Tahukah Anda

No 211-215 dari 221

Pacing Atasi Masalah Saluran Kemih

Pacing (amomum arboreum Lour) termasuk tumbuhan herba yang banyak hidup di daerah tropis. Tumbuhan ini bukan hanya hidup liar, tapi juga sering dijadikan tanaman hias di pekarangan. Tempat tumbuhnya pacing lebih banyak di tempat-tempat lembab dan teduh. Pacing ini dikenal memiliki sedikit racun dan bersifat asam. Khasiatnya adalah sebagai peluruh kencing. Kandungan kimia tadi ternyata termasuk bahan baku obat kontrasepsi. Karena itu, wanita hamil dan penderita pencernaan lemah dilarang menggunakannya sebagai obat. Bahan baku untuk obat tradisional dari pacing adalah rimpangnya. Bagian ini bisa digunakan untuk infeksi saluran kemih, nyeri buang air kemih, air kemih sedikit. Pengobatan dalam dilakukan dengan merebus atau menghaluskan (lalu direbus atau diseduh) pacing dengan bahan lainnya. Airnya disaring, lalu diminum. Pengobatan dalam dengan cara ini ditujukan pada penyakit air kemih sedikit dan penyakit saluran air kemih lainnya.

Sumber: Republika Online, Selasa 30 September 2003

Pohon Merah Melancarkan ASI

Selama ini masyarakat Indonesia lebih mengenal tumbuhan katuk yang memiliki khasiat melancarkan dan memperbanyak air susu ibu (ASI). Ternyata bukan hanya katuk, pohon merah (Euphorbia pulcherrima) juga memiliki khasiat melancarkan ASI. Pohon merah memiliki nama daerah godong racun (Jawa). Tumbuhan ini berkayu, bercabang, dan bergetah seperti susu. Sifat kimia dan efek farmakologis tanaman ini adalah pahit, sepat, sejuk, sedikit beracun. Berkhasiat melancarkan pengeluaran air susu ibu (galaktagog). Menurut Prof Hembing dalam bukunya Ensiklopedi Milenium: Tumbuhan Berkhasiat Obat Indonesia, pohon merah bisa digunakan sebagai obat untuk pemakaian luar dan pemakaian dalam. Pemakaian dalam adalah untuk melancarkan ASI. Cara melancarkan ASI, ambil sebanyak 10 gram bunga lalu dicuci kemudian direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 200 cc. Setelah dingin airnya diminum.

Sumber: Republika Online, Selasa 10 September 2002

Pulai Atasi Demam

Pohon ini banyak tumbuh liar di hutan dan ditanam di perkebunan untuk bahan baku pensil. Pohon ini berkayu ringan, tidak keras, bingkas, dan tak ada galih kayunya. Pada pohon ini terdapat banyak getah. Getahnya itu berwarna putih. Bila dirasa, getahnya sangat pahit seperti cautchouc. Rasa pahit itu didapatkan pula dari akar, kulit batang, dan daunnya. Ternyata, getahnya itu banyak mengandung kimia. Pada bagian pohon ini terdapat bahan yang sudah diketahui antara lain alkaloida berupa ditamine, ditaine, dan echi-kaoetchine. Pada kulit batang, terdapat kandungan saponin, flavonoida, dan polifenol. Sedangkan, untuk zat pahitnya terdapat kandungan echeretine dan echicherine. Untuk kulit batangnya, pulai bermanfaat untuk mengatasi demam. Cara penggunaannya adalah dengan merebus kulit batang pulai yang dicampur dengan bahan lainnya. Air rebusannya itu disaring dan diminum sekaligus. Daunnya pun punya manfaat yang banyak. Dengan merebus daun pulai dan bahan lainnya bisa mengobati malaria. Jenis pulai yang sering digunakan adalah pulai waluh.

Sumber: Republika Online, Selasa 02 September 2003

Rimpang Alang-alang Pengganti Asetosal

Siapa tak kenal alang-alang? Tanaman yang mudah tumbuh dan liar ini ternyata banyak sekali manfaatnya. Tak ada yang menduga sebelumnya, di dalam rimpang alang-alang terkandung imperanene yang ternyata mempunyai efek menghambat agregasi trombosit (sel pembeku darah) sesuai hasil penelitian para ahli dari universitas di Jepang. Efek menghambat agregasi trombosit ini sama dengan efek yang ditimbulkan oleh asetosal (asam asetil salisilat) yang digunakan untuk mencegah pembekuan darah pada penderita infark jantung. Bahan lain yang terkandung, yaitu Cylendrene mempunyai aktivitas menghambat kontraksi pembuluh darah pada otot polos, sehingga sirkulasi darah tetap lancar. Dan Graminone B menghambat penyempitan pembuluh darah aorta (pembuluh darah terbesar).

Sumber: Republika Online, Selasa 01 April 2003

Sidaguri Meringankan Asam Urat dan Rematik

Khasiat sidaguri ini didapatkan dari kandungan kimiawi di dalamnya, yaitu alkaloid, kalsium oksalat, tanin, saponin, fenol, asam amino, minyak terbang, dan zat philegmatic Pada batangnya mengandung tanin dan kalsium oksalat. Pada akarnya pun terdapat kaloid, steroid dan efedrine. Dalam pengobatan tradisional, bagian yang digunakan adalah seluruh bagian tumbuhan dengan kondisi segar atau dikeringkan. Pada pemakaian dalam, tumbuhan Sidaguri dapat digunakan untuk mengobati rematik. Gunakan 60 gram Sidaguri direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc, disaring lalu airnya diminum. Menurut Ning, penggunaan obat dalam dengan sidaguri ini adalah dengan cara merebus tumbuhan ini dengan beberapa gelas air sehingga menyisakan sekitar dua sampai tiga gelas kecil air rebusan. Misalkan untuk pengobatan asam urat, air rebusan ini diminum sehari dua kali satu gelas. Satu kali rebusan, bisa untuk tiga kali minum.

Sumber: Republika Online, Selasa 18 Nopember 2003.