Tahukah Anda

No 21-25 dari 215

Jaboticaba

Jaboticaba (Plinia cauliflora (Mart.) Kausel) atau anggur pohon, berasal dari istilah ‘Tupi term, jabotim, for turtle’ yang berarti ‘like turtle fat’, yang mungkin merujuk pada istilah bubur buah. Tanaman anggur pohon dibudidayakan oleh petani di wilayah selatan Brasil.

Buah ini biasanya panen satu hingga dua kali dalam satu tahun, memerlukan waktu 5 – 6 bulan untuk proses pertumbuhan dan satu bulan untuk proses pengerasan (hardening) sebelum tanaman cukup kuat untuk dipindahkan ke kebun.

Jaboticaba ditemukan di wilayah Barat Daya Negara Bagian Paraná (Brasil), di sebagian Hutan ‘Araucaria’. Tanaman dewasa Jaboticaba pada area ini setidaknya berjumlah 4.000 tanaman dengan rata-rata ketinggian mencapai 15 meter dan diameter 41 cm.

Tanaman jaboticaba banyak dibudidayakan di kota Casa Branca di State of São Paulo (Brasil) yang tercatat terdapat lebih dari 41.000 tanaman. Di Brasil jaboticaba bekembang mulai daerah tepi pantai sampai dengan ketinggian 3000 kaki. Di California, Jaboticaba sukses berkembang di San Diego, Spring Valley, Bostonia, Encitasm Los Angeles Selatan, San Jose dan San Fransisco.

Tren mengoleksi anggur pohon di Indonesia bermula saat terdengar kabar ada kebunnya di Taiwan. Sebanyak 50 Plinia cauliflora ditanam Pan Liang Hwa di Chou Zhou, Ping Tung, Taiwan, di lahan seluas 4,3 ha.

Sejak itu banyak penangkar berburu bibit ke berbagai negara. Kisaran tahun 2010 diketahui ada anggur pohon berumur lebih 100 tahun di Kebun Raya Cibodas, Cianjur. Tanaman itu diduga sebagai asal tanaman-tanaman bonsai Jaboticaba di Indonesia.

Anggur pohon di Indonesia dikembangkan oleh kolektor-kolektor buah sebagai bahan bonsai, landscaping, dan produksi buah hanya 1-50 tanaman dan tersebar di berbagai daerah.

Kebun Jaboticaba yang terbanyak jumlah tanamannya pada tahun 2010 ada di Blitar sebanyak 3.500 tanaman, dan di Bandung 1.000 tanama. Namun demikian, sampai dengan saat ini belum ada info lebih lanjut tentang pengembangan anggur pohon ini.

Sumber: Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika

Mengenal Komponen Utama Combine Harvester dan Fungsinya

Combine harvester adalah salah satu tipe mesin panen yang kegiatan memotong, memegang, merontok dan membersihkan dilakukan sekaligus. Mesin combine harvester dioperasikan oleh dua orang operator, satu operator bertugas untuk mengendalikan mesin combine harvester, operator yang lain bertugas memegang karung pada saat memasukkan gabah ke dalam karung.

Tipe combine harvester berdasarkan cara perontokannya dibagi menjadi dua macam, yaitu tipe whole feeding dimana semua hasil potongan (jerami dan padi) masuk kedalam bagian perontokan (thresher). Tipe whole feeding digunakan untuk memanen gandum, kemudian berkembang dan diadopsi untuk memanen padi, serta tipe Head feed type combine harvester, mesin panen padi dimana hanya bagian malainya yang masuk ke dalam bagian perontok (thresher) sedangkan jerami dijepit oleh bagian pembawa (conveying).

Bagian-bagian dari Combine Harvester  dan fungsinya :

Header Unit, terdiri atas pengarah (reel guide) dan pisau pemotong (cutter bar). Reel guide atau pengarah batang padi berfungsi untuk mengarahkan batang padi ke sistem pemotong (cutting), selain itu memegang batang padi supaya dalam posisi tegak selama proses pemotongan. Komponen pengarah ini sangat membantu dalam keberhasilan proses pemotongan batang padi. Sedangkan pisau pemotong (cutter bar) berfungsi sebagai memotong batang padi. Pisau yang digunakan dirancang khusus agar mampu menahan gaya pantulan yang ditimbulkan oleh batang padi.

Conveyor Unit, berfungsi untuk membawa hasil pemotongan batang padi ke dalam mesin perontok (thresher unit).

Komponen perontok (Thresher Unit), berfungsi untuk memisahkan antara butir gabah dari malainya. Proses pemisahan dikarenakan adanya efek tumbukan antara malai padi dengan gigi perontok pada thresher. Pada pengoperasiannya kecepatan putar drum thresher diatur antara 600-800 rpm. Hal ini untuk meminimalkan kerusakan dan kehilangan butiran gabah pada proses perontokan. Kecepatan putaran drum thresher yang lambat dapat mengakibatkan kehilangan (loss) yang tinggi karena gabah tidak terontok, sebaliknya jika drum thresher terlalu tinggi akan mengakibatkan kualitas gabah hasil rontokan yang jelek karena banyak gabah yang pecah atau patah.

Pemisah dan Pembersih (cleaner and separator) berfungsi untuk memisahkan dan membersihkan butiran gabah dengan jerami setelah proses perontokan. Proses pemisahan dilakukan untuk memisahkan biji gabah masak (mature grain) yang diinginkan dari sekam, jerami, debu dan kotoran, memisahkan biji gabah masak (mature grain) terhadap biji gabah tidak masak (immature grain). Proses pembersihan dilakukan setelah perontokan padi oleh thresher. Dengan menggunakan hembusan udara dari blower akan membersihkan butiran gabah (mature grain) dari jerami, kotoran dan butiran gabah yang tidak matang (immature grain). Untuk mendapatkan tingkat kebersihan yang baik, kecepatan putaran kipas pada blower sebaiknya sebesar 70-300 rpm dan kecepatan angin pada outlet sebesar 4-8 m/s.

Grain Output, merupakan tempat keluarnya gabah bersih hasil pembersihan di dalam cleaner dan separator.

Main Framemerupakan kerangka utama dari combine harvester tempat terpasangnya berbagai komponen-komponen combine harvester.

Transportation Unit, merupakan bagian yang berfungsi untuk beroperasinya combine harvester di lahan.

Driving Panel, bagian kontrol pengoperasian combine harvester di lahan untuk mengendalikan kecepatan, belok dan mengatur tinggi rendahnya bagian header unit.

Engine, merupakan sumber penggerak utama untuk mengoperasikan seluruh komponen-komponen combine harvester dari mulai menggerakkan transportation unit, header unit, Conveyor unit, thresher unit serta cleaner and separator.

Kanopisebagai pelindung operator dari sinar matahari.

Sumber: Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian

Kambing Kosta

Bahwa Kambing Kosta adalah salah satu kambing asli Indonesia. Artinya kambing ini adalah plasma nutfah kekayaan sumber daya genetik ternak lokal Indonesia. Habitat aslinya di Provinsi Banten dan DKI Jakarta.

Salah satu ciri khas kambing Kosta adalah terdapat motif garis yang sejajar pada bagian kiri dan kanan muka. Selain itu terdapat bulu rewos pada bagian kaki belakang namun tidak sepanjang bulu rewos pada kambing ettawa.

Diperkirakan jumlah populasinya sudah semakin terbatas dan berada diambang kepunahan. Hal ini dibuktikan dengan sulitnya mendapatkan pejantan Kosta di daerah sentra kambing tersebut.

Koservasi in-situ merupakan alternatif paling baik karena melibatkan masyarakat peternak kambing. Untuk mengoptimalisasinya, maka pemberdayaan masyarakat peternak perlu ditingkatkan melalui penyuluhan dan sosialisasi.

Saat ini di Loka Penelitian Kambing Potong mempunyai koleksi Kambing Kosta sebanyak 72 ekor.

Sumber: Loka Penelitian Kambing Potong

Lakukan Lima Hal Sebelum Anda Menggunakan Mesin Penyiang Padi (Power Weeder)

Penyiangan padi merupakan salah satu kegiatan dalam budidaya tanaman padi sawah yang berpengaruh menentukan produksi hasil pertanian. Mesin penyiang bermotor merupakan salah satu alternative cara penyiangan disamping cara-cara penyiangan yang lain (dicabit langsung dengan tangan, dengan alat landak dll). Mesin penyiang padi bermotor (Power Weeder) YA-1/20, merupakan prototype yang dirancang sedemikan rupa sehingga mampu digunakan untuk kegiatan penyiangan padi sawah sampai dengan umur 40 hari.

Cara pengoperasian cukup mudah dan ringan sehingga mampu dioperasikan oleh satu orang. Namun demikian kondisi lahan dan tanaman yang mampu disiang oleh mesin penyiang bermotor ini adalah lahan sawah dengan kedalaman lumpur tidak boleh lebih dari 20 cm (kedalaman kaki orang di dalam lumpur < 20 cm) juga jarak antar baris tanaman harus benar-benar rata dan lurus sesuai dengan jarak tanam yang ditentukan.

Lima hal yang harus diperhatikan sebelum Anda menggunakan Mesin penyiang padi (Power Weeder) supaya aman.

1. Sebelum operasi

    - Gunakan pakaian yang nyaman dan aman untuk kerja mkd, mdkd, atau mkkd

    - Pastikan kover dan pengaman pada mesin terpasang

2. Pengecekan sebelum kerja

    - Cek apakah ada komponen yang kendor, cukupkah minyak pelumas, grease dan bahan bakar serta pastikan tidak ada kebocoran

    - Perhatikan keadaan sekitar ketika anda menstart engine

    - Hati-hatilah pada saat start usahakan pada saat start cakar penyiang tidak menyentuh tanah

3. Pengecekan selama pengoperasian

   - Apabila cakar penyiang terbelit tanah dan rumput yang tebal, hentikan mesin dan bersihkan cakar tersebut

   - Apabila sudah selesai bekerja dari satu lahan ke lahan lain matikan mesin waktu pindah lokasi

   - Jangan sentuh knalpot selama mengoperasikan mesin, atau setelah mesin dimatikan

4. Bahan bakar

   - Untuk pengisian bahan bakar, matikan mesin dan tunggu sampai dising

   - Jangan nyalakan api ketika melakukan pengisian ulang atau membersihkan mesin

   - Jangan tumpahkan bahan bakar waktu melakukan pengisian, atau bersihkan bila terjadi tumpahan

   - Ikuti petunjuk pemaikan cara pencampuran bahan bakar

5. Setelah pemakaian

    - Jangan sentuh kanlpot mesin seketika setelah mesin dimatikan

    - Pada daat perbaikan atau penyeltelan, matikan mesin dan lepas kabel tegangan tinggi ke busi

    - Bila mesin ingin disimpan pada jangka waktu lama, bersihkan tiap komponen dan lamsilah dengan minyak pada komponen terbuat dari logam.

Itulah yang Lima hal yang harus diperhatikan sebelum Anda menggunakan Mesin penyiang padi (Power Weeder) supaya aman.

Sumber: Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian

Lahan Sawah Pasang Surut

Pengertian lahan sawah pasang surut adalah lahan sawah yang tergantung pada air sungai yang dipengaruhi oleh pasang surutnya air laut sebagai sumber pengairannya. Lahan jenis pasang surut ini akan mengatur jumlah air masuk ketika air laut mulai pasang biasanya pada malam hari.

Lahan sawah pasang surut ini biasanya ditemui di daerah pesisir dan lokasi tertentu seperti di Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Lahan sawah pasang surut mulai bisa ditanami pada musim kemarau dimana keadaan air akan menyusut kisaran bulan Juli sampai September. Pada Desember sampai Mei lahan tidak bisa ditanamai karena debit air akan tinggi dan sulit untuk surut karena bertepatan dengan musim hujan.

Ragam lahan sawang pasang surut antara lain lahan gambut, lahan salin, lahan sulfatmasam, juga lahan potentsial.

Lahan gambut adalah lahan yang mengandung karbon organik (organik C) jenuh air 12-18% atau tidak pernah jenuh air dengan kandungan karbon organik 10%. Beberapa macam lahan gambut dibedakan berdasarkan ciri berikut: lahan bergambut (ketebalan lapisan gambut 20-50 cm), lahan gambut dangkal (lapisan gambut 50-100 cm), lahan gambut sedang (lapisan gambut 100-200 cm), dan lahan gambut dalam (lapisan gambut 200-300 cm).

Lahan salin adalah lahan pasang surut yang terintrusi air laut selama lebih dari 3 bulan dalam setahun, kandungan natrium (Na) dalam air tanah > 8%; tipologi lahannya bisa lahan potensial, sulfat masam atau bergambut.

Lahan sulfatmasam adalah lahan yang memiliki kadar lapisan pirit atau sulfidik > 2% pada kedalaman < 50 cm. Lahan Sulfat Masam dibedakan menjadi: lahan Sulfat Masam Potensial (lapisan piritnya belum teroksidasi), lahan sulfat Masam Aktual (lapisan piritnya telah teroksidasi yang dicirikan oleh adanya horizon sulfidik dengan pH < 3,5).

Lahan Potensial adalah lahan yang masalahnya paling sedikit, terutama karena lapisan pirit (FeS) berada pada kedalaman lebih dari 50 cm.

Diolah dari berbagai sumber:

https://www.sampulpertanian.com/2017/06/pengertian-lahan-sawah-pasang-surut_7.html

https://bbpadi.litbang.pertanian.go.id/index.php/info-berita/tahukah-anda

Sumber: Balai Besar Penelitian Tanaman Padi