Tahukah Anda

No 16-20 dari 221

Apa itu Biopori?

Biopori adalah “lubang sedalam 80-100cm dengan diameter 10-30 cm, dimaksudkan sebagi lubang resapan untuk menampung air hujan dan meresapkannya kembali ke tanah” ( Menurut Ir. Kamir R. Brata, Msc dari Institut Pertanian Bogor, 2008) .Biopori memperbesar daya tampung tanah terhadap air hujan, mengurangi genangan air, yang selanjutnya mengurangi limpahan air hujan turun ke sungai.

Menurut  Griya (2008), ada beberapa manfaat biopori bagi lingkungan, antara lain; (1) Mencegah banjir. Bayangkan apabila setiap rumah, kantor atau tiap bangunan memiliki biopori berarti jumlah air yang segera masuk ke tanah tentu banyak pula dan dapat mencegah terjadinya banjir;

Lalu (2) Tempat pembuangan sampah organik. Banyaknya sampah menjadika masalah tersendiri di kota besar. Dengan adanya biopori, Kita dapat membantu mengurangi masalah ini dengan memisahkan sampah rumah tangga (sampah organik dan non organic), kemudian kita dapat membuang sampah organik kedalam lubang biopori yang telah dibuat;

Selanjutnya (3) Menyuburkan tanaman. Organisme dalam tanah  dapat membuat sampah menjadi kompos yang bisa gunakan sebagai pupuk bagi tanaman di sekitarnya; dan (4) Meningkatkan kualitas air tanah.

 

Sumber: Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian

Bedakan Jenis Jeruk dari Bentuk Daun

Seperti kita ketahui, terdapat berbagai jenis jeruk yang ada di dunia khususnya di Indonesia yaitu pamelo, manis, siam, dan keprok. Tipikal daun jeruk pamelo dan jeruk manis memiliki sayap daun, helaian daun berbentuk bulat telur. Daun jeruk pamelo lebih lebar dibandingkan daun jeruk manis.  

Daun jeruk keprok dan siam tidak memiliki sayap daun, helaian daun jeruk siam lebih besar dibandingkan denga jeruk keprok. Helaian daun jeruk keprok berbentuk bulat telur memanjang, eliptis dengan ujung tumpul, melekuk sedikit ke dalam/bergelombang.

 

Sumber: Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika

Persyaratan Lahan dan Bibit untuk Pengoperasian Transplanter Jajar Legowo

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menyiapkan lahan dan bibit untuk pengoperasian transplanter jajar legowo:

1. Kondisi Lahan 

Syarat agar alsin transplanter dapat berfungsi dengan baik adalah lahan dalam keadaan melumpur sempurna. Penyiapan lahan agar melumpur sempurna dilakukan dengan 2 kali pembajakan dan diikuti dengan 1 kali penggaruan kemudian didiamkan sekitar 3 hari. Genangi lahan yang sudah melumpur sempurna setinggi + 2 cm dan diamkan minimal selama 3 hari. Ukur hardpan tanah yang terbentuk dengan cone index penetrometer atau secara mudah injak tanah yang sudah siap tanam dan ukur kedalaman kaki yang tenggelam. Kedalaman ukuran kaki yang tenggelam < 25 cm.

2. Kondisi Persemaian dan Bibit

Penyemaian bibit dilakukan dengan kotak persemaian/dapog. Dapog adalah tempat tumbuhnya bibit padi yang ditanam secara acak dengan cara ditabur pada media tumbuh untuk disemaikan. Ukuran dapog untuk alsin Jarwo Transplanter mempunyai lebar 18,3 cm dan panjang sekitar 58 cm. Cara penyemaian dapog dapat dilakukan langsung di lahan basah (sawah) ataupun di pekarangan rumah. Kebutuhan benih per dapog persemaian adalah 90-100 gram. Tebal/tanah media tumbuh yang dibutuhkan untuk persemaian yaitu 2–3 cm. Umur bibit yang dapat ditanam berkisar 15 – 20 hari setelah semai (hss). Tinggi bibit yang disarankan mencapai 150 – 200 mm.

Sumber: Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian

Mengenal Pala Hutan Aceh Selatan

Pala hutan di Aceh Selatan banyak ditemukan di areal perbukitan dan diidentifikasi sebagai Myristica schifferii Warb. Pohon dengan tinggi tanaman dapat mencapai 20 meter. Buahnya berbentuk bulat sampai agak lonjong. Warna kulit buah muda kehijauan, dan pada buah yang telah tua kulit buah berwarna kecokelatan.

Ukuran tanaman, daun, buah dan biji pala hutan aceh lebih besar dari buah/biji pala pada umumnya. Biji diselimuti arilus bewarna jingga terang saat matang, atau warna arilus krem kekuningan saat masih muda. Penutupan arilus pada buah padat dan rapat sehingga biji tidak kelihatan. Buah, arilus dan biji tidak bersifat aromatik.

Buah dan fuli bila dipegang agak bergetah dan cenderung agak lengket. Belum ada penggunaan secara tradisional buah, biji dan fuli pala hutan untuk kesehatan oleh masyarakat setempat. Namun biji pala hutan dimanfaatkan oleh petani setempat sebagai batang bawah disambung dengan pala budidaya.

Disinyalir penggunaan pala hutan sebagai batang bawah untuk mendapatkan tanaman tahan terhadap serangan jamur akar putih, selain mendorong pertumbuhan tanaman lebih cepat besar. Penggunaan pala hutan sebagai batang bawah ini perlu dikaji lebih lanjut pengaruhnya terhadap mutu buah dan biji sebelum dikembangkan di areal yang lebih luas.

Sumber: Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Tanah Podsolik

Tanah podsolik adalah tanah yang terbentuk karena curah hujan yang tinggi dan suhu yang sangat rendah, dan juga merupakan jenis tanah mineral tua. Jenis tanah ini umumnya  berwarna kekuningan dan kemerahan.

Warna tanah podsolik mengindikasikan kesuburan tanah yang relatif rendah. Warna kuning dan merah disebabkan oleh besi dan aluminium yang teroksidasi. Mineral liat di tanah ini didominasi oleh silikat dan tersebar di daerah pegunungan di Sumatra, Kalimantan, Jawa Barat, Maluku, Papua dan Nusa Tenggara.

Di area ini, tanah podsolik biasanya dijadikan kebun. Beberapa tanaman yang sering menggunakan tanah Podsolik adalah kelapa, karet, jambu mete, dan kelapa sawit.

Ciri-ciri tanah podsolik:

•       Berasal dari bahan induk batuan kuarsa yang berada di zona iklim basah yang memiliki curah hujan antara 2500  hingga 3000 mm/tahun.

•       Mempunyai sifat yang mudah basah.

•       Mengalami pencucian hara dan ion lainnya yang disebabkan oleh air hujan.

•       Dapat dimanfaatkan untuk persawahan dan juga perkebunan.

•       Memiliki tekstur tanah berlempung dan juga berpasir.

•       pH rendah.

•       Mempunyai unsur aluminum yang tinggi dan juga besi yang tinggi.

 

Sumber: Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian