian) dan kemungkinan-kemungkinan pengenalan teknologi baru.

Sumber: Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian